Mora dan Megan terpaksa harus menjalani Long Distance Relationship saat Mora harus menempuh S2 di Kota Jakarta. Sementara Megan harus menetap di Bandung karena harus mengurus bisnisnya dengan 'Destroyer'. Janji mereka, keinginan mereka, begitu tersu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mora menerima undangan itu setelah kemarin malam dirinya dengan Renatha berbincang berdua. Kelvin bilang, undangan itu telah tersebar. Sebenarnya, Ayah Megan sudah menyebar undangan itu sebelum Megan kecelakaan. Mungkin itulah sebabnya Renatha meminta Mora untuk melepaskan Megan secepatnya.
Tapi, sekali lagi Mora tidak bisa.
Hari ini Mora masih berada di Bandung, bersama Alivio yang juga masih setia menemaninya. Teman-teman Megan pun ada disini, semuanya berkumpul saling menguatkan. Berusaha berpikir positif kalau sebentar lagi, Megan akan segera bangun dari tidur nyenyaknya dan kembali hidup normal. Walaupun untuk Mora, rasanya begitu menakutkan ketika Megan bangun nanti. Takut kalau semua yang tidak ia inginkan harus menjadi kenyataan.
Dari arah ruangan ICU, mata Mora melihat pintu itu terbuka dan memunculkan Ayah Megan dengan kedua matanya yang sembab, mungkin menangis di dalam ruangan itu. Ayah Megan berjalan lemas melewati ruang tunggu, melewati dimana semua orang sedang berada disana. Mora yang melihat itu lantas mengikuti arah langkah Ayah Megan dari belakang. Berharap hari ini, dia akan mendapatkan kesempatan bicara dan mencoba memperjuangkan semuanya.
Ayah Megan sekarang mendaratkan tubuhnya di kursi taman belakang rumah sakit itu, raut wajahnya sedih, matanya juga kosong. Mora tanpa takut lalu duduk di samping Ayah Megan. Menyadari akan hal itu, David pun tidak mengatakan hal apapun sama sekali. Dia lebih memilih untuk diam dan menatap lurus ke depan berusaha menghiraukan Mora.
"Megan itu orang yang tangguh, dia nggak mudah menyerah, dia akan berjuang untuk hal yang harusnya dia perjuangkan. Megan— orang yang selama ini Mora kagumi. Banyak hal yang dapat Mora petik dari Megan, bagaimana cara dia berusaha, menjadi pemimpin yang baik, orang yang akan bekerja keras untuk membahagiakan orang-orang yang dia sayangi. Walaupun dia nakal, dia tidak seperti anak nakal pada umumnya. Dia bahkan bisa lulus dengan nilai yang memuaskan, Mora sangat beruntung bisa mengenal Megan sampai sejauh ini.." ujar Mora, David hanya diam mendengarkan.
"Menurut om sendiri, apakah Megan sudah membuat om bahagia?"
David lagi-lagi hanya diam, bahkan menoleh pada Mora pun enggan rasanya.
"Terakhir sebelum kecelakaan ini terjadi.. Megan menelepon Mora. Katanya— dia ingin merasa bahagia bersama orang yang ia rasa pantas walaupun Mora nggak merasa pantas untuknya. Dia hanya ingin bahagia dengan pilihannya.."
Perlahan, David menolehkan sedikit wajahnya pada Mora. Menatap perempuan itu lama sebelum akhirnya kembali menundukkan wajahnya.
"Megan pergi ke Jakarta, hanya karena ingin bahagia. Megan hanya ingin di mengerti, soal perasaannya, soal hatinya. Om.. maafkan kalau saya lancang soal ini.. tapi, om sudah terlalu memaksakan kehendak om. Megan bahkan ingin sekali kabur dari rumah, tapi tidak juga ia lakukan? Dia hanya ingin kedua orang tuanya suatu saat mengerti dia, dan peduli pada perasaannya. Maaf kalau saya lancang, tapi saya bicara soal orang yang juga saya cintai, saya juga ingin berjuang untuk orang itu karena saya tahu hati Megan hanya untuk saya, saya permisi om.." Mora bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan David yang masih terpaku disana.