"Woy! Rara!" Seru Alivio menyadarkan lamunan Mora, "Masih pagi kok sudah melamun? Ada apa?"
Mora yang langsung tersadar dari lamunan pun hanya mengusap wajahnya kesal, "Gue berantem sama pacar gue, Vi.."
Alivio mengernyitkan dahinya, "Berantem karena?"
"Karena gue jalan sama lo dan lupa bilang sama dia."
Mendengar itu, Alivio langsung saja menghembuskan napasnya pelan, "Ra.. gue pikir selama ini lo udah ngomong sama cowok lo. Dan fine aja gitu menurut dia kalau lo jalan sama gue. Kalau tahu dia semarah itu, gue juga nggak bakal kok ngajak lo jalan. Karena gue menghargai hubungan kalian berdua, nggak mau jadi perusak."
Mora kemudian mengacak-ngacak rambutnya kesal, "Masalahnya tuh menurut gue dia keterlaluan banget, Vi! Berlebihan! Terlalu over protective tahu nggak sih! Gue nggak suka kalau Megan begitu! Cuma hanya karena kabar aja dia marahnya kayak gitu nyebelin banget kan?!"
"Tandanya dia sayang banget sama lo kok, Ra." Jawab Alivio tenang, "Cowok itu.. kalau dia over protective sama lo, itu tandanya dia nggak mau kehilangan lo."
Mora terdiam mendengarkan apa yang Alivio katakan.
"Kalau cowok sudah cuek, intinya dia nggak mau sama lo. Kenapa? Karena nggak ada tuh di kamus gue kalau cowok cuek sama pasangannya tandanya dia sayang, basi! Kalau ceweknya jalan sama cowok lain, terus ceweknya main tanpa sepengetahuan dia, terus juga ceweknya nggak kasih kabar ke dia, dianya masih aja cuek? Apa itu mencerminkan sayang? Cinta? Itumah cowoknya berarti cuma mau pacaran berstatus doang, sayangnya hatinya nggak di pake! Sudah jelas-jelas dia nggak peduli sama lo." Jelas Alivio panjang lebar, "Jadi, selama dia masih peduli sama lo, seharusnya lo bersyukur, karena dia masih sayang sama lo. Takutlah kalau dia sudah merasa cuek sama lo, itu tandanya? Dia nggak peduli sama lo, dah bahkan dia udah nggak sayang lagi sama lo."
"Iya.. tapi tetep aja gue kesel. Megan tuh selalu kayak gini, cemburuan, gimana gue mau bergaul sama orang banyak kalau dia punya sifat cemburuan? Kan nggak banget!"
Alivio tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut Mora pelan, "Lo tuh masih nggak ngerti ya? Dia begitu karena dia sayang sama lo. Jadi lo mendingan pikir lagi deh, masa iya lo yang kesel? Harusnya juga pacar lo yang kesel sama lo sekarang! Rara.. rara.. umur segini masih aja mikirnya kayak bocah!"
"Sial! Apa?! Apa lo bilang?! Bocah???" Sentak Mora hingga memanyunkan bibirnya kesal, membuat Alivio tertawa terbahak-bahak karenanya.
"Sudah, sudah.. iya maaf ya? Sekarang, lo kabarin aja dulu Megan nya ya? Kalau dia nggak apa-apa, baru deh kita main lagi deh nanti, gue yang traktir semuanya! Okay? Bye, see ya, gue masuk kelas dulu ya!" Seru Alivio seraya memakai tas gendongnya sembari melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Mora sendirian di kantin.
Sepeninggalannya Alivio, Mora berpikir, kalau semenjak malam kemarin, Megan pun belum memberinya kabar lagi. Entah karena dia masih marah soal kemarin atau memang belum sempat memberi kabar. Maka, hari ini Mora bertekad untuk tidak memberi kabar pada Megan dan menunggu hingga Megan mau menghubunginya lebih dulu. Mora berpikir cara ini lebih baik karena mungkin saja Megan akan lebih enak diajak mengobrol dengan kepala dingin nantinya.
**
Mora keluar kelas sore ini dengan wajah suntuk, dia terlihat bingung dan juga frustasi karena sudah tiga hari ini Megan belum juga memberinya sebuah kabar. Mora bukannya tidak mau menghubunginya duluan, Mora bahkan pernah menelepon dengan nomor Alivio tapi tetap saja tidak ada jawaban. Kenapa mencoba menelepon dengan nomor Alivio? Karena Mora terlalu gengsi jika harus lebih dulu menelepon Megan. Dalam hatinya ia masih tetap merasa kalau dia tidak bersalah.
"DOR!" Seru Alivio berteriak di telinga kanan Mora membuat Mora terkejut karenanya.
"Vio ih! Berisik tahu! Sakit telinga gue!" Seru Mora jengkel.
"Masih aja tuh mukanya begitu, kenapa? Masih belum dapat kabar dari Megan?" Tanya Alivio, yang tahu persis soal Megan yang seolah menghilang selama tiga hari ini, membuat galau Mora.
"Yaiya! Dia— belum ngabarin gue juga." Mora berkata sembari menundukkan wajahnya sedih. "Apa.. tandanya Megan udah nggak sayang sama gue, Vi?"
Mendengar itu, Alivio langsung memudarkan senyumannya, "Hey, masa iya sih Megan semudah itu menghilangkan perasaannya dia? Nggak semudah itu, Ra. Nggak semudah itu menghilangkan perasaan sayang dalam hubungan yang sudah terjalin lama."
"Terus? Kenapa Megan nggak pernah kabarin gue, Vi? Kenapa sekarang Megan jadi cuek? Lo sendiri yang bilang sama gue kan? Kalau cowok gue cuek berarti dia sudah nggak peduli sama gue, iya kan? Dan sekarang gue takut, Vi.." ucap Mora dengan kedua matanya yang sudah sangat berkaca-kaca.
Alivio menghembuskan napasnya pelan, "Lo— nggak boleh berpikir negatif kayak gitu, Ra.. Dia pasti kabarin lo lagi kok, ya? Lo tenang dulu.. atau, gimana kalau kita sekarang makan siang? Terus lanjut main deh? Biar lo nggak sedih lagi.. gimana?"
"Gue mau— tapi, otak gue tetep aja mikirin Megan, Vi.."
"Hey, hari ini gue mau buat lo ketawa lagi," ujar Alivio, "Gue mau buat lo lupa soal masalah-masalah lo. Okay? Udah jangan sedih, gue nggak suka lihat lo sedih."
"Kenapa?" Tanya Mora, "Kenapa lo nggak suka lihat gue sedih?"
"Karena— karena lo jelek kalau sedih!" Seru Alivio salah tingkah, "Yuk kita pergi!" Satu tangannya lalu menarik tangan Mora pergi dari sana.
Waktu berjalan sangat cepat, Alivio mencoba menghilangkan kesedihan Mora dengan mentraktir makanan favoritnya. Tapi, tetap saja. Alivio hanya dapat melihat wajah murung Mora walaupun makanan favoritnya sudah tersedia di meja. Tidak ada wajah ceria Mora yang biasanya terlukis di wajahnya. Alivio begitu kebingungan soal ini, bagaimana caranya Mora tertawa kembali?
Lalu, tiba-tiba saja hujan turun. Alivio lantas membawa Mora cepat-cepat menaiki motornya setelah selesai makan malam dengannya. Mora sempat menolak, karena diluar hujan, Mora tidak ingin pergi sekarang karena seluruh bajunya akan basah. Tapi, Alivio memaksa. Lalu dengan keterpaksaannya akhirnya Mora pun menyetujuinya.
Malam ini, Alivio dan Mora berada di atas motor sembari menikmati hujan di malam hari yang entah kenapa begitu menyegarkan. Apalagi Mora, entah kenapa tiba-tiba saja kesedihan itu hilang. Mora menghembuskan napasnya berkali-kali, berusaha melupakan sejenak seluruh pikirannya soal Megan. Kemudian, wajahnya ia dongakkan ke atas sembari berteriak, "Woohooo!! Hujan.. tolong turun sebanyak-banyaknya!" Seru Mora sembari tertawa senang membuat Alivio pun ikut tertawa.
"Mora senang?" Tanya Alivio.
Mora mengangguk, "Tentu saja!"
"Syukurlah," Balas Alivio, "Setidaknya nanti kalau Mora sudah seperti semula dengan Megan, aku pernah berjuang membuatmu tertawa ketika kamu sedang butuh tertawa."
Mora diam ketika mendengar itu, ia tiba-tiba saja enggan berucap, merasa tersentuh dengan apa yang sedang Alivio lakukan hanya untuk membuatnya tertawa.
Setelah puas berputar mengelilingi Jakarta sembari hujan-hujanan, mereka pun akhirnya pulang ke kostan dengan keadaan basah kuyup. Selesai memarkirkan motor, Alivio dan Mora berjalan masuk memasuki kost sembari tertawa, membahas hal bodoh yang baru saja mereka lakukan hanya untuk membuat Mora lupa soal kesedihannya itu.
Namun, baru saja mereka sadari, seseorang terlihat sedang duduk di depan pintu kost Mora sendirian, sembari meringkukkan badannya karena kedinginan. Mora lantas menghampiri seseorang itu, merasa hafal dengan jaketnya yang begitu khas dimatanya, "Megan?"
***
Soooo, gimana chapter ini gais? Hihihi jadiii, karena jawabannya kebanyakan 'tiap hari' hehehe kusimpulkan saja kalian jawab B yaa. Mora & Megan Season 2 tidak ada jadwal update tapi akan sering update hihihi walaupun gak tiap hari yhaaa!
Hehehe gimana gimana chapter ini? Serukah? Nungguin next chapternya gak? Huihihi give me ur vote and comments bebih!
-tbc-
KAMU SEDANG MEMBACA
Mora & Megan 2
RomanceMora dan Megan terpaksa harus menjalani Long Distance Relationship saat Mora harus menempuh S2 di Kota Jakarta. Sementara Megan harus menetap di Bandung karena harus mengurus bisnisnya dengan 'Destroyer'. Janji mereka, keinginan mereka, begitu tersu...
