Beberapa bulan kemudian......
Karisa POV
Tahun ajaran baru memang membuatku sibuk. Aku sudah naik ke kelas tiga, tapi masih di sibukkan dengan berbagai perlombaan dan kegiatan sekolah.
Reza makin lengket saja dengan pacarnya. Bahkan kebiasaan dia menghubungiku sudah tidak ada lagi. Hanya seperlunya, iya dia datang saat ada perlu.
Termasuk saat aku harus ikut dengannya ke Jogja. Frekuensi kita bertemu juga jarang. Jarak kelas yang jauh. Ditambah, sebentar lagi ia akan pensiun dari tim futsal sekolah.
Tapi semua itu tidak mengurangi perasaanku dengannya. Semuanya mengalir dengan bodoh. Saat mencintai tidak seindah di film. Saat mencintai begitu menyakitkan.
Mas Oscar teman baruku juga jarang bisa menghubungiku. Katanya dia sibuk untuk Praspa. Katanya, praspa itu semacam wisuda untuk seorang taruna.
Nah iya, manusia tipis itu adalah seorang taruna akademi militer. lulus dan menjadi tentara angkatan darat.
Aku jadi ingat Pakde Hardi yang di Bandung. Dia juga seorang tentara. Dia sering memperbaiki pesawat milik tentara. Kisah cintanya dengan budhe juga klasik ala jaman dulu. Ayah budhe Tutik adalah pelatih Pakde Hardi saat di angkatan udara. Sering bertemu jadi makin cinta.
Bicara tentang Mas Oscar, Minggu lalu dia mengajakku untuk bertemu. Tapi ia meminta bertemu di Magelang. Karena tidak bisa ke Jogja.
Tetap saja, aku tidak bisa. Pasti Bapak tidak akan mengizinkan. Karena aku tidak memiliki SIM. Biarlah aku tidak bertemu temanku satu itu.
Tapi akhirnya aku memberanikan diri meminta izin Bapak untuk beranjak ke Magelang.
Maka dari itu kami sepakat untuk bertemu di tempat pertama kita berjumpa. Kali ini aku berani berangkat sendiri. Dengan mengendarai motor. Sepanjang jalan aku selalu berfikir dan membayangkan.
Betapa indahnya jika aku bisa bersama Reza. Seorang yang selalu ada untukku dulu. Dia pernah bilang, kalau aku adalah sahabat terbaiknya. Bisakah naik satu level lagi?
Aku sampai di Magelang tepat pukul dua lebih sebelas menit. Lebih lama dua puluh menit dari perkiraan di google maps. Ia bilang akan datang pukul tiga.
Aku menunggu di dekat Masjid sambil menunggu waktu ashar tiba. Wow ternyata, aku hanya memakan waktu dua di sini. Dan nampaknya ini menjadi kali pertama aku berani pergi sejauh ini sendiri.
Menunggu cukup lama sampai dia datang. Seperti biasa,ia tidak sendirian. Ia bersama satu teman yang sudah ketemui sebelumnya.
"Maaf menunggu lama. Sudah shalat?" Aku menggeleng.
"Silahkan sholat dulu, saya tunggu di sini." Aku segera mengambil wudhu. Satu temannya juga bergerak sama denganku. Kulihat dia masih terus menatap lekat ke arahku.
Dia masih duduk di tempat yang sama saat aku selesai sholat.
"Mau jalan ke sana?" Aku mengikuti arah yang ia tunjuk. Sebuah gardu pandang. Dari sana kita bisa melihat hamparan hijau, aku yakin jika malam hari akan terlihat indah.
"Gimana kabarnya Sa?" Tanyanya.
"Baik Alhamdulillah, kamu gimana?" Dia mengangguk.
"Sa" panggilnya
"Iya?"
"Ada yang mau saya omongin." Aku mengangguk.
"Ngomong aja nggakpapa mas." Aku menunggu.
Oscar mengeluarkan satu baris Yakult dari tas jinjing yang ia bawa. Ada tulisan akademi militer di depannya.
"Saya mau wisuda beberapa waktu lagi sa. Kamu bisa datang?" Aku terkekeh. Tidak yakin pasti hari sekolah.
"Kapan?" Tanyaku
"Di minum." Perintahnya. Aku mengangguk, ragu untuk membuka botol kecil Yakult ini. Deg-degan coy rasanya kaya mau minum racun. Seorang Karisa Amanda nggak bisa minum susu-susuan.
"Pertengahan bulan." Aku bersandar pada dinding gardu pandang.
"Nggak janji ya bisa datang aku kan sekolah." Jawabku. Dia tersenyum.
"Nggak papa. Yang penting doanya ya Sa.
"Iya mas. Ku doakan buat mas Oscar sukses selalu." Ia mengacak rambutku.
"Sa, pernah enggak tertarik sama orang saat pandangan yang pertama?"
"Pernah, tapi udah lalu lewat aja mas. Namanya juga tertarik." Ucapku.
"Oke. Kalau cinta?" Aku menggeleng.
"Cuman obsesi sesaat mungkin mas. Mending di pastikan. Kan masalah hati, kalau udah kecebur ya sulit untuk naik ke permukaan." Ucapku sok puitis.
"Saya suka sama orang sa. Tertarik, tapi entah ini hanya obsesi atau beneran Cinta." Aku menepuk pundaknya.
"Pastiin dulu mas. Perempuan hatinya kecil, kalau udah sakit mau di sembuhkan juga susah." Candaku.
"Apa hati kamu udah sembuh sa?" Aku tertawa di angin.
"Nggak tahu aku mas. Entah gimana nanti nasib hatiku ini. Tak jalani sajalah, urusan besok ya biar besok." Benar. Nasib hatiku esok entah siapa yang tahu.
"Jangan menggenggamnya terlalu erat. Pasir kalau kamu genggam erat malah jatuh. Nggak akan ada di gengaman sa. Begitu pula dengan perasaan dan hati. Terlalu erat genggamannya semuanya makin melepas."
🌻🌻🌻
Sudah ada sarang laba laba
Sedikit nyesek saat melanjutkan cerita ini wkwkw
KAMU SEDANG MEMBACA
Intuisi
Novela JuvenilHatiku berkata, aku ingin mengenalnya. Aku selalu suka semuanya, senyumnya, hidungnya. Apalagi saat jilbabnya tertiup angin dan menutup sebagian wajahnya. Diam-diam aku sering melihatnya saat bersujud dan berdoa pada Tuhannya. Ia akan terlihat semak...
