SUDAH DITERBITKAN OLEH NOVELINDO PUBLISHING
Seperti arti dari sebuah nama. Tingginya 175 cm, bersinar karena prestasinya dalam bidang basket, suka makan seblak mercon dan mempunyai fans club namun sayangnya tomboy.
Cecilia Bintang menganggap sahabat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Puncak, 6 Agustus 15.30 p.m.
Villa yang mereka sewa berlantai dua dengan balkon luas menghadap kebun teh dan halaman berumput dikelilingi beberapa pohon sebatas pagar yang terletak di belakang lantai satu. Sebenarnya ada kolam renang tidak terlalu besar yang terletak di lantai dua. Tapi siapa yang akan berenang dalam keadaan cuaca dingin seperi ini kalau bukan Elsa Frozen atau pinguin Madagaskar?
Fasilitasnya pun cukup lengkap. Ada beberapa kamar yang dibagi dan muat untuk menampung semua anggota tim. Komposisinya, lantai satu untuk pelatih, asisten dan tim putra, sedangkan yang di lantai dua untuk tim putri.
Ada dapur yang langsung menghadap halaman belakang dan beberapa kamar mandi berair hangat serta ruang TV. Selain itu villa ini sebagian besar berdinding kaca. Jadi bisa melihat hamparan kebun teh yang menyejukkan mata.
Siang menjelang sore, beberapa anggota tim putra membantu pelatih beserta aistennya untuk persiapan api unggun nanti malam. Sementara yang putri berkutat dengan urusan perdapuran, seperti menyiapkan bahan makanan yang akan dibakar dan minuman hangat.
Namun itu tentu tidak berlaku pada Bintang. Gadis itu masih betah bergumul dengan selimut tebal di salah satu kamar yang muat tiga orang. Kebetulan kamar itu memiliki jendela menghadap taman belakang. Jadi ketika melihat ke luar, tampaklah anggota tim putra bergotong royong membuat api unggun.
“Tang, bantuin kita dong. Jangan tidur mulu ih!” Yola yang kebetulan sekamar dengan Bintang menggunjang tubuh dibalik selimut itu.
Bukan alasan gadis tomboy itu tidak ingin membantu. Sebenarnya dia masih berusaha mencerna kejadian tadi. Sungguh, Galaxy benar-benar membuatnya merasakan berjuta perasaan. Campuran antara terkejut, marah, malu, gugup, berdebar tanpa alasan dan lain sebagainya. Namun beruntungnya pemilik iris cokelat terang itu tidak peka, sehingga Bintang bisa segera bergegas masuk villa.