Bagian Tujuh : TENDA

5 3 0
                                    

Dingin malam menusuk tubuh hingga tulang-tulang Panji rasanya membeku.
Ia sebenarnya tak ingin keluar malam ini, namun perlengkapan untuk mendakinya bulan depan masih banyak yang belum ada. Setidaknya hari ini ia bisa membeli 2 atau 3 barang.

Hoodie hitam digantungan dalam sekejap terpasang dibadannya. Kemudian Panji meraih kunci motor diatas meja belajar dan berlalu menuju luar.

Hari ini tak ada orang dirumahnya. Adeknya pergi ketoko buku ditemani sama Papa Mama. Katanya sih sebentar, perasaan Panji sudah hampir 2 jam lebih. Sekalian jalan-jalan mungkin, pikir Panji. Tapi Mamanya tadi sudah bilang kalau mereka akan pulang paling lambat pukul 8.30.

Setelah Panji memastikan kalau rumah terkunci dengan baik, ia segera bergegas menuju toko perlengkapan mendaki yang berjarak sekitar 3Km dari rumahnya.

Memang ada toko yang lokasinya dekat dengan rumah Panji, hanya saja kurang lengkap. Jadi Panji sudah langganan ditoko yang cukup jauh itu.

Sekitar 20 menit diperjalanan akhirnya Panji sampai ditempat tujuan. Ia segera memarkirkan motornya ditempat parkir yang mayoritas dipenuhi dengan kendaraan roda empat.

Tidak pernah berubah sejak Panji pertama kali menginjakkan kakinya ditoko ini sekitar 4 tahun yang lalu, selalu ramai dengan pengunjung yang menggunakan mobil.

Jam tangannya sudah menunjukkan angka 8 malam, jadi Panji harus bergegas karena Mamanya akan pulang setengah jam lagi.
Dipintu masuk, ia disapa ramah oleh pegawai yang sudah sangat kenal dengannya.

"Ngedaki lagi lu bro? Kemana ni tujuannya?" tanya pegawai yang lebih tua 2 tahun dari Panji itu.

"Rencana gue sih pengen ke Gunung Lawu, tapi belum pasti. Masih sebulan lagi juga" jawab Panji.

"Bagus kok Gunung Lawu, kesana aja"

"Oke deh Bang, gue kedalam dulu ya"

Setelah berpamit Panji segera menuju rak yang berisikan alat masak untuk mendaki. Hari ini mungkin Panji cuma beli alat masak sama tenda, soalnya alat masaknya sudah tidak bisa digunakan dan tendanya kurang satu. Untuk perlengkapan lainnya, Panji akan mengeceknya lagi nanti dirumah.

Kompor, panci, kuali, sendok penggorengan sama pemantik khusus yang semua ukurannya mini sudah ada dikeranjang Panji. Tinggal tenda!

Tenda yang dipajang disana kurang menarik minat Panji. Entah dari segi bentuk, warna, kenyamanan ataupun harga. Jadi Panji ingin melihat kebagian rak, manatau ada yang berbeda.

Ketika sedang meneliti kelebihan ditiap tenda yang tersusun dirak, Panji melihat ada seorang cewek dengan pakaian yang berbeda dari cewek pada umumunya.

Cewek dengan kacamata bertengger dikepalanya itu tengah berusaha meraih tenda berwarna biru gelap dengan motif bintang dirak paling atas.

Panji memperhatikan muka cewek itu, cantik kok keliatannya, terus kenapa harus diancurin kaya gitu?  gumam Panji. Walaupun cewek itu kelihatan aneh, tapi Panji akan tetap membantunya.

"Nih"

"Gue ngga butuh bantuan lo!" ucapnya tegas tanpa rasa terimakasih sedikitpun kemudian bergegas pergi meninggalkan Panji yang melongo melihat reaksi cewek itu.

Panji tidak peduli dengan respon gadis itu yang penting ia sudah melaksanakan tugasnya yaitu membantu orang yang butuh bantuan.

Setelah memilih dan memilah, akhirnya Panji menemukan tenda yang sesuai dengan keinginannya. Ia segera kekasir untuk membayar total keselurahan harga dan buru-buru pulang kerumah. Takut-takut kalau mamanya sudah pulang dan menunggu diluar karena kunci rumah dipegang oleh Panji.

✳✳✳

Ruangan dengan nuansa dark yang diisi dengan barang barang berwarna hampir serupa ini menggambarkan sifat sipemiliknya. Dingin, gelap, dan tak dapat diraih.

Suara rintikan air yang keluar dari shower  ditengah malam terdengar seperti tangisan tertahan dari mata seseorang yang dipaksa untuk menerima semua hal yang sangat jauh dari kata percaya.

Derup langkah terdengar sangat pelan, gadis itu berjalan ditengah kegelapan tanpa sehelai benangpun dengan tubuh yang basah. Suhu diluar rumah sedang turun namun gadis itu tidak merasakan dinginnya udara menyapu kulit lembut miliknya.

Jika dimalam hari orang akan langsung beranjak kekasur dan tidur, tapi lain halnya dengan gadis ini. Ia meraih dan segera menggunakan pakaian mini yang ada digantungan dan seketika tubuhnya meluruh disudut ruangan dengan air mata yang tanpa dikomando jatuh dengan sendirinya.

"Sampai kapan?" lirih gadis itu disela tangisannya.

Tbc

Sabar man teman, tunggu kelanjutan dari potongan adegan sedih itu yah😁

See u,
  Putri, yang lagi keren😎

Jambi, agustus 2019

Expectation!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang