SUDAH DITERBITKAN OLEH NOVELINDO PUBLISHING
Seperti arti dari sebuah nama. Tingginya 175 cm, bersinar karena prestasinya dalam bidang basket, suka makan seblak mercon dan mempunyai fans club namun sayangnya tomboy.
Cecilia Bintang menganggap sahabat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 19 Agustus 08.55 a.m.
Bintang gelagapan lalu berusaha melerai mereka. Sementara Galaxy terpekur mentapnya. “Jadi bener Kakak pacaran sama cowok ini? Udah tiga tahun lalu? Terus kita apa Kak?”
“Ha?” tanya Bintang tidak paham walau setelah lama mencerna kejadian ini.
Hati Galaxy benar-benar sakit. Niatnya ke sini untuk menjemput dan kencan. Bahkan menurut Zhardian yang ahli dalam percintaan, Bintang sendiri yang secara tidak langsung mengajaknya, tapi apa yang didapatkannya? Fakta bahwa Cecilia Bintang telah memiliki pacar selama tiga tahun? Lalu ke mana saja pacarnya selama ini? Kenapa tidak menampakkan batang hidungnya?
Apa ini yang namanya karma karena melawan Aira?
Ngomong-ngomong, Galaxy merasa Bintang jauh lebih cantik dan manis dengan penampilannya sekarang ini. Mengenakan baju floral marun—sama dengan kaus yang dia kenakan—kombinasi putih dan kuning sebahu yang bagian pundaknya menggembung. Dipadukan celana kain putih selutut dan ikat pinggang cokelat terang kecil serta rambutnya yang dikepang satu. Di tambah sepatu kets, tas selempang hitam sederhana yang berukuran mini dan topi tampak cocok untuk Bintang. Ada bagian feminim tapi tetap menonjolkan sisi tomboy-nya. Membuat gadis itu tampak memesona. Sayang sekali dandanan tersebut bukan diperuntukkan dirinya, melainkan untuk abang saingan beratnya ini alias sang pacar.
Duh gimana dong mang Uung?
Lain halnya dengan Galaxy yang emosi, ketegangan di wajah laki-laki dewasa itu sudah sirna digantikan smirksmile. Dia juga sudah melepaskan cekalan kaus Galaxy. Jelas saja, pasti sudah merasa menang karena Bintang memelilihnya. Ya, Galaxy tahu arti dari raut wajah itu.