"Dek, ayo cepat!" pinta Geo yang sudah berada di dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Bentar, Yah." Tampak Sem masih sibuk dengan tali sepatunya. Setelah selesai Sem segera berdiri, tapi getaran di sakunya membuat dia menahan langkah.
"Siapa, nih?" gumam Sem memperhatikan nomor tidak dikenal di layar ponselnya.
"Halo?" sapa Sem ragu begitu dia memutuskan dengan cepat untuk mengangkat telpon itu agar ayah tidak menunggu lebih lama, dia juga melanjutkan langkah menuju mobil yang sudah berada di luar pagar rumahnya.
"Dengarkan baik-baik, Semilova. Jangan coba-coba dekati Daniel! Tidak ada peringatan kedua."
Sem terhenti. Panggilan itu juga langsung diputuskan. Dengan bingung Sem menatapi layar itu lagi.
"Dek!" teriak Geo menyadarkan anaknya. Segera Sem berlari kecil memasuki mobil mengabaikan apa yang baru saja terjadi.
Sepanjang perjalanan ke sekolah di pagi ini, pikiran Sem terus diisi dengan telpon misterius itu.
"Suara cewek. Perasaan pernah dengar, tapi dimana, ya?" gumam batinnya mencoba mengingat-ingat.
"Daniel, Daniel. Apa hubungannya sama anak itu? Pacar dia?" lanjutnya masih dibatinkan.
"Ah, bodolah! Bukan urusan gue juga."
***
Jam pelajaran sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi kursi di depan Asep yang serong dari Sem tampak masih kosong, kursi Daniel. Tiba-tiba terdengar suara Pak Kepsek sedang marah-marah di luar sana, mengintrupsi pembelajaran di dalam kelas. Guru yang sedang mengajar itu pun beralih ke dekat pintu dan membukanya.
"Daniel! Kamu telat lagi?!" pekik ibuk guru dengan suara cempreng itu.
Kemudian terdengar dengan semakin jelas Pak Kepsek memarahi anak itu, ditambah dengan guru mereka. Seisi kelas tampak biasa saja, sepertinya mereka sudah maklum padahal ini baru memasuki minggu kedua tahun ajaran baru.
"Sep, apa seminggu kemaren dia telat terus?" bisik Sem pada Asep di seberangnya karena dia tidak tahu apa-apa. Minggu lalu dia tidak masuk kelas sama sekali karena jadi panitia MOS.
"Sebuah keajaiban kemaren dia nggak telat, Sem," jawab Asep dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Kemaren? Oh ya, dia kan harus nyambut gue untuk pembalasan itu. Aih, dasar bocah!" batin Sem membenarkan. Di luar Sem hanya menjawab dengan anggukan ringan.
Beberapa saat kemudian suara-suara gaduh disertai ceramah pagi itu pun berakhir. Terdengar langkah kaki seseorang mendekat, namun Sem sudah kembali fokus pada catatannya. Tapi tiba-tiba seseorang berdiri di samping Sem menutupi cahaya pagi yang menerpa mejanya.
"Pagi," sapa suara yang mulai agak berat itu.
Sem mendongakkan kepalanya, ternyata itu Daniel. Anak ini masih SMP tapi dia sudah sangat tinggi, kira-kira sudah memasuki 170 cm. Sem? Jangan tanya, dia masih di angka 150-an.
"Pagi," jawab Sem dengan wajah yang sama datar dengan wajah Daniel. Kemudian dia kembali menunduk dan menatap buku-buku itu.
"Sep, lo pindah sana. Gue mau di sini."
Sem kembali menoleh mendengar itu, tampak Asep segera berdiri dan mengambil semua barangnya lalu pindah ke kursi kosong di depannya.
"Apa? Marah gara-gara cowok lo gue suruh pindah?" sarkas Daniel begitu menyadari tatapan Sem padanya.
"Daniel! Berhenti mengganggu Sem! Cepat duduk dan belajar!" titah ibuk guru di depan sana menyelamatkan Sem pagi ini.
Anak itu akhirnya menurut. Sem juga sudah fokus kembali. "Terserah lo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Semilova [TERBIT]
Novela JuvenilKetika kamu terlalu berani bermain-main dengan perasaan. "Seperti namamu, Semilova, cinta di musim semi. Aku jatuh cinta padamu seperti di musim semi, rasanya begitu indah. Tapi setelah aku mengenalmu, kau seperti musim dingin yang datang sebelumnya...
![Semilova [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/190304715-64-k248885.jpg)