'Tuuut..Tuuut.. Nomor telepon yang anda panggil saat ini tidak dapat menerima panggilan—'
Belum saja operator seluler selesai bicara, Megan yang sudah terlanjur kesal langsung saja mematikan ponselnya frustasi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kemana sih tuh cewek satu itu!" Seru Megan membuat Kelvin yangy tengah sibuk disana berbalik badan. Pasalnya, hari sudah larut malam dan Mora masih saja belum memberikan kabar pada Megan.
"Kenapa, Gan?" Tanya Kelvin, "Sini lu bantuin masukin barang mendingan." Lalu kembali terfokus pada barang yang baru saja ia akan rapihkan untuk keperluan bengkel mereka.
"Ini si Mora!" Jawab Megan penuh penekanan, "Dari pagi belum juga kasih gue kabar! Emangnya gue patung?! Gak dikasih kabar sama dia bakal diem aja?!"
"Yaudah lo coba sabar.." Setelah merapihkan barang, Kelvin lalu duduk di samping Megan berusaha menenangkannya, "Mau coba gue yang telepon? Kali aja dia lagi bete sama lo?"
Megan melirikkan matanya pada Kelvin menyetujui, "Coba aja."
Kelvin lalu dengan segera mengeluarkan ponselnya itu dari saku jaketnya, kemudian langsung menekan-nekan tombol pada layar, mencari nomor Mora dan mencoba menghubunginya. Dengan harapan Mora akan mengangkat teleponnya dan berhenti membuat Megan, sahabatnya cemas.
'Tuut.. tuut.. Maaf sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Segera isi ulang pulsa anda!'
Mendengar hal itu, Megan langsung saja membuang muka pada Kelvin.
"Hehehe. Sorry, Gan. Ternyata pulsa gue abis," ujar Kelvin sembari nyengir.
Selang beberapa menit dari itu, tak lama Mora menelepon Megan. Kontan saja Megan langsung menegakkan tubuhnya dan tanpa babibu lagi mengangkat telepon itu, "Ra! Darimana aja sih!" Seru Megan benar-benar sudah sangat jengkel.
"Dari— abis refreshing aja kok sama temen kampus. Maaf ya baru bisa ngabarin soalnya ini juga baru pulang dan baru bisa main handphone." Jawab Mora tanpa bersalah.
"DARIMANA?!" Sentak Megan tak bisa lagi mengontrol emosinya.
"Dari—"
"IYA, DARIMANA KAMU SEHARIAN INI HAH?!" Sela Megan makin kesal.
"Abis main tadi sama Alivio, temen kampus. Awalnya cuma makan siang bareng aja tapi tadi dia ngajak keliling Jakarta.."
Megan mengernyit, "Alivio? Alivio siapa?! Cowok maksud kamu?"
"Iya.. temen kampusku.. maaf ya, baru bisa kenalin ke Megan sekarang, soalnya Mora—"
Belum saja Mora selesai menjawab, Megan sudah langsung naik pitam, "Oh, jadi baru beberapa hari disana udah jalan sama cowok lain? Bagus ya, Ra. Gimana Megan bisa percaya sama kamu kalau kayak gini caranya?"
Mora langsung menelan ludahnya sendiri, "Ya tapi bukan gitu.. Mora belum kenal banget sama temen kelas Mora, cuma karena Vio temen kost ku jadi—"
"Temen kost pula? Wah hebat dong ya. Sudah sering main berarti? Kenapa nggak cerita sama Megan dari awal?" Tanya Megan sarkas.
"APAAN SIH! KOK JADI NGELANTUR GITU?!" Mora jadi sama-sama terbawa emosi. "DIA SATU-SATUNYA TEMEN YANG AKU KENAL SEMENJAK AKU PINDAH KE JAKARTA!"
"Ohya? Hanya karena dia sudah kenal kamu dari awal kamu pindah lalu kamu seenaknya memberi alasan pada Megan seperti itu, Ra?" Tanya Megan, "Kamu tahu betul Megan nggak suka pacar Megan jalan berduaan sama laki-laki lain. Perasaan orang nggak ada yang tau, Ra. Kalau diem-diem dia suka kamu? Apa yang bakal kamu lakuin? Kalau dia jalan sama kamu ternyata ada maunya? Kamu bisa apa disana Ra?! Megan jauh dari kamu, Megan bisa apa kalau kamu kenapa-kenapa? Megan cuma khawatir!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mora & Megan 2
RomanceMora dan Megan terpaksa harus menjalani Long Distance Relationship saat Mora harus menempuh S2 di Kota Jakarta. Sementara Megan harus menetap di Bandung karena harus mengurus bisnisnya dengan 'Destroyer'. Janji mereka, keinginan mereka, begitu tersu...
