Perasaan Farel

5.9K 179 4
                                        

"Pak. Cari yang terdekat dari sini aja," Sopit taksi mengangguk mendengar perintah penumpangnya sambil melajukan mobilnya keluar dari sebuah perumahan.

"Ini mas. Sudah sampai," cowok yang menjadi penumpangnya mengangguk lalu menyerahkan beberapa lembar uang.

"Kembaliannya buat Bapak aja," ucap cowok itu lalu turun dengan pelan.

Cowok tersebut memandang tempat yang sudah lama tidak dirinya kunjungi. Hampir satu tahun lebih dirinya tidak pernah lagi ke tempat seperti ini. Terakhir dirinya ke tempat seperti ini waktu dirinya di Bandung. Saat kejadian itu.

Suara musik yang sangat keras langsung menyambutnya ketika dirinya masuk. Ruangan yang tidak terlalu terang membuat diirnya harus kembali menyesuaikani.

"Farel?" cowok itu langsung menoleh begitu namanya di panggil.

"Kak Riko?" cowok yang memanggil tersenyum lalu menghampiri Farel.

Riko adalah teman Farel. Umur Riko lebih tua daripada Farel. Sekitar dua tahun di atas Farel. Riko ini kakak kelasnya waktu SMP, tapi kurang satu semester selesai SMP, dia pindah ke Bandung. Dan mereka juga pernah ketemu di Bandung di tempat seperti ini, karena Riko bekerja di tempat seperti ini.

"Udah lama kita nggak ketemu ya? Gimana kabar lo?"

"Ya, gini," balas Farel sambil melirik kakinya yang masih di perban. Bahkan Farel masih menggunakan tongkat untuk berjalan.

"Masih setia berantem nih? Nggak nyangka gue ketemu lo disini," Riko merangkul Farel sambil tersenyum. "Kenapa lo? Ada masalah lagi?" Riko bisa menebak alasan Farel datang ke tempat ini. Seperti waktu di Bandung.

"Kasih gue satu botol!" bukannya menjawab Farel malah memerintah Riko.

"Lo jangan mabuk lagi kenapa?" Riko tidak mau Farel seperti dulu lagi. Dulu, Farel hampir masuk rumah sakit karena mabuk seperti ini.

"Udah! Cepetan!" Farel berjalan pelan menuju meja.

Riko menghela nafas lalu berjalan menuju balik meja, dan mengambil sesuatu yang diinginkan Farel. Baru saja Riko meletakkan sebuah gelas di depan Farel, Farel malah sudah meneguknya langsung dari botolnya.

"Rel! Lo ada masalah apaan sih?" tanya Riko khawatir.

"Lagi Kak!" Riko mengambil dengan ragu. Farel langsung merampas botol yang ada di tangan Riko sebelum Riko menyodorkannya kepada Farel.

Riko menatap Farel bingung. Ada ada dengan cowok di depannya ini? Apakah ada masalah besar seperti waktu di Bandung? Beruntung waktu itu Riko mau menemani kehancuran Farel saat di Bandung. Riko sendiri juga senang berteman dengan Farel.

"Lagi Kak!" kepala Farel sudah pusing, tapi itu sangat menyenangkan bagi Farel. Sekarang, dirinya ingin melupakan masalah sejenak.

"Kalau ada masalah cerita ke gue!" perintah Riko.

"Agh! Banyak bacot lo!" balas Farel kesal. "Heh Bro! Kasih gue satu botol!" panggil Farel kepada pelayan yang lain.

"Jangan ka--"

"Rik! Lo dipanggil Bos!" seru teman Riko membuat Riko dengan berat hati meninggalkan Farel bahkan sampai lupa bilang kepada temannya yang di suruh mengambilkan lagi untuk Farel agar menolak perintah Farel.

"Cepetan njing!" Farel berteriak kesal. Lalu pelayan tadi buru-buru mengambil satu botol lagi.

Riko kembali dengan kesal setengah jam kemudian. Memang hanya setengah jam. Namun setengah jam itu bisa digunakan untuk minum banyak botol.

"Anjing!" Riko mengusap rambutnya kasar karena Farel ternyata sudah tidak berada di tempatnya.

"Dito! Cowok tadi habisin ini semua?" tanya Riko sambil melihat sepuluh botol lebih yang sudah tidak ada isinya.

Antara Benci dan Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang