Huh.. Huh.. Huh...
Nafas terputus-putus dari seorang wanita yang kira-kira sudah berkepala empat keluar dari bibirnya dengan keras. Wanita itu sudah berlari jauh dan akhirnya sampai di suatu tempat yang dirinya sendiri tidak tahu dimana. Wanita itu lalu mencari tempat duduk di belakang pohon di sekitar jalan itu. Baru akan duduk sebuah suara mengagetkan dirinya.
"WOY! JANGAN LARI LO!" teriak seorang laki-laki berbadan gemuk dan berpakaian ala preman.
Wanita itu kembali lari menghindari laki-laki itu yang terus mengejarnya. Sebenarnya wanita itu sulit berjalan karena telapak kakinya sudah mulai lecet. Nasib, dirinya tidak memakai sandal.
BUG..
Wanita itu bertubrukan dengan seorang anak SMA hingga membuat keduanya jatuh tersungkur.
"Aduh.. maaf Bu," anak itu langsung menghampiri wanita itu untuk membantunya berdiri.
"JANGAN LARI LO!" teriak laki-laki itu lagi.
Wanita itu langsung gelagapan dan membuat anak itu langsung bingung.
"Ibu kenapa?" tanya anak itu.
"Aduh Nak. Kamu bisa nggak tolongin ibu. Ibu di kejar-kejar bapak-bapak tadi," mohon wanita itu.
Anak itu antara merasa kasihan dan enggan menolongnya. Pasalanya, dirinya sendiri juga belum tahu kenapa ibu ini di kejar-kejar. Jangan-jangan buronan?
"Nak, tolongin Ibu ya," mohon wanita itu lagi.
"WOY! JANGAN SEMBUNYI LO!"
Wanita itu bertambah gelapan sambil memegang tangan anak itu dan memmohon-mohon. Akhirnya anak itu pasrah dan mengajak ibu itu ke sebuah rumah yang terbengkalai.
"Kayaknya udah aman Bu," ujar anak itu setelah melihat jalanan yang sudah tidak ada tanda-tanda laki-laki itu.
"Makasih ya nak. Maaf ibu nggak bisa ngasih apa-apa,"
"Eh.. nggak papa bu. Tapi ngomong-ngomong kenapa ibu di kejar-kejar?"
"Ayo ibu ceritain. Tapi jangan di sini. Di sana aja," wanita itu menunjuk pos ronda yang tak jauh dari situ. Anak itu mengangguk lalu mengikuti wanita itu menuju pos ronda.
"Jadi gini nak. Ibu itu di kurung sudah hampir tujuh belas tahun,"
"Ha? Di kurung? Tujuh belas tahun?"
"Iya nak. Dan ibu setiap saat pasti mencuri kesempatan kabur. Seperti tadi itu. Tapi, selalu gagal. Kecuali saat ini. berkat kamu. Ibu tidak di kejar lagi,"
"Tapi kenapa ibu di kurung?"
"Dulu, tepatnya tujuh belas tahun lalu. Ibu menikah sama Pak Wira namanya. Ibu sama Pak Wira saling mencintai dan akhirnya menikah. Tapi, orang tua Pak Wira ternyata tidak setuju dengan pernikahan itu,"
"Dan sebulan setelah ibu melahirkan anak ibu yang pertama. Ibu langsung di bawa pergi dari rumah itu. Dan Pak Wira menikah lagi dengan wanita pilihan orang tuanya. Baik Ibu dan Pak Wira tidak pernah tahu keberadaan masing-masing. Ibu tidak tahu jalan pulang karena memang ibu tidak tahu tempat ibu di kurung itu di daerah mana. Dan Pak Wira juga tidak tahu ibu di bawa kemana,"
"Dan yang paling buat ibu sedih. Ibu belum pernah ketemu anak ibu. Ibu mau mencari tapi ibu sendiri tidak punya foto anak ibu. Setiap hari ibu selalu memikirkan bagaimana wajah anak ibu. Sedang apa dan ada dimana sekarang. Ibu sangat kangen dan penasaran. Ibu.."
Wanita itu menghentikan ucapannya dan menangis tanpa suara. Anak itu langsung mengelus-ngelus punggung wanita itu. Baru kali ini anak itu menemui wanita seperti ibu yang menurutnya sangaat tangguh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Benci dan Cinta
Teen Fiction#1 in thewattys2020 (Mei 2020) #1 in benci (agt 2020) [SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] Kinan sangat benci Farel. Setiap hari Farel selalu membuat ulah yang membuat Kinan teriak-teriak sekaligus kesal. Ini semua gara-gara Ki...
