Alivio siang ini sedang berada di kedai kopi bersama temannya, Ressa. Sembari bertanya soal tugas, Alivio pun juga sedikit bercerita mengenai perempuan yang sulit dia raih untuknya, siapa lagi kalau bukan Mora? Perempuan itu memang sulit di tebak, dan tentunya membuat siapapun jadi penasaran. Alivio begitu ingin dekat dengannya, tapi sepertinya Mora belum mengizinkannya untuk itu.
"Jadi.. gimana? Lo pengen nembak Mora, gitu?" Tanya Ressa sembari menyeruput kopi susu dari kedai kopi favoritnya itu.
Alivio diam sebentar, lalu mengangguk, "Susah sih sebenernya, apalagi sekarang. Dia malah jaga jarak sama gue setelah gue jujur soal perasaan gue. Emang si Megan ini punya apa sih? Dia emang ganteng sih, terus tinggi, tajir.. wah banyak juga yang dia punya ya."
Ressa tertawa lebar, "Jadi apa? Masih mau nanya tuh orang yang namanya Megan punya apa?"
"Wah kacau lo! Lo tuh temennya gue apa si Megan sih?!" Seru Alivio kesal, namun Ressa tetap tertawa.
"Ya lo harus bisa lebih baik dari Megan lah, bro! Megan emang punya segalanya, tapi mungkin dia punya titik lemah nya juga. Dan bisa jadi, titik lemahnya itu ada di lo. Lo punya apa yang Megan nggak punya. Simple kan?" ujar Ressa membuat Alivio kontan saja berpikir. Apa yang Megan tidak punya?
"Lo bener juga sih! Gue harusnya bisa tahu apa yang Megan nggak punya dari cerita-cerita Mora," Jawab Alivio, "Dari cerita-cerita Mora yang gue tangkep sih, Megan tuh sebenernya orang yang hampir sempurna. Perhatian iya, baik iya, setia juga iya. Tunggu! Setia ini sih! Setau gue, Megan ninggalin Mora karena tunangan sama cewek lain, yang katanya sih karena orang tuanya Megan nggak setuju kalau dia punya hubungan sama Mora."
"Ya buktikan lah sama dia, kalau lo tuh orang yang super setia!" Sela Ressa dengan semangat.
Alivio ikut mengangguk semangat, "Ya! Mungkin itu salah satu caranya!"
"Tapi.. gue sebenernya pernah sih tanya ke salah satu temen gue di kelas yang dulunya pernah tinggal di Bandung juga," Timpal Ressa, "Dia kenal sama Megan, katanya sih di Bandung si Megan tuh orang terkenal. Punya komunitas yang paling di takutin sama orang-orang disana. Lo mestinya perlu hati-hati juga sih kalau pengen sama si Mora, apalagi keadaannya sekarang si Megan masih ngejar-ngejar Mora kan?"
"Halah, nggak takut gue!" Seru Alivio merasa yakin, "Emang— komunitasnya kayak gimana sih? Paling juga anak-anak kemaren sore gituan ya nggak?"
Ressa menggeleng, "Ya nggak tahu! Ya lo hati-hati aja. Pastiin sebelum lo nembak Mora, lo harus udah tahu si Megan ini emang udah berhenti sama Mora atau belum. Kalau belum kan? Siapa yang tahu?"
"Iya iya! Lagian juga gue nggak bakal nembak dia dalam waktu dekat ini kok." Tegas Alivio.
"Terus kapan?"
"Nggak tau, yang jelas gue pengen bikin dia nyaman dulu sama gue, Sa. Doain ya!" Jawab Alivio dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Berharap kalau Mora akan membuka hati untuknya.
Hari sudah berganti menjadi malam. Malam ini Mora baru saja pulang dari kampus setelah mengikuti ujian akhir. Seharian ini Mora berada di kampus, menyibukkan diri dengan membaca buku di perpustakaan, membuat tugas, dan membaca referensi untuk jurnalnya nanti. Setelah selesai dengan urusan kampus, Mora pun berjalan kaki sendirian menuju halteu untuk pulang.
Entah kenapa, Mora lebih senang menyendiri di kota ini, tidak seperti waktu SMA, yang selalu banyak teman di sekelilingnya. Dia lebih senang sendiri dan tidak banyak bicara. Kecuali memang orang itu terasa klop dengannya, mungkin saja Mora mau berteman. Tapi, untuk saat ini, mungkin sendiri saja lebih baik. Biasanya ada Alivio yang menemani, tapi sekarang Mora masih tetap ingin menjaga jaraknya terlebih dulu dengan Alivio.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mora & Megan 2
RomanceMora dan Megan terpaksa harus menjalani Long Distance Relationship saat Mora harus menempuh S2 di Kota Jakarta. Sementara Megan harus menetap di Bandung karena harus mengurus bisnisnya dengan 'Destroyer'. Janji mereka, keinginan mereka, begitu tersu...
