Tania kembali ketoko perlengkapan mendaki yang beberapa hari lalu ia datangi, tujuannya ingin membeli tenda. Setelah melihat-lihat cukup lama akhirnya Tania memutuskan untuk membeli tenda yang ada dirak atas. Motif bintang dan warna biru tua ditenda itu menarik minatnya.
Ingin rasanya Tania mengutuk pegawai yang meletakkan tenda itu jauh dirak teratas sehingga gadis itu tidak bisa mengambilnya. Berjinjitpun rasanya percuma. Untuk perempuan, Tania bisa dikatakan lumayan tinggi, hanya saja rak itu tingginya diluar jangkauan tangannya.
Usaha terakhirnya untuk menjangkau kembali gagal, sepertinya tenda itu tidak ditakdirkan menjadi milik Tania. Ketika putus asa melanda dan Tania ingin memilih tenda yang lain saja, tiba-tiba saja sebuah tangan meraih dan langsung menyodorkan tenda itu tepat didepan muka Tania.
Untung saja Tania tidak memiliki riwayat penyakit jantung, kalau sampai ada mungkin sekarang ia sudah dilarikan kerumah sakit saking kagetnya.
Ingin berterimakasih namun pemikiran itu segera ia tepis. Pikiran negatif kembali menguasai logikanya dengan sangat cepat. Ia berprasangka kalau cowok itu menolongnya hanya karena kasihan dan Tania paling benci dikasihani sama siapapun orangnya. Ia sudah tidak percaya dengan niat baik orang sama sekali.
"Gue ngga butuh bantuan lo!"
Tania segera pergi meninggalkan toko itu. Ia benci sangat sangat benci dikasihani. Akhirnya mobillah yang menjadi sasaran dari kekesalan Tania. Pedal gas diinjak tanpa sisa dan mobil itu membelah jalan tol seperti sedang kerasukan.
Sesampainya digerbang rumah, Tania melihat ada sebuah mobil keluaran terbaru milik ayahnya yang Tania yakini siempunya ada didalam rumah.
Tangannya yang sudah dingin terkena udara malam semakin mendingin. Ia takut hal itu kembali ia lihat. Jujur saja walaupun ia sudah sering melihat atau mendengar ayahnya melakukan hal itu, Tania tetap saja merasa takut dan panik menjadi satu.
Sekuat tenaga ia mengumpulkan keberanian untuk masuk kedalam. Sebenarnya Tania ingin memohon satu permintaan ke Tuhan, semoga ayahnya tidak melakukan hal itu lagi, hanya saja ia akan merasa kecewa untuk kesekian kali jika Tuhan kembali tidak mengabulkan permintaanya.
"Lo bisa Tania" monolognya.
Gadis yang menggunakan jaket kulit hitam itu berusaha menetralkan mimik wajah yang tadinya takut kembali keraut menyeramkan khas seorang Britania.
Mendobrak pintu adalah hal biasa yang dilakukan Tania. Ia ingin terlihat seperti seorang Tania yang menyeramkan didepan sang ayah.
Tepat didepan mata Tania saat ini, diatas sofa kulit hewan yang harganya puluhan juta itu seseorang yang katanya'ayah' bercumbu dengan seorang wanita murahan yang berbusana namun tampak transparan.
Lelaki tua itu tidak memperdulikan kehadiran Tania, ia tetap melakukan kegiatannya dengan penuh rasa nikmat sedangkan wanita jalangnya tetap menerima bahkan melebihkan cumbuan menjijikkan yang diberikan 'ayah' Tania.
Tania menggeretakkan giginya menahan marah dan benci. Bisa-bisanya tua bangka itu tidak malu melakukan hal gila didepan anaknya sendiri. Bukan sekali atau dua kali, bahkan sudah sangat sering dengan wanita yang berbeda-beda pula.
Ia muak melihat kelakuan 'ayahnya'. Ah! rasanya laki-laki gila itu tidak pantas ia sebut ayah. Dengan air mata yang sudah menggenang, Tania berlari sekuat tenaga menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti dibibir tangga. Ia mendengar desahan yang kedengarannya keluar dari mulut seorang perempuan.
Dengan kekuatan dan keberanian yang sudah tinggal sedikit, Tania mengintip dari balik pintu. Dan hal yang sama terjadi lagi!
Ibunya sedang melakukan hubungan tak senonoh dengan pria yang usianya jauh lebih muda dari usia sang ibu. Kenikmatan terlihat sangat jelas dari raut wajah keduanya.Lagi lagi sepasang suami istri ini melakukan hal gila dalam satu lantai dengan pasangan yang berbeda! Rasanya Tania akan gila saat ini juga.
Tanpa gadis itu sadari air mata sudah membasahi pipinya. Ia kembali melanjutkan berlari menuju kamarnya tanpa peduli dengan apa yang baru saja ia lihat.
Ia segera melepaskan seluruh pakaiannya dan berlari menuju kamar mandi. Mungkin guyuran air dari shower dapat membantunya menghilangkan api yang membakari logika serta hatinya.
Saat shower dihidupkan, Tania meluruhkan tubuh dan seluruh air matanya bersamaan dengan jatuhnya rintikkan air. Tanpa terasa sekarang sudah pukul 1 malam dan Tania sudah berada dibawah shower sekitar 4 jam.
Orang akan berpikir yang ia lakukan saat ini adalah kegilaan, Tania tidak akan membantah perkataan orang itu. Ia dengan senang hati menjawab "Emang"
Tubuhnya menggigil kedinginan dan kulitnya sudah berkeriput akibat terlalu lama terkena air, namun indra Tania tidak merasakan hal yang sama. Sepertinya semua indra ditubuh Tania mati dalam sekejap.
Tanpa sehelai benang, Tania menuju kamar dan mengambil pakaian super mini yang ia punya. Pakaian itu adalah saksi mati betapa seorang Britania sangat butuh bantuan. Lalu ia meraih pisau mini diatas nakas, dan yaa...
Tbc
Ini semua adalah penjelasan dari keadaan seorang gadis dicaphter 7 yang lalu.
Aku ikut merasakan sakitnya seorang Tania waktu nulis ini lho gengs, kalo kalian gimana?😭
Bagi kalian yang berpikir ini satu-satunya masalah Tania, kalian salah besar ✖
Tungguin terus ya cerita tentang kehidupan Tania yang sangat menyakitkan ini.
See u,
Putri, yang waktu nulis narik-narik ingus mulu😭😷Jambi, agustus 2019

KAMU SEDANG MEMBACA
Expectation!
RandomYang Tania tau adalah hidupnya tak seindah semua harapan yang ia bangun dalam dirinya. Betul kata orang ketika realita tak sesuai ekspektasi maka hati yang akan menjadi korbannya. Bagi Panji mendengar kisah orang lain dan dapat mengubah kepribadian...