Kinan melangkah cepat menuju ruang Brian. Hatinya tidak tenang. Baru saja sampai rumah setelah menghindar dari Vina, telfon dari Kak Yudha membuat dirinya mengurungkan niatnya masuk rumah. Yudha menyuruhnya agar segera ke rumah sakit. Kinan melihat Yudha dan Rizki dengan wajah antara bingung, tegang, khawatir dan cemas ketika dirinya sampai di depan ruang kakaknya.
"Kak! Ada apa sama Kak Brian?" tanya Kinan panik.
"Tiba-tiba tadi jantung Brian melemah. Tapi kamu tenang aja. Dokter pasti bisa menanganinya," balas Yudha dengan wajah cemasnya.
Ceklek.
Dokter keluar dari ruangan. Secepatnya Kinan langsung melangkah menuju dokter. Air mata Kinan bisa langsung turun jika perkataan dokter tidak sesuai ekspetasinya.
"Alhamdulillah! Kakak saya sudah sadar dok? Boleh masuk?" Kinan langsung tersenyum senang dan air matanya hilang begitu saja. Walau tadi sempat mendapat pengalaman tidak menyenangkan. Namun saat ini Kinan bahagia. Sangat bahagia!
"iya. Allah memberi mukzizat," balas dokter ikut senang.
"Brian sadar! Gue nggak nyangka," Yudha menahan air matanya sambil menepuk Rizki senang.
"Iya. Padahal gue sendiri sudah mau putus asa," balas Rizki sambil menahan tangis bahagia.
Lalu keduanya masuk ke ruangan Brian mengikuti Kinan. Keduanya sangat senang karena Kinan sudah bisa tersenyum bahagia.
"Kak. Ini Kinan. Adiknya kak brian," ulang Kinan sambil memegang tangan kakaknya. Tapi tetap saja Brian malah menatap kosong Kinan.
"Kinan. sabar. Kak brian masih dalam penyesuaian," Yudha mengusap pundak Kinan lembut.
"Kinan?"
"Iya Kak! Ini Kinan! kakak udah ingat?" Kinan langsung heboh sambil memeluk Brian.
"Adiknya kakak? Kinan?"
"Iya Kak! Alhadulillah! Kakak sudah ingat!" Kinan kembali memeluk Brian senang.
"Yudha? Rizki?"
"Iya bro. Ini kita. Yang selalu jagain lo sampai lo sadar," balas Yudha sambil mendekat diikuti Rizki.
"Udah lama emang. Satu tahun. Dan Alhamdulillah lo sadar. Terus lo tenang aja. Selama satu tahun ini, adik lo kita jagain baik-baik kok," sambung Rizki sambil merangkul Kinan sayang.
Brian langsung tersenyum senang mendengar perkataan dari sahabatnya. Ya, Brian tidak menyangka akan tidur selama itu. Dan memberi tugas kepada adiknya yang mungkin memberatkan bagi anak seusianya. Ditambah, mereka berdua hanya tinggal berdua saja.
"Adik sehat?" tanya Brian sambil mengusap rambut Kinan lembut.
"Kakak jahat deh. Adik nungguinnya lama tahu. Tiap waktu hati adik tuh nggak enak mikirin kakak yang kapan sadarnya. Adik kan nggak mau kalau kakak udah di tunggu lama tapi ternyata malah ninggalin adik," Kinan mengungkapkan isi hatinya bersama air matanya yang tiba-tiba mengalir.
"Maafin kakak ya. Kakak tahu selama satu tahun ini pasti perjalanan adik penuh rintangan. Kakak janji. Setelah ini kakak akan selalu ada buat adik," balas brian dengan tatapan sedih.
"Kinan. kan ada kak yudha sama kak rizki juga," Yudha mengusap pundak Kinan sayang.
"Kapi kan ada yang kurang kalau nggak ada kakak," balas Kinan lalu memeluk Brian sayang.
Yudha dan Rizki tersenyum bahagia melihat kasih sayang Kinan kepada Brian. Mereka berdua ingin sekali hari-hari ke depan seperti ini. mereka belum siap kalau Brian mengetahui kejadian akhir-akhir ini.
.................
"Kak Brian sadar?! ALHAMDULILLAH!" teriak Arjun senang.
"Ha? Kak Brian sadar?" tanya Farhan yang berdiri di samping Arjun.
Mereka berdua kini sedang berada di rumah Arjun. Tanpa Farel tentunya. Karena mereka memaksa Farel agar beristirahat dulu.
"Iya. Lo bertiga cepetan kesini. Mumpung Kinan lagi keluar. Lama keluarnya. Buruan ya, gue tunggu. Gue putus ya, ini mau nganter Kinan pergi," jelas Yudha lalu langsung menutup telfonnya.
"Gimana?" tanya Farhan.
"Kita bertiga suruh cepetan datang kesana. Soalnya mumpung nggak ada Kinan. Kinan lagi pergi lama sama Kak Yudha," ujar Arjun.
"Yaudah. Lo sekarang telfon Farel aja. Kabar bahagia pasti untuk Farel," usul Farhan.
Kemudian Arjun menghubungi nomor Farel. Satu kali, tidak direspon. Dua kali belum respon juga. Tiga, empat, sampai sepuluh kali.
"Nggak diangkat!"
"Yaudah! Mungkin lagi diobatin kalik Farelnya sama pembantunya. Mending kita siap-siap dulu," saran Farhan dan mendapat anggukan dari Arjun.
...................
Farel memarkirkan motornya di halaman rumahnya dengan sedikit kesal. Pasalnya ada sebuah mobil sedang putih terparkir di halamannya. Farel yakin mobil itu milik Rani! Siapa lagi kalau bukan istri baru ayahnya. Ya walaupun sudah lama beristri dengan Rani, tapi Farel tetap menganggap Rani istri baru ayahnya!
"Anjing! Tahu gini ke rumah Arjun!" Farel menendang mobil itu kesal. Rani yang sudah seminggu keluar kota. Eh malah balik di saat kondisi Farel seperti ini.
"Farel? Apa kabar sayang?" Rani tiba-tiba sudah muncul dari dalam rumah. "ada dengan kamu? Habis berantem?" lanjut Rani sambil mendekati Farel.
Tubuh Farel otomatis langsung mundur. Medengar kata 'sayang' dari Rani membuat Farel jijik sendiri. Farel tahu apa motif di balik sikap Rani yang tiba-tiba menjadi lembut seperti ini.
"Farel?" Rani memegang pipi Farel yang otomatis langsung di tepis oleh Farel.
"Nggak usah sok peduli lo," tandas Farel pelan. Namun penuh penekanan. Kemudian berjalan melewati Rani masuk ke dalam rumah.
Ih.. Kalau Farel masih seperti itu. aku nggak bisa sama Mas Wira lagi dong Batin Rani kesal lalu mengikuti Farel masuk.
"Farel? Kamu pasti habis berantem kan? Ada apa?" Farel yang baru masuk langsung di sambut dengan kata-kata seperti itu dari Ayahnya.
"Nggak usah sok peduli lo!" balas Farel ketus lalu berjalan menuju kamarnya.
Secepatnya, Farel mengambil tas ransel agak besar dan mulai memasukkan beberapa pakaian serta buku-bukunya. Terutama seragam sekolahnya. Kali ini Farel benar-benar tidak akan kembali ke rumah. Farel sangat kesal jika bertemu dengan Ayahnya. apalagi Rani. Membuat masalahnya semakin berat saja.
"Farel? Kamu mau kemana?" Ayahnya menyusul langkah Farel yang ingin keluar lalu secepatnya menahan Farel.
"Bukan urusan lo!" bantah Farel cepat lalu kembali melangkah cepat menuju motornya.
Wira menatap kepergian anaknya dengan sedih. Sampai kapan kejadian seperti ini akan berakhir? Namun, ternayata ada sepasang mata yang malah menatap rumah Farel dengan penuh kebencian. Kebahagiannya telah direbut hanya akibat harta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Benci dan Cinta
Teen Fiction#1 in thewattys2020 (Mei 2020) #1 in benci (agt 2020) [SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] Kinan sangat benci Farel. Setiap hari Farel selalu membuat ulah yang membuat Kinan teriak-teriak sekaligus kesal. Ini semua gara-gara Ki...
