Chapter 11

65 20 1
                                    

“Cukup Kata Maaf Saja (1)”

1 april 2019, di lapangan (09.12)

“Kalian terlambat yah,” ucap Paijar yang sedang menunggu di tengah lapangan.

“Kalian yang tidak memberitahu kami kapan pertarungan akan berlangsung,” Abil kesal.

“Lupakan. Sekarang siapa yang ingin melawan Paijar?” tanya Cici.

“Aku… biarkan aku, membakarmu Paijar,” ucap Rifki yang berjalan memasuki arena pertarungan.

“Hm hm… bagaimana jika aku makan saja semua api lucumu itu?” tanya Paijar.

“Terserah,” jawab Rifki.

Sebelumnya mereka sudah berjanji agar tidak saling membunuh, hanya sampai membuat lawan jatuh pingsan saja. Dan peraturan lainnya adalah mereka hanya boleh menggunakan serangan dengan skala penggunaan yang kecil, jadi serangan api hitam yang dilakukan Gina sebelumnya tidak boleh dipakai.

Pertarungan dimulai dengan Rifki yang menembakkan sebuah bola api pada Paijar. Paijar menahan bola api itu dengan dinding penetral sihirnya, namun api itu malah menjalar dan hampir membakar tangannya.

“Sombong lagi? Ingat yah… aku ini pengendali api… bukan pembuat api,” ucap Rifki dengan api-api yang mengelilingi dirinya.

“Hm… jadi aku hanya perlu menghabiskan pasokan apimu kan?” tanya Paijar sembari membuka telapak tangannya dan menunjukkan telapaknya itu pada Rifki.

“Ya… coba saja!” Rifki melepaskan serangan panah api berturut-turut.

Satu, dua, tiga serangan berhasil di hindari Paijar, namun tiba-tiba ditengan banyaknya panah api yang mengarah pada Paijar, Rifki mengiris pipi Paijar dengan pedang apinya. Pipi paijar terlihat terbakar, ia meringis kesakitan.
Tapi seperti tidak puas, Rifki dengan cepatnya kembali menyerang Paijar, tapi serangan itu berhasil dihindari.

Rifki menyerang dari arah depan, ia mengganti senjatanya menjadi tombak. Bukannya menghindar, Paijar malah berlari mendekati Rifki, lalu dengan cermatnya ia memasukkan sesuatu ke dalam baju Rifki walau efeknya ia terkena panasnya api itu.

“Kau sudah berantakan sekarang,” ucap Rifki.

“Dan nanti kau yang akan jatuh loh,” Paijar tersenyum licik.

“Apa maksudmu?!” Rifki kembali menghunuskan tombaknya namun seketika tombak itu hilang.

“Kau tau? Sebenarnya tadi aku memasukkan batu penyerap tenaga ke dalam bajumu,” ucap Paijar yang membuat Rifki terkejut.

“Jadi perlahan energimu aku hisap… dari sekarang,” ucap Paijar sembari mengepalkan tangannya, dan Rifki terlihat kesakitan.

“Agh… apa yang kau…” Rifki mulai merasakan sakit yang luar biasa.

“Aku tidak akan membunuhmu kok. Kan aturannya memang begitu… tapi aku hanya ingin kau menderita saja,” ucap Paijar yang diiringi rasa sakit Rifki.

“Biadab,” umpat Rifki.

Melihat hal itu Puan tidak mau tinggal diam. Namun ketika Puan ingin menolong Rifki ia malah terjatuh dan wajahnya seperti habis melihat sesuatu yang tidak baik.

“Puan! Kau kenapa?!” tanya Zakyah.

“Kalian ini… jangan ikut campurlah. Atau harus kuberi kalian mimpi buruk baru kalian akan diam saja?” tanya Cici.

“Ternyata itu hanya halusinasi yang kau buat yah,” ucap Puan.

“Iya, dan asal kau tau… aku tidak mau pertarungan ini terganggu, maka aku pasang pelindung yang membuat siapapun dengan niat ingin masuk ke dalam situ mendapatkan bayangan terburuk yang tidak pernah ia bayangkan,” jelas Cici.

Incredible FamilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang