Chapter 15 - Tak Ada Pilihan Lain

3K 232 92
                                        

Megan berusaha bangkit dari keterpurukannya. Alivio masih berdiri di sana sambil menatap Megan marah, napasnya naik turun, kedua tangannya mengepal sempurna. "Sekarang lo pergi dari sini. Mora sudah nggak mau lihat lo lagi. Pergi dan lo urusin calon istri lo itu!" Seru Alivio membuat Megan geram.

"Lo bilang gue bukan laki-laki?" Megan mencoba membela diri, "Justru karena gue laki-laki, gue harus bisa menjaga hati perempuan yang gue cintai. Gue nggak mau hal buruk menimpa dia. Gue harus lindungin dia."

Alivio diam, amarahnya mereda di saat Megan mencoba buka suara soal apa yang sedang ia rasakan saat ini.

"Tadinya, gue kesini hanya mau minta maaf. Karena gue nggak bisa tetap bersama dia, gue mau jujur soal semuanya. Gue cuma mau lindungin dia, tapi semuanya malah menjadi seperti ini," ucap Megan, "Lo nggak ngerti masalah gue, Vi. Karena cuma gue yang rasain."

"Yaudah, lagipula sekarang ini lo sudah nggak ada artinya lagi di mata Mora. Untuk apa lagi lo minta maaf dan ketemuin dia? Dia sudah terlalu benci sama lo," ucap Alivio membuat Megan semakin saja melemah.

Megan benar-benar merasa kehilangan arah ketika tahu bahwa Mora sudah benar-benar membencinya sekarang. Seketika, Megan berlari pergi. Memasuki mobilnya cepat dan pergi dari sana secepat mungkin.

Mobil itu ia jalankan dengan kecepatan penuh, bertekad kembali lagi ke Bandung dengan amarah yang menggebu-gebu. Ia ingin marah pada dunia yang sudah membuatnya begitu terluka. Ia ingin marah pada semua orang yang tidak bisa memahami isi hatinya, tidak paham dengan apa yang ia inginkan. Sepanjang jalan, Megan hanya bisa memukul-mukul stirnya sembari menangis. Di kepalanya saat ini, ia hanya ingin bertemu teman-temannya. Satu persatu Megan menghubungi teman dekatnya, untungnya mereka semua masih berada di bar, tempat dimana semua usaha Destroyer sedang berjalan.

Megan langsung saja bergegas menemui mereka. Untung saja, keadaan tol hari ini jauh dari kata macet hingga memungkinkan Megan untuk menyetir dengan kecepatan penuh. Megan sudah tidak peduli lagi dengan sekitar, ia sudah tidak peduli jika mobilnya harus menabrak truk, atau bahkan terguling hingga beberapa meter jauhnya, atau bahkan terlempar ke jalur lain pun Megan sudah tidak peduli.

Hingga akhirnya, Megan sampai di Bandung pukul 3 pagi. Mobil itu langsung saja datang ke tempat dimana Destroyer berada. Setelah memarkirkan mobilnya, Megan langsung datang menemui Kelvin, Ramon, dan Claveron yang sedang duduk di bar sembari meminum bir yang sudah tersedia di sana.

"Gan!" Seru Kelvin, "Ada masalah apa? Lo kalau mau cerita atau minta pendapat lo masih punya kita, Gan.. jangan kelimpungan sendiri kayak gini.." ucap Kelvin sembari membantu Megan duduk di sofa tepatnya di sampingnya.

"Mora sekarang benci gue, Vin.." ucap Megan lemas.

Ramon langsung berdiri dan mengusap bahu Megan, "Gan, jangan gini lah.. Gue tahu, semuanya mungkin menyakitkan buat lo.. tapi lo jangan putus asa gini lah.. sumpah, gue nggak kenal sama Megan yang kayak gini.."

"Lo tahu nggak? Gimana rasanya kalau orang tua lo nggak merestui hubungan lo? Sakit," ujar Megan lagi dengan raut wajah yang sedih, "Setelah selama ini lo mencintai seseorang dan berharap kalau lo akan menikah dengannya tapi tiba-tiba, orang tua lo nggak setuju. Apa yang akan lo lakukan, Mon? Ketika harapan lo nggak berjalan sama dengan kenyataan.. itu semua sakit.. Gue tetap harus terima kenyataan kalau orang tua gue malah menjodohkan gue dengan orang yang nggak gue cintai sama sekali. Gue ingin mati rasanya!"

"Shush! Lo apaan sih Gan! Lo nggak boleh putus asa kayak gini! Lo mau kita ngapain sekarang? Bantu ngomong ke bokap lo?" Tanya Veron, "Tapi lo tahu sendiri bokap lo gimana kan? Dia nggak mau dengerin omongan orang lain."

"Gue nggak tahu lagi harus ngapain, gue nggak ada pilihan lain.." ucap Megan seraya menangis. Sementara teman-temannya hanya bisa diam, berada di samping Megan sembari mengusap bahunya pelan, berusaha menyabarkannya.

Tak lama setelah mencurahkan isi hatinya, Megan tertidur di sana. Jelas tak mungkin teman-temannya pun meninggalkannya sendirian. Lantas, Kelvin, Ramon dan juga Claveron pun langsung saja memejamkan matanya pula di bar itu, mencoba tertidur di sana walaupun sulit rasanya karena dingin juga tak ada selimut yang dapat menghangatkan tubuh. Kelvin yang kesulitan tidur pun hanya bisa memandangi sahabatnya yang kini sedang dilanda masalah, Megan yang sedari dulu ia kenal tidak seperti ini. Tapi Megan yang ia lihat sekarang adalah Megan yang frustasi, putus asa dan kehilangan arah hingga ingin mengakhiri hidupnya sendiri. "Sesakit itukah perasaanmu sekarang, Megan? Obat apa yang harus sahabatmu ini berikan padamu sekarang agar kau tidak harus merasakan sakit lagi?" Batin Kelvin dalam hati sembari menitikkan air mata dan perlahan terlelap tidur.

**

Pagi ini di Jakarta, langit begitu mendung tak seperti biasanya. Mora membuka matanya yang berat perlahan-lahan, sembari bangkit dari tidurnya. Kemudian, ia membuka pintu kamarnya berharap Megan ada di sana. Benaknya berkata, entah kenapa kemarin malam seperti mendengar suara Megan.. apakah itu hanya mimpi?

"Good morning!" Sapa Alivio tiba-tiba berada di samping Mora, "Mau sarapan apa hari ini? Sarapan bareng yuk keluar?"

"Vi.. gue kemarin malam kayak dengar suara Megan di sini.. Apa— semalam Megan datang ke Jakarta? Maksud gue, datang ke sini?" Tanya Mora berharap bahwa apa yang dia dengar bukanlah mimpi.

Alivio langsung menggeleng, "Nggak ada siapa-siapa, Ra.. Lo cuma mimpi.. lo pasti masih keingat Megan, makannya kebawa mimpi.."

Mora lalu menundukkan kepalanya kecewa, "Oh.. gitu ya, gue kira.. gue nggak mimpi.. ternyata cuma mimpi."

"Eits, jangan cemberut gitu dong. Kan masih ada gue di sini, sarapan yuk?" Ajak Alivio lagi, "Jangan sampai perutnya nggak di isi makanan lagi, nanti sakit. Mau sarapan apa? Mau gue yang beliin? Ini udah jam 8 pagi loh.."

Mora menggeleng pelan, "Sorry, Vi.. Gue lagi nggak mood. Besok-besok lagi aja ya?"

Alivio mengangguk tersenyum, kemudian mengusap puncak kepala Mora lembut, "Oke kalau gitu.. maaf ya kalau Rara lagi nggak mood. Kalau gitu gue beliin aja ya? Tunggu di sini nanti kita sarapan bareng, oke?"

"Oke," ujar Mora setuju. Kemudian dia kembali masuk ke kamarnya dengan raut wajah yang sedih. Dia tidak bisa bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Karena faktanya, ia masih memikirkan Megan yang entah kini sedang apa dan dimana.

Satu tangannya lalu meraih ponsel yang tergeletak di meja. Wallpaper ponsel itu masih memperlihatkan fotonya dengan Megan yang begitu bahagia sedang berlibur di Bali. Dia tidak kuasa menggantinya, tak ingin pula mengganti foto wallpaper itu dengan yang lainnya. Mora tidak dapat berdusta, bahwa ia ingin semuanya kembali seperti semula, sebelum masalah ini datang. Mora ingin Megan kembali..

"Megan kamu lagi apa? Apakah kamu baik-baik saja? Kamu menghilang entah kemana, adakah di sana kamu masih ingat aku? Aku kangen.. kangen banget.."

Di lain tempat, Kelvin baru saja terbangun dari tidurnya. Melihat ke sekitar, Ramon dan Claveron pun masih tertidur di sofa sembari mendengkur karena kelelahan. Tapi Kelvin tidak dapat menemukan Megan. Langsung saja tubuh itu bangkit dari sofa, "Gan!" Serunya memanggil nama salah satu sahabatnya itu.

Matanya kemudian melirik ke arah parkiran, berpikir bahwa mungkin saja Megan sudah pulang pagi tadi akan tetapi mobil Megan masih berada di sana. Kelvin kemudian berjalan ke arah bengkel, tapi Megan tidak di sana, seluruh sudut ia datangi tapi Kelvin tetap tidak dapat menemukan Megan. Lalu ia berjalan ke arah toilet yang berada di bar itu, yang masih dalam tahap renovasi. Begitu Kelvin membuka pintu itu, ia langsung saja terkejut saat mendapatkan Megan yang sedang menyayat-nyayat tangannya sendiri hingga darah jatuh bercucuran ke lantai.

"MEGAN!"

***

Kasihan Megan huhuhu:( kasih move on gak ya...

+100votes dan komentar sebanyak banyaknya ku lanjut juga minggu ini yaa! Byebye

-tbc-

Mora & Megan 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang