Chapter 33 - Berjuang

3K 251 414
                                        

Chapter ini ku persembahkan untuk kalian-kalian yang udah semangatin aku hari ini! Hihi

Selamat membaca guys! I love you all!🥰❤️

***

Mesin yang berfungsi untuk menunjang atau membantu pernapasan itu sekarang menemani Megan berjuang untuk hidupnya sendiri. Megan belum bisa bernapas sendiri, maka alat itu ada untuk membantu Megan bernapas dan mendapatkan udara layaknya bernapas secara normal. Semua orang yang datang untuk Megan, satu persatu di perbolehkan masuk ke dalam ruangan ICU— dimana Megan berada, untuk melihat keadaannya setelah melakukan tindakan operasi. Tidak banyak yang boleh melihat keadaannya, hanya orang-orang terdekatnya saja, termasuk Mora.

Mora menjadi orang yang paling terakhir yang boleh melihat keadaan Megan, sementara teman-teman Destroyer dan Alivio menunggunya diluar. Kedua orang tua Megan dan juga Renatha adalah orang-orang paling pertama yang bisa masuk ke dalam ruangan ini. Mereka sekarang sudah pergi darisana, Mora tak tahu kemana yang jelas kini hanya ada dia dan juga Megan di ruangan ini.

Begitu masuk ke dalam ruangan itu, Mora menangis tersedu-sedu lantaran melihat banyaknya alat yang terpasang di tubuh Megan, sekujur tubuhnya terdiam kaku dengan kedua mata yang juga terpejam. Mora hanya bisa duduk di samping tubuh Megan yang sedang tertidur begitu pulasnya hingga tak bisa melihat kedatangan Mora malam ini.

"Kata orang— seseorang yang koma bisa mendengar suara di sekitarnya," Mora mulai bicara, suaranya bergetar, "Megan, bisakah kamu dengar aku sekarang?"

Kedua mata Mora menatap wajah Megan dari samping, betapa hancurnya ia saat melihat seorang yang ia cintai, yang ingin menemuinya hari ini ternyata harus berakhir seperti ini, di tempat ini. Mora tidak bisa menahan tangisnya sendiri. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi tidak bisa ia lakukan.

"Padahal— harusnya malam ini kita lagi senang-senang ya Megan? Kamu ada di Jakarta malam ini, lagi ketawa-ketawa sama aku.." Mora mencoba tegar, dan menghapus air matanya.

"Aku tahu kamu bisa dengar aku, kan? Megan— inget nggak pertama kali kita bertemu? Kamu memergoki aku yang sedang bolos pelajaran di kantin!" Mora tertawa kecil, "Waktu itu aku kaget banget, darimana kamu tahu aku ada di kantin?"

"Terus, kamu tiba-tiba jemput aku waktu itu habis nonton sama Acel dan juga Clara. Kamu bilang kalau aku harus selalu minta tolong ke kamu untuk minta antar jemput. Aku sempat tanya, kenapa? Karena aku merasa aku bukan siapa-siapa kamu. Tapi lucunya, kamu jawab kalau aku ini calon pacar kamu," sambung Mora sembari memegangi tangan Megan.

"Setelah itu.. berbagai masalah kita hadapi. Aku bahkan sempat kehilangan kamu waktu itu karena Belva. Tapi sekarang, aku nggak mau lagi.."

Mora menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, "Aku nggak mau lagi ngerasain— gimana tersiksanya aku saat kehilangan kamu. Apapun itu masalahnya, aku dan kamu selalu bisa lewatin itu semua. Dan aku pengen—"

"Melakukan hal yang sama sekarang," ujar Mora sembari sesenggukan, "Aku mau berjuang untuk kamu gimanapun kondisinya. Termasuk berjuang di hadapan kedua orang tua kamu. Aku nggak mau lihat kamu nikah sama orang lain, Gan.. aku nggak bisa bayangin gimana sakitnya dan berapa lama aku bisa menyembuhkan sakit itu.."

"Biar aku yang berjuang disini, untuk kita. Dan kamu— kamu hanya perlu berjuang untuk diri kamu sendiri sekarang, untuk kesembuhan kamu," Mora menghela napasnya berat, "Ya walaupun, sebelumnya kamu bilang.. kalau kamu ingin berjuang juga untuk kita. Sekarang biar aku saja yang lakukan semuanya.. aku nggak akan menyerah soal kamu."

Mora & Megan 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang