Mora mondar-mandir tak karuan di depan kampusnya, menunggu seseorang datang. Hari ini ia sudah membuat janji dengan seseorang yang ia pikir adalah calon istri dari mantan pacarnya yang paling ia cintai. Menyakitkan memang, tapi katanya ada yang harus dibicarakan. Mora dengan berat hati mengiyakan pertemuan itu walaupun dalam hatinya ia benar-benar tak ingin mengenal perempuan itu, cukuplah hanya sebatas 'tahu'. Alivio sebenarnya sudah bilang, jangan mengiyakan pertemuan itu, tapi Mora tidak ada pilihan lain ketika perempuan itu memohon untuk bertemu dengannya. Lagipula kenapa harus bertemu dengan Mora? Bukankah Megan memang sudah melepaskan Mora?
Tak lama, mobil sedan hitam melaju agak melambat ke arahnya, Mora sudah tahu bahwa itu adalah 'dia', perempuan yang sudah bisa dikatakan calon istrinya Megan. Mora berusaha tegar ketika benar mobil itu berhenti tepat di hadapannya. Beberapa detik kemudian seseorang turun dari mobil itu, "Mora, ya?" Tanyanya.
Cantik. Begitulah kata yang ingin Mora lontarkan ketika Mora melihat calon istri Megan. Begitu cantik hingga membuat Mora ingin menangis karena mungkin Megan pantas mendapatkan perempuan yang lebih dari dirinya.
"Iya, kamu.. Renatha?" Mora balik bertanya, memastikan.
Perempuan itu mengangguk, "Iya, Renatha. Kayaknya kurang enak kalau kita diem disini, masuk ke mobil dulu aja yuk?"
Mora tersenyum tipis lalu berjalan memasuki mobil itu. Jantung berdebar begitu kencang ketika ia baru saja duduk di jok depan, di samping Renatha yang kini sedang menyetir mobilnya keluar dari area kampus. Lalu, kedua matanya tiba-tiba saja menangkap foto Megan yang menggantung di kaca spion dalam mobil. Sebetulnya itu terlihat seperti nametag Renatha, tetapi foto depannya diganti dengan memakai foto Megan. Melihat itu, Mora rasanya begitu ingin menangis, dan berteriak sekencang-kencangnya. Tetapi Mora tidak ingin terlihat rapuh di depan Renatha, maka dari itu dia hanya menahan air mata itu untuk tidak jatuh dan berusaha setegar mungkin.
"Lama sekali.. Megan sudah menggantikan aku dengan kamu ya," ucap Renatha yang justru membuat benak Mora bertanya, 'apa maksudnya?' Tapi sekali lagi, Mora lebih memilih untuk diam.
"Sebelum dengan kamu, Megan adalah milikku. Megan adalah pacarku. Tapi karena suatu hal, dia pergi dan berpacaran denganmu." Lanjut Renatha.
"Karena kau mematahkan hatinya," Sela Mora dengan berani, "Kau selingkuh darinya."
Renatha diam, ia tak menyangka bahwa Mora sudah tahu semua tentang dirinya, "Baguslah kalau kau sudah tahu. Dan sekarang, Megan kembali padaku. Mungkin dia memanglah jodohku. Sejauh apa dia pergi, dia tetap kembali padaku walaupun aku pernah menyakitinya."
"Baguslah kalau memang Megan jodohmu, setidaknya aku sudah tidak perlu berhubungan lagi dengan laki-laki pencemburu seperti dia," Jawab Mora dengan suara yang bergetar, hancur sudah hatinya.
Renatha tersenyum mendengar itu, "Dia memang pencemburu, tapi itu tandanya dia memang sayang pada pasangannya. Dia adalah laki-laku terbaik yang pernah aku temui, aku bersyukur bisa kembali bersamanya lagi.."
"Lalu apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Mora yang sudah semakin panas dengan percakapan itu.
"Lepaskan dia, Mora." Ucap Renatha, "Jangan pernah mengingatnya lagi, jangan pernah mencoba menghubunginya lagi, dan jangan pernah menemuinya lagi. Lepaskan dia, dari hatimu."
Mora benar-benar tak kuasa menahan tangisnya, tanpa sadar, air mata sudah jatuh mengalir ke pipi, "Bagaimanapun, aku pernah berpacaran dengannya sekian lama. Kalau kau ingin aku tak lagi mengingatnya, aku sedang berusaha, butuh waktu memang untuk melepaskannya dari ingatanku, dari hatiku. Oleh karena itu, aku tidak pernah mencoba menghubunginya lagi atau bahkan menemuinya. Aku sadar diri, aku bukan siapa-siapanya lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mora & Megan 2
RomanceMora dan Megan terpaksa harus menjalani Long Distance Relationship saat Mora harus menempuh S2 di Kota Jakarta. Sementara Megan harus menetap di Bandung karena harus mengurus bisnisnya dengan 'Destroyer'. Janji mereka, keinginan mereka, begitu tersu...
