"Ngapain sih lo nginep sini."
"Gua lagi galau," sahut Gichan sambil baca membolak-balik majalah milik si tuan rumah.
Doyeon, yang katanya pacar Han Gichan, memutar bola matanya malas, "terus kalau galau ngapain kesini."
"Lu sebagai tetangga sekaligus sahabat gua dari kecil, harus selalu ada di saat gua susah." Gichan mengacungkan kedua jempolnya kemudian nyengir.
"Ck dasar ngerepotin," balas Doyeon.
"Tadi gua ngeliat orang yang gua suka ciuman sama pacarnya," cerita Gichan tiba-tiba sambil menutup majalah yang ia baca.
Doyeon mendengarkan dengan seksama sambil tiduran tengkurep di sebelah Gichan.
"Kapan ya gua bisa nyium dia juga?" Gichan langsung berandai-andai.
"Kebanyakan ngayal lo tuh." Doyeon memukul kepala Gichan dengan bantalnya, "confess kek, jangan ngarep doang tapi gak pernah bikin pergerakan."
"Udaaaah, Suketi. Kan lu juga udah tau ceritanya," seru Gichan. "Ribet, Yeon kalau gua harus confess lagi. Situasinya udah terlalu susah."
Doyeong emang gak pernah ngerti sama jalan pikiran sahabatnya ini, walaupun dia udah tau semua alasan kenapa Gichan sampai memohon untuk pura-pura jadi pacarnya. Doyeon tetep gak ngerti.
"Kalau gak ribet mah ngapain gua pura-pura pacaran sama elu." Gichan melanjutkan ucapannya.
"Mau sampai kapan jir kita pura-pura gini?" Tanya Doyeon.
Gichan terdiam, berpikir sebentar.
Iya ya? Mau sampai kapan gua pura-pura pacaran sama Doyeon.
"Ngga tau, sampai nanti mungkin?" Jawab Gichan sekenanya.
"Nanti itu kapan, Bambaang. Kalau cowok gua tau bisa bahaya ini."
"Yaelah takut amat sama cowok lu," ledek Gichan. "Jelasin aja ke si Lukes kalau gua gay."
Doyeon menjambak rambutnya sendiri karena frustasi, "hadeeeeeh lo aja gak mau open up. Masa iya gue harus beberin rahasia lo di depan Lucas sih?"
ㅡㅡㅡ
"Hayo! Lagi chattan sama siapa!"
Midam buru-buru mematikan handphonenya begitu seseorang mendorong dari belakang. Kalau udah iseng begini siapa lagi kalau bukan Yoon Seobin.
"Seobin apaan sih! Diliatin tau kamu teriak-teriak di sini." Midam menunjuk orang-orang yang memperhatikan Seobin sambil berbisik.
Seobin mengangkat bahunya ngga peduli dan langsung ambil tempat duduk di sebelah pacarnya.
"Chat ama siapa sih? Serius amat?" Tanya Seobin sambil mencomot somay milik si pacar.
Anaknya baru aja selesai kelas langsung karena dia bucin langsung nyamperin ke kantin fakultasnya Midam, gak sempet makan dulu.
Midam menggeleng, "lagi liat-liat Sh*pee."
"Belanjaaaa teroooossss."
"Hehe mumpung banyak promo," jawab Midam sekenanya.
Bohong, Midam lagi berbohong. Sebenarnya Midam tadi lagi ngeliatin chat dari sebuah account Instagram yang sampai sekarang masih belum dia bales juga.
Kira-kira udah seminggu Midam ngediemin DM tersebut dia juga belum cerita sama siapa-siapa. Karena dia bingung dan takut.
Padahal beberapa kali Midam ketemu Gichan ntah di kampus atau di Burning Moon pas anak-anak lagi ngumpul atau malah di kontrakan Seobin, tapi gak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut Midam.
KAMU SEDANG MEMBACA
We All Lie | PDX 101
FanfictionThis account has so much secrets and no one cant stop that account from revealing all the lies they tell. PRODUCE X 101 ⚠️Warning: BxB⚠️ ⚠️ 🔞 harsh words and mature content🔞 ⚠️ ⚠️This is a fictional story indeed please do not hate any trainees bec...
