Anggota Bendera Pelangi

748 19 0
                                        

"sialan si Ara berani beraninya sama gue!" Cecar Anne.

Jalannya begitu tergesa gesa, tangan yang dikepal erat menandakan dia sangat marah hari ini. Andara alias Ara yang membuat suasana hati Anne berubah 180 derajat.

Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan kosong yang penuh dengan bangku bangku lapuk, bola matanya bergulir kiri kanan mencari sesuatu entah seseorang.

"Ko!" Panggil Anne saat dia menemukan sesuatu yang dicarinya, Niko.

Niko menoleh kearah sumber suara, alisnya terangkat sebelah saat melihat Anne menendang sebuah meja di depannya.

"Kenapa?"
"Lo udah ngomong kan sama si Ara soal kelanjutan rencana kita?"

"Si Ara ngebatalin gitu aja!"

Brak..
Telapak tangan Niko otomatis menampar meja yang tengah didudukinya. Rahannya mengeras.

"Kenapa?" Tanyanya kesal.

"Gara gara Rean?" Tanya lagi.

Anne mengambil nafas dalam, rahangnya mengeras mengingat ucapan Ara tadi. Lalu dia mengangguk pertanda mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan Niko.

"Sialan!"

***

Rean bersenandung, matanya menatap langit yang kini mulai mereda, senyum manisnya terus terukir di wajah tampannya. Sesekali dia tertawa ringan ketika terbanyang kejadian tadi pagi. Untuk sekarang status bukan prioritas, yang Rean inginkan hanyalah Ara kembali percaya padanya.

"Gila ya lu!" Protes Rean ketika dirinya tersungkur di lantai, wajahnya berubah seketika menjadi masam, bayangan Ara terhapus seketika.
Bola matanya menatap tajam kearah sang pelaku, tatapan elang yang membuat pelaku bergidik ngeri.

"Lo yang gila!" Bela pelaku.

"Ngajak ribut lo Do!"

"Gue lagi enak enak bayangin kejadian tadi pagi!" Protes Rean

Edo sang pelaku mengerinyitkan alisnya, memandangi Rean keheranan.

"Lo kan tadi pagi nganter gue berak!"

"Sinting ya lo!"

"Gue gak nyangka yan, Lo ternyata salah satu anggota bendera pelangi." Ujar Edo ketakutan, kakinya ia pundurkan beberapa langkah, menjauhi Rean yang masih terduduk di lantai.

Bola mata Rean membulat saat suara Edo sampai di gendang telinganya, dia  langsung mengubah posisi, berjalan mendekati Edo yang terus berjalan mundur.

"Yan  please yan, gue masih demen cewe." Melas Edo.

Tapi dasar Rean, dia malah terus melanjutkan aksinya, mengerjai Edo karena ulahnya sendiri.
Rean berjalan terus mendekat, kini Edo telah terpojok di sudut tembok, tangan Ryan ia tempelkan di tembok, menghalangi Edo untuk kabur.

"Yan..."

"Astaghfirullah Rean!" Pekik Edo saat Rean meraba dagu Edo, dagu yang begitu seksi.

Edo memejamkan matanya, dia pasrah. Tangan dan kakinya lemas.

"Allahuakbar, Rean.." melas Edo lagi saat dia merasakan deruan nafas Rean semakin terasa.

"Sadar yan!"

"Ngucap, astaghfirullah..."

"BU MUS!!"

Rean membalikan badannya, melihat kondisi sekitar. Ah tapi dasar,dia telah tertipu, Edo berhasil melarikan diri. Rean tertawa lepas saat melihat Edo lari terbirit-birit.

MANTANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang