Tidak Percaya

5.7K 131 10
                                        

"Kok bisa dikeroyok?" tanya Farhan.

"Nggak tahu. Ibu sampai sana sudah dikeroyok,"

"ANJING!" teriak Arjun sambil menendang nakas di samiping tempat tidur Farel membuat semuanya terkejut.

"ARJUN! Lo jangan emosi di sini," Farhan memegang bahu Arjun kencang.

"Jun! Lo nggak boleh kayak gini! Jangan emosi," Yudha memegang kepala Arjun mencoba menenangkan Arjun.

"Iya jun! Ini rumah sakit!" sambung Rizki.

"Kasihan ya anak ini," ujar Bu Tirta sambil mengusap tangan kanan Farel.

"Bunda!" Semua mata langsung mencari asal suara itu.

"Bunda!"

"Farel?!" Arjun mendekati Farel.

"Bunda!

"Rel! Farel!" panggil Arjun sekali lagi.

Setelah suara 'bunda' yang ketiga. Tidak ada suara lagi. Farel pun belum juga membuka mata. Hati Arjun bergetar mendengar suara Farel tadi. Arjun menundukkan kepalanya di atas kasur. Dirinya teringat akan janjinya dengan Farel untuk menemukan Bundanya.

"Lo bawa Arjun keluar dulu aja," bisik Yudha kepada Farhan menyuruh Farhan membawa Arjun keluar. Yudha tahu Arjun sedang tidak beres.

"Jun! Ayo temenin gue sebentar," Farhan menarik tubuh Arjun dan menariknya keluar.

Sedangkan Bu Tirta, dadanya langsung berdegup kencang. Tangannya gemetar setelah memegang tangan Farel. Apalagi mendengar Farel menyebut kata 'bunda'. Seperti ada aliran listrik dari tubuh Farel menjalar ke tubuhnya.

Rizki memandang Bu Tirta aneh. Seperti ada sesuatu hal. Apalagi setelah Yudha memegang kepala Farel dan kepalanya miring ke kanan. Sikap Bu Tirta semakin aneh.

Nggak mungkin! batin Bu Tirta lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan tanda terkejut. Lalu berbalik ingin melangkah keluar.

"Bu! Mau kemana?" tanya Yudha menyadari Bu Tirta akan melangkah pergi.

"Bentar. Mau ke toilet," balas Bu Tirta seadanya lalu keluar.

"Woy Riz! Kok bengong?" panggil Yudha melihat Rizki yang melamun.

"Eh.. gue keluar sebentar ya," Rizki tersadar dan langsung ikut keluar.

"Aneh deh," Yudha menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung melihat tingkah orang-orang yang ada di ruangan ini.

Beuntung ketika Rizki keluar, tidak ada Arjun dan Farhan di depan ruangan. Secepatnya, dirinya mencari Bu Tirta. Rasa penasarannya sangat besar. Rizki yakin pasti ada yang tidak beres.

"Nggak mungkin itu anakku. Nggak mungkin! Anakku Farel. Tapi bukan itu. nggak mungkin anakku seperti itu. Nggak mungkin!" ocehan frustasi menghentikan langkah Rizki. Cepat-cepat Rizki mundur bersembunyi di balik pilar.

"Tapi tanda itu," lanjut Bu Tirta lalu memorinya kembali ke masa paling bahagia baginya. Ketika dikarunai seorang anak laki-laki.

Flashback

"Alhamdulillah. Ganteng ya mas. Ada tanda lahir di lehernya," ujar Tirta senang kepada suaminya sambil menggendong anak pertamanya.

"Iya sayang. Anak kita ganteng. Kayak ayahnya," balas suaminya ikut senang.

"Gantengan anak kita ya mas," baals Tirta bercanda.

Tak terasa air matanya mengalir ketika mengingat memori itu. Kalau benar anak bernama Farel itu anaknya, dirinya sangat merasa bersalah. Seumur hidup anaknya, anaknya pasti sangat menderita. Tirta yakin akan hal itu. Suaminya pasti tidak bisa berbuat apapun karena suatu hal yang Tirta sendiri maklumi.

Antara Benci dan Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang