"Halo Rel? Lo dimana sekarang?" Tanya Arjun begitu terhubung dengan ponsel Farel.
"Jun! Ini gue Rian!" balas Rian kasak kasuk.
"Farelnya di---"
"Ini Farel lagi gue cari. Tiba-tiba ngilang di lapangan pas main bola waktu gue susul ke lapangan. Cuma ada bola sama tasnya. Ini gue udah kelilingan lapangan nggak ketemu," jelas Rian.
"Seriusan lo? Motornya?" tanya Arjun.
"Ada motornya. Tapi gue nggak tahu tuh orang dimana?"
"Lapangan mana? Gue susul,"
"Lapangan kayak biasanya Farel main bola. Lapangan Krida,"
"Ok. Gue gas kesana,"
Arjun menutup telfonnya dan langsung menjelaskan kepada Farhan yang sudah penasaran. Lalu mereka berdua langsung melajukan motornya menuju Lapangan Krida.
"Rian! Gimana?" Arjun memanggil Rian yang sedang berjalan mencari Farel.
"Belum nemuin gue. Emang dasar tuh si Farel. Udah tahu habis pingsan masih juga main bola,"
"Kayak nggak tahu aja Farel itu keras kepalanya kayak gimana?" balas Farhan.
"Udahlah ayo cari!" Ajak Arjun lalu mereka bertiga berpencar mencari Farel.
Sudah lima belas menitan tapi tetap percuma! Farel tidak ada! Emang ya tuh si Farel nyusahin orang aja. Di sisi lain, seseorang yang sedang di cari tengah berusaha membuka matanya sambil menyesuaikan dengan cahaya di sekelilingnya.
Gue dimana? Batin Farel sambil melihat sekelilingnya.
Sebuah ruangan seperti kamar yang asing di mata Farel. Farel mengedarkan pandangannya dan mendapati berbagai macam poster pemain sepak bola yang tertempel pada dinding kamar.
Ceklek
Pintu kamar di buka dan masuklah seorang pria yang usianya mungkin berkisar 30 tahunan.
"Alhamdulillah kamu udah sadar Nak," orang itu mendekati Farel sambil membawa baki makanan.
"Bapak? Siapa?" tanya Farel sambil berusaha bangkit.
"Bapak namanya Pak Indra," Pak Indra tersenyum kepada Farel.
"Pak Indra?" ulang Farel karena seperti pernah mendengar nama itu.
"Iya, saya Pak Indra. Dan kamu Farel kan?"
"Kok Bapak tahu? Apa jangan-jangan Bapak itu----"
"Iya, saya pelatih MUTIARA FC U-16 yang pernah mengundang kamu masuk tim," potong Pak Indra sambil tersenyum.
"Oh maaf Pak. Waktu itu saya menolak,"
"Nggak papa Nak. Mungkin lain waktu kamu bisa berubah pikiran,"
'Terus Bapak kok bisa bawa saya kesini?"
"Tadi Bapak sedang di Lapangan Krida dan lihat kamu main bola. Seperti biasa, permainan bola kamu bagus. Tapi Bapak agak-----"
"Lho Bapak sering lihat saya main?" potong Farel.
"Iya. Tapi akhir-akhir ini kamu jarang ya mainnya? Apalagi tadi Bapak lihat wajah kamu pucat tapi kamu masih main bola,"
"Makasih Pak udah nolongin saya,"
"Sama-sama. Ini di makan dulu. Istri saya yang buatin," Pak Indra memberikan baki makanan kepada Farel.
Farel menerima dengan senang dan langsung makan dengan lahap. Pak Indra tersenyum melihat Farel dengan senang. Sudah lama pemandangan ini tidak Pak Indra lihat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Benci dan Cinta
Fiksi Remaja#1 in thewattys2020 (Mei 2020) #1 in benci (agt 2020) [SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] Kinan sangat benci Farel. Setiap hari Farel selalu membuat ulah yang membuat Kinan teriak-teriak sekaligus kesal. Ini semua gara-gara Ki...
