malam itu.

12 5 1
                                        

Tadi siang aku sempat membantu berbelanja beberapa bahan masakan hingga menata halaman belakang. Dari tadi aku tidak bisa merasa tenang karena Jungkook terus mengajak berbicara banyak hal. Dia bilang dia juga mengajak teman-teman SMA-nya termasuk Seolbi. perutku rasanya dililit tali dengan erat mendengar nama itu. bukanya aku tidak menyukai gadis lembut itu, hanya saja ada beberapa hal yang tidak dapat aku jelaskan jika melihat Seolbi berada di depanku.

kenapa daging ini sulit sekali dipotong? Jungkook yang bertugas membakar arang membuka sarung tangannya lalu merebut pisau daging dari tanganku, "seharusnya kau memotong sesuai dengan serat dagingnya, itu lebih mudah. seperti ini." aku rasa tidak mungkin Jungkook merangkap menjadi tukang masak di kapal perang atau apapun nama tempat kerjanya, tanganya sangat cekatan ketika memotong daging dengan ukuran yang sama.

"apa kau tidak berbohong tentang mengabdi di angkatan laut?" aku masih terpesona dengan keahliannya yang tidak aku ketahui ini.

dia tertawa setelah mendengar pertanyaanku, "kau ini selalu tidak bisa diduga, tentu saja itu benar. aku pernah mengambil kelas memasak sebelum masuk angkatan laut. di sana juga pertama kalinya aku bertemu dengan Seol... "

"JUNGKOOK TOLONG AKU!!" Taehyung berteriak dengan suara tinggi khas miliknya, memotong ucapan yang sempat membuat aku membeku. Semuanya teralihkan ketika melihat api membung-bung tinggi hampir membakar ranting pohon. Jungkook tidak pernah menyelesaikan ceritanya setelah hari itu, aku berusaha agar tidak terlalu memikirkanya karena aku tahu itu bukan urusanku juga. Aku punya firasat jika pertemuan mereka tidak semulus kelihatanya.

Api berhasil dimatikan dan Taehyung tidak membantu apapun lagi, semua orang takut jika dia menghancurkan sesuatu lagi,Taehyung berdiri disebelahku sambil memasukan tanganya kedalam saku, "menyebalkan, aku juga ingin membantu, yang tadi kan tidak sengaja."

"tadi itu bukan membantu tapi hampir menghancurkan, apa kau sadar sesuatu yang kau sentuh itu bisa kacau? Lebih baik kau duduk saja." tiba-tiba dia merangkulku dengan erat, "apa yang kau lakukan? Aku membawa pisau jadi menjauh sana!"

Taehyung terlihat sangat berharap ketika bertanya "apa kau merasakannya?"

"apa?"

"kenapa kau tidak terlihat kacau?" aku menghentakan tanganya dari pundakku kesal. Menodongkan pisau pada Taehyung agar dia bisa menjauh dariku, "pergi sana sebelum aku menusukmu!" ancamanku memang berhasil membuatnya menjauh, hanya saja raut kecewanya benar-benar tidak pada tempatnya, seperti seseorang baru saja meninju ulu hatinya dengan keras. Dia itu memang selalu aneh, lebih baik aku abaikan saja dia.

Ibu Jungkook bilang aku tidak usah ikut membantu lagi karena sudah membantu dari tadi siang. Dengan senang hati aku memberikan semua pekerjaanku pada orang lain dan giliranku untuk beristirahat sambil mendengarkan orang-orang yang bercerita tentang banyak hal di meja panjang halaman belakang ini, sayang sekali Yoongi tidak bisa ikut acara ini dia itu sangat ahli dalam memasak daging seperti ini. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang teman-teman Jungkook candakan, aku hanya memperhatikan semua orang satu persatu cara mereka tertawa, cara mereka menanggapi, atau cara mereka menatapku... Tunggu, siapa itu?

Taehyung menatapku dengan pandangan sulit dibaca, aku menaikan alis merasa terganggu dengan yang dilakukan Taehyung padaku. Saat seseorang disebelahnya menyenggol Taehyung sambil tertawa, baru Taehyung mengalihkan perhatiannya dan aku bisa bernapas lega. Sejak kapan aku menahan napas? Ya ampun, pipiku pasti memerah. Aku segera meminum air putih didepanku untuk menetralisir perasaanku.

"waah~ bintang utamanya sudah datang!" gadis dengan kawat gigi yang dari tadi paling banyak bercerita menunjuk seseorang dari arah pintu masuk halaman belakang, pria disebelahku saling sikut dengan temanya sambil berbisik, "aku kira hubungan mereka sudah selesai karena Jungkook akan pergi dalam waktu lama."

"apa kau tidak pernah dengar? Ada rumor yang mengatakan jika bukan itu alasan mereka ingin berpisah."

Si pria entah siapa namanya yang memulai percakapan ini menimpal dengan semangat, "iya, aku pernah dengar. Seolbi yang tidak ingin menikah itu, ya?"

Apa?

Sial, aku jadi menguping pria-pria tukang gosip menyebalkan. Aku ingin mengguyur mereka dengan air minum yang aku pegang, hanya saja akan terjadi keributan memalukan. Ini kan acara teman baik ku tidak mungkin aku mengacaukanya karena terpancing emosi dengan alasan dangkal. Setauku sudah ada pertemuan dua keluarga untuk membicarakan tentang hal ini. Jadi aku tidak punya alasan mempercayai gosip picisan yang beredar luas diantara teman-teman Jungkook.

Seolbi duduk di meja paling ujung berdampingan dengan Jungkook tersenyum hangat pada semua orang, mendadak saja semua perhatian tertuju pada Seolbi. Aku merasa seperti kupu-kupu kecil di film princess disney. Mungkin analoginya terdengar aneh, tapi aku benar-benar merasa rendah diri diantara banyak orang seperti ini apalagi adanya Seolbi, benar kata si gadis kawat gigi tadi. Dia bintangnya.

Ketika aku sibuk dengan pikiran 'dimana Seolbi membeli anting-anting cantik itu?' dan 'cat kuku itu, bagaimana bisa mengecatnya dengan rapih?' Seseorang berbisik di telingaku pelan, "sebaiknya kau tidak disini sekarang, ayo keluar sebentar ada yang ingin aku bicarakan." melihat raut serius dari Taehyung aku putuskan untuk mengikutinya.

Setelah menjauh dari sorak-sorai dari halaman belakang Taehyung menghentikan langkahnya sambil meremas pundakku pelan, "ini sangat sulit bagiku tapi aku tahu kau akan lebih kesulitan lagi, aku terpaksa mengatakan ini." aku ingin mengamuk pada Taehyung karena ucapan melanturnya, tapi entah kenapa tenagaku menghilang begitu saja.

Aku... Tidak baik.

###

Ini gue tulis hapus tulis hapus sampe lama banget buat publish, entah kenapa kalo work gue mau abis suka jadi hati-hati :", maaf telat banget.

Aera And Her WorldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang