BAB 10 | Ayo Olahraga, Kebo!

150 27 4
                                        

"Oi, kebo barbar! Lo mau tidur sampe malam?!"

Suara gaduh seseorang yang menggedor-gedor pintu kamar membuat Sem menggeliat malas di atas kasurnya.

"Suara cowok?" sentak Sem ketika dia menyadari sesuatu. Di rumah ini hanya ada dia, bunda, dan ayahnya. Tidak mungkin ayah bicara seperti itu.

"Susah ya bangunin dia, Ki? Maklum aja, kalau weekend emang gitu." Terdengar suara bunda yang ditambah sedikit kekehan.

"Ki? Ki siapa?" pikir Sem masih sambil mengumpulkan nyawanya.

"Ya itulah, Bun. Nggak kebayang gimana bunda bangunin kebo ini tiap hari."

"Friski?!" Sem langsung terduduk kaget. Yang barusan itu jelas sekali suara teman didikannya.

"Nggak gitu juga, kok. Ya udah, bunda tinggal dulu, ya. Semangat bangunin kebonya!" ujar bunda sambil menepuk punggung si anak jangkung di depannya dan beranjak ke dapur. Tinggi Friski sama dengan Arzi, 182 cm, bunda Sem malah lebih pendek dari Sem-nya.

Friski hanya membalas dengan tersenyum ramah, lalu melanjutkan aktivitasnya menggedor pintu kamar Sem.

"Sem, bangun! Lo nggak mati, kan?"

"Gue masih napas, jerapah!" balas Sem kelimpungan dari dalam kamarnya.

Tampang bangun tidurnya memang menggenaskan. Rambut sebahu yang tebal dan hitam itu tampak acak-acakan tidak karuan. Belum lagi wajahnya yang sembrautan dan bajunya yang kusut karena kebanyakan gerak saat tidur. Dan kini dia beralih metatap kasur queen size-nya yang juga sudah tidak berbentuk.

"Awas lo, Ki! Gara-gara lo gue harus mandi di pagi minggu kayak gini," kesal Sem.

Ini masih jam tujuh, biasanya di hari libur seperti ini Sem akan memulihkan tenaga dengan tidur berjam-jam.

"Cepat turun! Ayah dan bunda udah nungguin lo sarapan," titah Friski, kemudian dia berlalu menuruni tangga. Kamar Sem memang berada di lantai dua rumah ini.

Mendengar ucapan Friski, Sem jadi tersenyum karena teringat sesuatu.

***

Satu tahun lalu.

"Kamu siapanya anak saya?" intimidasi ayah Sem saat Friski pertama kali datang ke rumah tutornya itu.

Saat itu penampilan Friski benar-benar seperti berandalan. Baju kaus oblong dengan celana jeans sobek-sobek, lalu rambut yang agak panjang dan berantakan. Beda sekali dengan tipe ayah Sem yang menyukai kerapian.

Friski yang kesusahan menjawab akhirnya mendapat pertolongan dari Sem.

"Namanya Friski, Yah. Friski Aldebriano. Dan aku tutornya," ujar Sem santai.

"Kok ayah nggak tau ada program tutor gitu di sekolah kamu?"

"Aku yang sukarela, Yah. Lagian aku juga nggak rugi, kok. Kan kayak yang ayah ajarin, gak cuma teman yang gak boleh milih-milih, berbuat baik juga harus gitu, selagi gak ada yang dirugikan. Gitu, kan, Yah?" senyum Sem menjawab pertanyaan ayahnya.

"Makin pintar aja kamu ngejawab, ya," gemas ayah Sem sambil mengelus rambut si bungsunya ini.

"Kamu jangan macam-macam sama anak saya!" ancam ayah pada Friski dan dibalas anggukan. Kemudian ayah berlalu meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.

Berminggu-minggu setelahnya barulah ayah Sem mulai menerima kehadiran Friski. Dia mulai melihat ada perubahan positif pada diri anak ini. Kini Friski sudah tampak lebih baik, dan sejauh ini Sem juga tidak kenapa-napa.

Semilova [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang