Chapter 2 - Namanya Alivio

4.3K 256 17
                                        

"Alivio.." Katanya sambil tersenyum ramah pada Mora. Langsung saja Mora menjabat tangan putih dan kekarnya itu sembari membalas senyumannya.

"Aku Mora, salam kenal ya. Keliatannya kamar kita sebelahan?" ujar Mora dengan tawa renyah.

"Iyanih, mudah-mudahan bisa berteman baik ya.. pindahan darimana nih?" tanya Alivio sembari membuka pintu kamarnya.

"Gue dari Bandung, mau lanjut kuliah di Jakarta. Lo asli Jakarta?"

Alivio mengangguk, "Iya, asli Jakarta. Pantes orang Bandung.."

"Kenapa emangnya kalau orang Bandung?" Mora balik bertanya sembari mengangkat dahinya heran.

"Orang Bandung itu cantik-cantik katanya, well.. udah kebukti juga sih dengan adanya lo disini."

Mora tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ya ampun, semua cewek itu cantik kok. Mungkin lo aja yang gak sadar itu, kenapa jadi bawa bawa Bandung?!"

Alivio ikut tertawa karenanya, lalu ia bertanya lagi, kembali membuka topik, "Btw, yang tadi itu temen temen lo?"

Mora mengangguk, "Iya, salah satunya pacar gue."

"Oh.. Hm nahkan, gue nggak heran sih kalau cewek secantik lo nggak punya pacar alias jomlo!" Alivio tertawa, "Yaudah, gue masuk kamar duluan ya, Rara. Kalau ada perlu apa apa lo bisa minta tolong gue kok, oke?"

Mora ikut tertawa, "Rara? Ya okay deh thanks ya!"

"Rara. Panggilan gue buat lo, dah! Semoga betah di Jakarta ya!" Alivio kemudian masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Mora sendirian di luar.

Sepeninggalan Alivio, Mora hanya bisa tersenyum senang lantaran baru saja sehari di Jakarta dia sudah memiliki teman. Walaupun Mora tahu, nantinya Megan akan sering cemburu karena teman pertama Mora adalah seorang laki-laki, Mora hanya bisa berharap semoga Megan dapat mengerti dan tidak berpikiran negatif terhadapnya nanti.

Mora lalu masuk ke dalam kamarnya untuk membereskan segala barang-barangnya yang masih berserakan dimana-mana. Setelah selama dua jam berkutat seorang diri merapihkan kamar kostannya, Mora kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di tempat tidur untuk menelepon Megan.

"Halo?" Megan langsung mengangkat teleponnya.

"Hi, sayang. Udah sampai mana?" tanya Mora, "Nggak macet kan?"

"Macet parah sih ini lagi di rest area, soalnya Kelvin mau tidur dulu, kita semua nggak ada yang mau gantian nyetir." Jawab Megan kontan saja membuat Mora tertawa.

"Kasian Kelvin tahu! Kamu sana yang nyetir!"

Megan ikut tertawa, "Itu hukuman buat dia sayang, supaya dia nggak lagi-lagi ngabisin cemilan sendirian. By the way, kamu lagi ngapain sekarang?"

"Lagi ngerapihin barang-barangku nih. Oh ya, tadi aku kenal seseorang yang kamarnya sebelahan banget sama kamarku loh!" Seru Mora antusias.

"Oh ya, siapa? perempuan kan?"

"Hmm sebetulnya laki-laki sih.."

"Ohh.."

Mora tersenyum lebar, "Nggak ngambek kan?"

"Nggak kok, ngapain ngambek?"

"Yakali aja Megan ngambek?"

"Nggak ngambek, cuma takut aja."

"Takutnya kenapa?"

"Takut kehilangan kamu." Jawab Megan sambil menghembuskan napasnya berat.

"Loh kenapa? kok takut kehilangan?"

"Megan takut aja sih. Takut ada seseorang yang selalu ada buat kamu disana. Kan kamu tahu sendiri, orang yang sayang kamu akan selalu kalah sama orang yang selalu ada untuk kamu."

Mora kemudian menjawab, "Siapa tuh yang bilang? Ampun deh, kalau Mora hanya pengen sama Megan gimana? mau ada orang yang selalu ada pun Mora hanya mau Megan yang jadi pacar Mora. Megan hanya perlu percaya kalau Mora nggak bakal kayak apa yang Megan pikirin."

"Megan takut nih, Ra! Takut Megan kalah ganteng sama orang itu!" celetuk Ramon membuat semua orang terdengar oleh Mora langsung saja tertawa.

"SIALAN LO PADA!" Gerutu Megan lagi membuat Mora ikut tertawa, "Udah ya, Ra! Nanti Megan kabarin aja kalau udah sampe, anak-anak nyebelin nih!"

"Iya yaudah gih sana. Hati-hati ya bilangin Kelvin bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut!" ujar Mora lalu sambungan telepon pun terputus.

'Hmm, belum saja sehari, aku sudah rindu!' Batin Mora dalam hati. Lalu, tiba-tiba saja Mora mendengar suara seseorang. Suara itu terdengar sangat merdu dilengkapi dengan alunan permainan gitar yang hingga membuat Mora mengantuk. Direbahkannya tubuh kecil itu di atas tempat tidur sambil mendengar nyanyian merdu dari samping kamarnya hingga perlahan demi perlahan pun Mora menutup matanya, tertidur sembari memegangi ponsel di tangan kanannya.

Hanya kamu satu-satunya
Yang ada di hati
Andai saja kita berdua
Bersama selamanya
Dan kau datang membawakan cinta
Yang telah lama kunanti

Oh kasihku, kau membuat cinta..
Jatuh dari mata dan turun ke hati
Tawamu buat aku tersenyum lagi
Oh kasihku, kau membuat dunia
Indah dijalani ooohhh..
Kuyakini hati kau paling berarti..

***

HIII SIAPA YG LAGI SEKOLAH?! SIAPAPUN YG LAGI BERAKTIVITAS SEMANGAT YAAAA!! ni kulanjutin walaupun setitik hihi sengaja kok biar greget wkwkwk

BTW NICHOL YA AMPUN☹️☹️ SEDIH BGT DENGER KABARNYA DOI HUHUHU gimanapun kamu ku teteup kagum padamu dan nggak akan kuganti doi sebagai Alivio!! hehehe semangat untuk nichol💪🏻♥️

Part yang ini jangan lupa vote dan komentar nya yaaa!! aku tunggu hihi love youuu all♥️♥️

Mora & Megan 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang