Selamat berpuasa bagi kalian yang menjalankan🙏🏻
Niii di temenin mora & megan sambil nunggu buka puasa hihi
Selamat membaca❤️
***
Megan sudah di sadarkan dari koma dan di pindah ke ruang inap. Walaupun belum pulih betul, Megan sudah bisa memberi respons yang positif. Dia dibangunkan untuk menilai keadaan kognitifnya setelah menjalani operasi besar. Megan sudah bisa mendengar orang yang berusaha mengajaknya bicara walaupun tidak bisa membalasnya. Alat bantu untuk bernapas pun masih belum bisa lepas dari tubuh Megan sepenuhnya. Sebetulnya masih banyak yang harus Megan lalui setelah kecelakaan itu. Tapi, Tuhan nyatanya berkata lain. Megan malah lebih dulu memberikan respons positif dan di nilai telah selamat dari kecelakaan itu.
Semua keluarga telah berkumpul mengerumuni Megan di ruangan itu. Betapa bahagianya wajah mereka ketika melihat kedua mata Megan yang sudah terbuka lebar. Walaupun Megan hanya bisa melihat mereka, rasanya sungguh seperti mukjizat yang luar biasa. Renatha bahkan menangis tanpa henti, berpikir kalau mungkin Tuhan mendengar doanya untuk segera menikah dengan Megan. Megan sadar tepat di dua minggu pernikahan mereka akan segera berlangsung setelah sempat mengundur tanggal pernikahan tersebut.
"Megan, kamu bisa mendengar Papa?" David menghampiri tubuh yang masih berada di atas tempat tidur rumah sakit itu dengan perasaan khawatir.
Megan hanya melihat Ayahnya sekilas lalu kembali menatap teman-temannya yang berada di samping kanannya. Seolah ingin mengatakan sesuatu pada Kelvin ataupun yang lainnya yang juga berada disana. Tapi, mereka pun tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Maka mereka hanya diam, saling memandangi Megan sambil mengucap syukur.
Renatha kemudian ikut menghampiri dan mengusap puncak kepala Megan lembut, "Aku lega kamu sudah sadar sekarang, sayang.."
Mendengar kata 'sayang' terlontar dari mulut Renatha, Ramon tersedak tiba-tiba. Membuat keheningan di ruangan itu hilang dan semua mata tertuju padanya. "Sorry."
Kelvin tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Ramon, "Maaf, biasa teman kami satu ini suka alergi sama kata sayang.."
"Kalau begitu kenapa tidak keluar dan menunggu di ruang tunggu saja?" Renatha langsung menyahut mereka dengan sarkas.
"Kami juga teman terdekat Megan, ingin tahu keadaan Megan. Apa nggak boleh?" Claveron membalas.
"Biarkan mereka ada disini, Renatha.." David menengahi, "Mereka ini memang sahabat dekatnya, Megan.. jadi, biarkan mereka ada disini."
Megan melihat ke arah Renatha dengan pandangannya yang masih buram. Sentuhan tangan itu tidak terasa seperti sentuhan tangan yang ia cari. Suara itu pun bukan seperti suara yang selama ini ia tunggu. Maka, Megan berusaha tidak menghirukan dia yang ada di samping kiri Megan yang sedang berusaha bersikap lembut padanya.
Tiba-tiba pintu kamar mewah itu terbuka, dan memunculkan Alivio dan juga Mora. Semua pandangan tertuju pada Mora sekarang. Mora yang begitu senang bukan main langsung saja berjalan pelan menghampiri Megan yang benar-benar sudah sadar dari koma sekarang. Begitu tubuh kecil Mora berada di samping kanan Megan, pandangan Megan langsung saja memandangi Mora lama, seakan tahu bahwa inilah orang yang sedari tadi ia cari dan inginkan ada di ruangan itu.
"Aku senang kamu sudah sadar," Mora berucap sembari menangis terharu, "Kamu sudah tidur terlalu lama.. aku nggak suka lihat kamu kayak kemarin. Jangan lagi buat khawatir, oke?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mora & Megan 2
RomantizmMora dan Megan terpaksa harus menjalani Long Distance Relationship saat Mora harus menempuh S2 di Kota Jakarta. Sementara Megan harus menetap di Bandung karena harus mengurus bisnisnya dengan 'Destroyer'. Janji mereka, keinginan mereka, begitu tersu...
