Pertemuan Kedua

6.2K 158 2
                                        

"Agh. Kenapa di sekolah sih," Kinan merutuki dirinya sendiri sambil membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya.

Gara-gara tadi kecapekan saat olahraga, penyakit Kinan kumat lagi. Leukimia, ya Kinan menderita Leukimia. Namun belum parah. Dan jika ini tidak segera di atasi, kanker darah sebagai gantinya. Kinan tahu kalau dirinya menderita Leukimia saat kelas sembilan SMP. Dan sejak saat itu, diam-diam Kinan cek up ke dokter. Hanya Kinan yang tahu hal ini. Ayahnya, Kak Brian, Vina, dan semuanya belum ada yang tahu. Kinan memang sengaja menyembunyikannya. Kinan tidak mau semua orang jadi repot karenanya. Kinan sudah sangat bersyukur ada tempat untuk mengadu saat Kakaknya koma.

Kinan mengambil botol obatnya. Dan sialnya, obatnya habis. Aduh, kenapa Kinan lupa cek up ya? Mau tak mau, Kinan harus ke UKS.

"Permisi, Dok, saya---" Kinan mengehentikan ucapannya karena melihat Farel sedang di obati dokter.

Cepat-cepat Kina langsung balik badan karena tangan kanannya masih menutup hidungnya. Semoga saja Farel tidak curiga.

"Aduh, pakek ada Farel lagi," Gumam Kinan kesal.

"Ada apa Mbak? Mau cari obat?" tanya Dokter itu setengah berteriak.

"Nanti aja Dok," balas Kinan cepat tanpa menoleh ke arah dokter lalu melangkah menjauh dari UKS.

Farel menatap Kinan heran. Seperti ada sesuatu yang aneh atau disembuyikan Kinan. Tadi Farel sempat melihat tangan kanan Kinan menutupi wajahnya.

"Anjir! Agh! Ayo dong berhenti," Kinan kembali ke wc sambil menggerutu.

Setelah tiga menit, akhirnya darah yang keluar berhenti juga. Kinan dengan segera melangkah ke UKS lagi.

"Kirain udah ganti," Vina menatap Kinan yang masih mengenakan baju olahraga dengan heran. Padahal lima belas menit lagi bel pergantian pelajaran berbunyi.

"Ini mau ganti," ujar Kinan sambil mengangat baju seragamnya. Ya sudah. Kinan ambil seragamnya dulu dan ganti lalu baru ke UKS. Farel pasti sudah tidak ada di sana.

"Kenapa tadi malah pergi?" tanya Dokter sambil tersenyum.

"Eh.. nggak papa dok. Oh iya saya mau minta obat ada?"

"Kamu sakit?"

Kinan lalu menceritakan kondisinya saat ini. Dokter sempat terkejut karena dengan adanya penyakit itu, tapi Kinan seperti tidak ada beban.

"Ini obatnya. Cek up rutin ya ke Dokter,"

"Makasih Dok. Btw, jangan bilangin siapa-siapa ya Dok," bisik Kinan.

Dokter itu mengangguk sambil tertawa gemas dengan tingkah Kinan. Ada-ada aja anak di depannya ini. Kinan lalu balik badan dan keluar UKS. Bersamaan langkah seseorang yang menuju UKS.

"Dok, itu kenapa?" Dokter sempat terkejut karena tiba-tiba ada orang yang sudah ada di hadapannya.

"Farel? Kamu itu ngagetin saya aja,"

"Itu kenapa?"

"Siapa? Cewek yang tadi?" Farel langsung mengangguk cepat.

"Emang kenapa? Kamu kok kepo?"

"Dok! Jawab aja apa susahnya!" ujar Farel setengah membentak.

"Cewek tadi cuma sakit biasa. Pusing katanya," Balas Dokter itu ngarang sesuai janjinya dengan Kinan. Farel mengangguk lalu pergi keluar UKS. Dokter itu geleng-geleng kepala melihat tingkah Farel dan Kinan.

....................

"KINAN!" Teriakan itu membuat Kinan yang sedang berjalan keluar sekolah menengok ke asal suara. Kinan tersenyum melihat orang yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Kinan lalu mendekati orang itu.

Antara Benci dan Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang