Kita bertiga sedang asik menikamati waktu istirahat di kantin. Kalian udah tau kan pasti siapa aja kita bertiga? Siapa lagi kalo bukan Gue, Ressa, dan Uli. Gue enggak masalah sama mulut tukang nyinyir yang ngatain kita bertiga itu, enggak pandai bergaul temennya cuma itu-itu aja, enggak mau sosialisasi sama yang lain.
Gue yakin orang-orang kayak gini, belum pernah dapat temen yang bener-bener bisa deket, yang ngasih rasa luar biasa nyaman yang buat kita sampai males kalo harus cari temen yang baru. Tempat dimana kita bisa nuangin segala keluh kesah, bisa ngungkapin apa yang kita rasa tanpa ada sandiwara, pokoknya tempat kita bisa jadi gila tanpa sedikitpun mikirin rasa malu.
"Makanan datang!," seru Ressa membawa sebuah nampan yang berisi makanan.
"Kok cuma dua?" Tanya Uli saat melihat nampan yang hanya berisi dua mangkuk bakso. Padahal kita kan bertiga masa baksonya cuma dua mangkuk.
"Hehehe. Gue mau coba diet," ujar Ressa sembari memberi cengirannya. Cengiran yang menurut Gue mirip kuda.
"Hah? Serius Lo diet Res? Gila! Kesambet setan apa Lo? Bisa gonjang-ganjing ini dunia perkulineran." Dengan ekspresi yang sangat berlebihan Uli menanggapi Ressa. Emang sih denger Ressa yang mau diet itu kayak sebuah kemustahilan buat kita. Ressa itu enggak bisa dipisahkan sama yang namanya makanan, dikit-dikit kerjaannya nyari makan, camilan juga enggak pernah ketinggalan. Lagian, buat apa juga Ressa diet, biarpun banyak makan dia tetap langsing tuh. Anugerah banget pokoknya.
"Iyalah serius!," jawab Ressa seraya menganggukan kepalanya mantap.
"Ngapain diet segala? Lo udah langsing gini."
"Buat latihan Le. Siapa tau beberapa tahun ke depan Gue jadi gendut, makanya Gue latihan diet dari sekarang. Kan Gue jadi udah biasa diet tuh, nantinya enggak kaget." Jawaban Ressa buat Gue menggelengkan kepala takjub. Bener-bener luar biasa. Gue curiga ini salah satu dari dampak kita menjalani misi rahasia beberapa waktu lalu, kita kan buat banyak banget rencana. Nah Ressa jadi kebiasaan, makanya dia buat perencanaan yang matang saat suatu saat nanti badan dia jadi gendut. Bahkan sekarang dia mulai melakukan persiapan.
"Cepet makan Le! Bentar lagi bel masuk," ucap Uli dengan tetap fokus memakan baksonya. Dengan segera Gue makan bakso yang mulai mendingin. Bener kata Uli sebentar lagi bel masuk kelas.
Tepat Gue selesai menghabiskan semangkuk bakso, bel masuk kelas berbunyi. Dengan segera kita membayar pada kasir kantin. Dan pergi menuju kelas.
Ini jam pelajaran Bu Tria, guru yang kita suka sekaligus kita hindari. Kita suka Bu Tria karena cara mengajarnya yang asik dan enggak bikin bosen. Sedangkan yang enggak kita suka, Bu Tria sering ngebongkar masalah para muridnya di kelas. Ampun malu banget itu!
"Ale! Bantuin Gue ngambil buku di perpustakaan." Baru aja masuk kelas. Dino udah ngajak Gue keluar buat ngambil buku.
"Ayo!" Gue sama Dino semakin dekat. Kita kembali seperti dulu, sebelum Dino menjauh tanpa Gue tau penyebabnya. Sekarang Dino juga deket sama temen-temen Gue.
"Buku yang mana No?" Tanya Gue saat kita sampai di perpustakaan.
"Itu yang di atas meja. Udah disiapain sama Bu Tria."
Kita berdua berjalan ke arah meja yang di atasnya terdapat tumpukan buku. Setelah membagi buku menjadi dua bagian, kita kembali dengan masing-masing membawa satu bagian.
"Le. Kabar Kak Leo gimana?" Tanya Dino tiba-tiba.
"Mana Gue tahu."
"Lo udah enggak berhubungan sama dia lagi?"
"Enggak," jawab Gue singkat. Gue emang udah enggak berhubungan lagi sama Kak Leo. Kita bener-bener lost contact. Kak Leo emang masih sering main ke rumah Gue. Tapi tujuan yang udah beda, kalo dulu seringnya buat nyamperin Gue, sekarang buat nyamperin Bang Nando.
"Syukur kalo gitu," gumam Dino yang sayangnya masih bisa Gue dengar.
"Syukur kenapa?"
"Lo denger?" Dino keliatan kaget Gue tanya begitu. Pasti dia ngira Gue enggak dengar apa yang dia ucapin tadi.
"Dengerlah. Kan Gue enggak budek!" Dino hanya tersenyum menanggapi Gue.
Sampai di kelas ternyata Bu Tria udah ada di sana. Beliau sudah mulai mengajar. Menjelaskan sedikit materi sembari menunggu buku yang Gue sama Dino ambil sampai.
"Permisi Bu," ucap Dino dengan sopan saat akan memasuki kelas.
"Lama amat sih kalian. Pacaran dulu ya?" Komentar Bu Dino. Emang sih kita berdua itu lama sampai ke kelasnya. Tapi ya jelas bukan karena kita pacaran kita lebih asik ngobrol di sepanjang jalan. Sampai enggak sadar langkah kaki kita melambat. Gue yang bisanya males banget ngobrol sama Dino, akhir-akhir ini jadi sering ngobrol bareng dia. Enggak tau sejak kapan ngobrol sama Dino jadi seasik ini.
Selesai membagikan buku ke masing-masing murid yang ada di kelas ini Gue kembali duduk di bangku. Mendengarkan penjelasan Guru. Sambil sesekali mencatat materi yang dianggap penting. Padahal semuanya penting! Lah yang Gue catet Cuma setengah lembar.
"Pada ngantuk ya?" Tanya Bu Tria.
"Enggak Bu," jawab kita sekelas serempak. Di jam pelajaran Bu Tria Gue jarang banget ngantuk, yang ada Gue kebanyakan ketawa karena lawakannya disela-sela pelajaran.
"Yaudah kalo enggak ngantuk kita lanjutin. Padahal kalo ada yang ngantuk mau Ibu beliin bakso super biar matanya melek," ucap Bu Tria. Yang langsung mendapat sorakan. Coba aja tadi ada yang bilang ngantuk, pasti bakal disuruh nyanyi sambil goyang di depan kelas. Bukan dibeliin bakso super.
30 menit kemudian pelajaran selesai.
"Sebelum Ibu tutup, Ibu mau kasih saran khusus buat Dino. Mana yang namanya Dino?" Dino mengangkat tangannya. Bu Tria tersenyum menatap Dino.
"Cepat kasih ungkapin perasaan kamu No. Kayaknya dia juga jomblo kan? Siapa tau nanti mau jadi pacar kamu. Kan lumayan Ibu bisa minta traktiran."
"Siap laksanakan Bu!" Jawab Dino dengan lantang.
"Sekian Ibu akhiri, assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh."
"Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh."
Dino menghampiri Gue. Dia duduk di bangku depan Gue yang kebetulan kosong karena pemiliknya yang pergi ke toilet.
"Nanti istirahat ke dua temuin Gue di taman belakang ya. Sendiri aja, jangan ajak temen-temen Lo."
"Buat apa?"
"Nanti juga Lo tahu sendiri. Pokoknya harus dateng! Enggak boleh enggak!" Dino berlalu gitu aja. Gue bingung, buat apa Dino nyuruh Gue ke taman? Mau di suruh cabut rumput atau tanam bunga?
***
Give me vote and coment
Lampung, 25 juni 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
EXPECT (Complete)
Teen FictionBagaimana jika kalian ada di posisi Ale? Yang selalu di beri harapan tapi tak kunjung di beri kepastian. Ale yang terus berjuang agar mendapat status yang jelas. Hingga tiba saat semua nya terlihat jelas. Saat Ale mendapat semua jawaban yang selama...
