"Bunda! Alhamdulillah kakak udah sadar Bun. Adik seneng banget rasanya. Bunda pasti juga seneng banget di surga sana. Tapi, adik malah sedih Bun. Ternyata yang buat kakak koma, musuh adik Bun. Farel! Kinan nggak nyangka Bun, teryata Farel penyebab semua ini. Kenapa juga harus orang yang paling di benci Kinan. Udah benci, tambah benci aja Bun," Kinan berceloteh di depan makam bundanya.
Dengan modal nekat, akhirnya Kinan bisa sampai di sini bersama abang gojek. Daripada di rumah sakit kepalanya pusing menerima segala alasan yang menurutya tidak masuk akal, lebih baik mengunjungi bundanya.
"Bunda! Kenapa kenyataannya seperti ini?" air mata Kinan mulai mengalir. "Hidup adik sama kakak sepertinya tidak mulus bun. Adik sendiri bun. Walaupun ada Vina, tapi adik tidak bisa cerita ke Vina. Kak Yudha sama Kak Rizki? Adik benci mereka juga! Kenapa mereka juga nutupin semua ini dari adik," air mata Kinan bertambah deras.
Tes
Sebuah tetesan menetesi tangan kanan Kinan. Secepatnya Kinan memegang hidungnya, "Oh shit!" kesal Kinan lalu segera berdiri.
Secepatnya Kinan berdiri dan berjalan meninggalkan pemakaman sambil menutup hidungnya. Namun langkahnya tiba-tiba tertahan ketika dirinya melewati seseorang.
"Kinan?" tangan kiri Kinan di tarik oleh orang itu.
Kinan terkejut mendapati siapa yang menariknya. Secepatnya dirinya melepaskan cekalan orang itu lalu pergi.
"WOY KINAN!" lagi-lagi orang itu berhasil menarik tangan kirinya. Beruntung tangan kanannya setia menutupi hidungnya.
"Apaan sih Han!" Kinan kembali melepas cekalan Rehan. Ya, orang itu adalah Rehan.
"Lo kenapa disini?" tanya Rehan penasaran.
"Bukan. Urusan. Lo!" balas Kinan penuh penekanan lalu pergi meninggalkan Rehan yang tengah kebingungan.
Kinan kemudian berbelok di sebuah pos kampling dusun dekat pemakaman. Dirinya yakin, Rehan tidak tahu tempat ini.
Baru saja duduk, kepalanya tiba-tiba sangat pusing. Mimisannya pun masih belum berhenti. Beruntung dirinya membawa sapu tangan. Kinan mencoba berdiri, tapi tidak bisa. Pandangannya berkunang-kunang.
Kinan tidak mau dirinya pingsan disini. Secepatnya, dirinya mengambil ponselnya dan menekan nomor yang terakhir dirinya hubungi. Entah nomornya siapa Kinan juga tidak tahu.
"Hallo?" telfon Kinan terbalas.
"Tolongin aku kak sekarang. Cepetan. Di makam bunda seka--"
Bruk
Ponsel Kinan langsung terjatuh karena tangan kanan yang sebelumnya memegang ponsel, dirinya alihkan ke kepalanya yang semakin pusing.
..............
"Lo mau kemana?" Rizki mencegat Yudha yang tengah berjalan cepat.
"Nyusul Kinan! ternyata dia udah di makam bundanya," balas Yudha cepat lalu kembali berjalan.
"Ha? Sama siapa Kinan kesana?" tanya Rizki entah pada siapa.
Hati Yudha sangat tidak tenang ketika mendapat telfon dari Kinan. Suara Kinan membuat dirinya khawatir. Apalagi panggilan yang tiba-tiba terputus.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, Yudha mengendarai motornya dengan lincah. Beruntung jalanan tidak macet. Hanya butuh waktu lima belas menit, akhirnya Yudha sampai. Secepatnya Yudha berlari menuju area pemakaman. Namun, Kinan tidak terlihat.
Aduh, kemana si Kinan? batin Yudha bingung.
Yudha kemudian mencari di semua area pemakaman hingga area sekitar pemakaman. Bahkan dirinya sudah berkali-kali bertanya kepada warga sekitar, tapi tetap saja, mereka tidak tahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Benci dan Cinta
Teen Fiction#1 in thewattys2020 (Mei 2020) #1 in benci (agt 2020) [SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] Kinan sangat benci Farel. Setiap hari Farel selalu membuat ulah yang membuat Kinan teriak-teriak sekaligus kesal. Ini semua gara-gara Ki...
