SUDAH DITERBITKAN OLEH NOVELINDO PUBLISHING
Seperti arti dari sebuah nama. Tingginya 175 cm, bersinar karena prestasinya dalam bidang basket, suka makan seblak mercon dan mempunyai fans club namun sayangnya tomboy.
Cecilia Bintang menganggap sahabat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 8 Agustus 15.30 p.m.
“Hal yang paling dasar dari basket itu cara lo megang bola Kiddo.” Setelah berhasil meredam kekesalannya, akhirnya Bintang mulai menerangkan sambil memraktikkan. “Pegang bolanya kayak gini, use your fingers to feeling the ball.”
Galaxy mengikuti Bintang memegang bola menggunakan jari-jemarinya. “Kayak gini Kak?” tanyanya sambil menunjukkannya pada gadis itu.
“Iya bener kayak gitu, terus pantulin kayak gini.” Berikutnya Bintang memantulkan bola basket sekali ke lantai tanpa memutus pandangannya pada Galaxy. Tangan kirinya menunjuk bola yang dia pantulkan. “Coba lakuin kayak gue.”
Adik kelas itu pun melihat bola yang di pegang sendiri untuk kemudian di pantulkan sekali.
Dung ....
“Bentar Kiddo, jangan kayak gitu. Udah gue bilang pake jari lo buat gerakin dan ngatur pantulan bolanya. Jangan pake semua telapak tangan lo. Lo dendam banget kayaknya ama tuh bola. Kasihan tahu bolanya lo pukul kayak gitu.”
“Ya enggak Kak.” Galaxy tersenyum. Atas perintah Bintang, dia mencoba memantulkan bolanya tadi sesuai instruksi.
Dung ....
Dung ....
Dung ....
“Iya bener kayak gitu! Lo keren Kiddo, lo cepet belajar!”
Tunggu sebentar, apa yang baru saja Bintang katakan? Galaxy keren?
Galaxy yang mendengar sedikit pujian itu kontan menghentikan kegiatannya. Membuat bola yang tadinya terarah jadi bergelinding entah ke mana.