Dunia Mereka

375 86 17
                                        

-

Biru langit berkabut awan oranye muda, mentari tampak akan tenggelam di ufuk barat. Lalu angin mengajak beberapa helai daun yang jatuh dari pohon untuk menari bersama,

Salah satu daun yang berwarna kecoklatan memilih untuk mendarat di atas surai hitam seseorang, tampaknya nyaman bertengger disana.

Baru saja ia mendarat, si daun kembali terhempas, diusir pergi oleh sebuah tangan yang tidak menyukai kehadirannya,

"Ada apa?"

"Ada daun nempel."

Kedua insan itu kembali diam dalam hening. Tangan kembali bertautan, masih duduk di tangga koridor sekolah dengan dua kaleng susu karamel di sebelah kaki kiri si surai pemilik hitam.

Tangga koridor itu adalah tempat pertama keduanya jujur pada perasaan masing-masing, menyadari bahwa mereka saling membutuhkan, melengkapi rongga kosong dalam hati.

Eksistensi masing-masing menjawab keraguan mereka saat terkubur dan tersadarkan oleh ketidakpastian teori,

Sekali lagi, tatapan hangat yang sama bisa dirasakan, pemuda bersurai hitam itu merasa nostalagia, teringat masa lalu, kejadian yang sama, seperti sebuah reka ulang.

"Kamu merhatiin aku terus, ya, Eunsang? Dari awal sampai akhir."

Yang bernama Eunsang membalasnya dengan senyuman kecil,

"Aku kan tidak pandai berbicara, jadi kuharap kau pintar dalam membaca bahasa mata."

Si surai hitam tertawa kecil, "Tapi aku belum pernah belajar telepati maupun bahasa mata." Lalu tangannya meraih sekaleng susu karamel yang merupakan miliknya, kemudian mengambil satu tegukan dan meletakkan kaleng tadi kembali pada tempatnya.

"Dongpyo tidak tahu, ya?" yang ditanya mengangguk,

"Sini kuberitahu."

Tanpa melepas tautan tangannya di Dongpyo, Eunsang membalikkan badan ke samping untuk menghadap penuh kekasihnya. Tangan yang bebas meraih tangan Dongpyo yang satunya.

Eunsang mengedipkan dua matanya berulang kali, "Kalau ini berarti aku sedang kaget."

"Oh... Kaget, oke..."

"Kaget karena terpana oleh kekasihku yang cantik ini. Saking bersinarnya, mataku perlu berkedip berulang kali untuk mengatur cahaya yang masuk. Jika tidak kuatur, nanti mataku buta dan aku akan menyesal karena tidak bisa melihat kecantikannya lagi."

"O-oh-" Bersamaan dengan menggigit bagian bawah bibirnya, Dongpyo bisa merasakan pipi bagian kiri dan kanannya memanas, "Kemudian apalagi?" Selama jadian dengan Eunsang, ia harus  tahan dengan kelakuan kekasihnya yang suka merayu itu.

"Lalu mata ini-"

"Oh, jadi kalian bolos latihan disini ya? Udah bolos, mojok pula."

Eunsang dan Dongpyo terperanjat, genggaman tangan masih belum lepas. Keduanya menoleh ke belakang mereka, ke arah sumber suara,

"Yunseong!" seru Dongpyo duluan.

"Jangan menyebut namaku tanpa tambahan hyung atau sunbae."

"Tapi kan... Minhee kok boleh manggil Yunseong doang?" tanya Dongpyo tidak terima akan diskriminasi seperti ini, "Padahal kan Minhee juga lebih muda!"

Eunsang menimpali, "Iya, Minhee juga sering manggil Yunseong tanpa embel-embel tuh."

Yunseong merasa rahasianya terancam mengalihkan pembicaraan, "...Lagian kalian kenapa berduaan di tempat seperti ini?" ekspresinya ia ubah seperti orang bingung, seperti ekspresi sehari-harinya, melongo dalam keheningan dan dimensi.

Dongpyo mendecih, tahu Yunseong berusaha mengalih pembicaraan. Padahal Dongpyo sudah tahu hubungan Yunseong dengan Minhee yang sedang dalam pendekatan.

Bagaimana ia bisa tidak tahu jika Minhee setiap pagi datang ke kelas langsung berlari ke meja Dongpyo dan menari-nari seperti gelombang ombak laut sambil berkata, "DONGPYO, YUNSEONG BILANG SELAMAT MALAM TERUS BILANG SEMOGA MIMPI INDAH HUWEEEE-"  lengkingan Minhee ketika hatinya dibawa ke langit ke tujuh oleh Yunseong bahkan bisa menandingi lengkingan Dongpyo saat Dongpyo menceritakan rayuan Eunsang yang tidak ada habisnya.

"Soalnya disini sepi," jawab Eunsang singkat, ia masih tersenyum melihat Dongpyo yang mendecih karena sebal tadi,

Kapan-kapan aku mau buat Pyo marah ah, kayaknya lucu.

"Tempat sepi kan bahaya, udah sore juga, kalian nggak pulang?" Yunseong masih berusaha untuk mengusir topik Minhee dengan menanyakan hal yang tidak penting, "Kalau kalian mau bolos, sebaiknya pulang saja."

"Wah Yunseong nyaranin kita buat bolos beneran, Sang! Ayo kita pulang." Dongpyo segera melepas kedua tangannya yang tadi bertautan dengan Eunsang, ia berdiri, memakai ransel kecilnya dan menarik tangan Eunsang untuk bangun. Lalu keduanya pergi meninggalkan Yunseong.

"Eunsang, nanti mampir ke supermarket, ya. Mau beli pudding, lagi pengen yang manis-manis!"

"Orang manis makanannya yang manis juga ternyata."

Yunseong, masih dengan wajah datar dan mulut yang sedikit mangap memperhatikan keduanya. Lalu ia manggut-manggut seolah mengagumi keahlian Eunsang yang selalu merayu di setiap kesempatan,

Nanti kupakai ke Minhee, deh.

-
Sebenarnya cerita ini belum tamat

ʟιĸᴇ ᴀ ғʟᴏᴡᴇʀ, нᴇ ᴡιтнᴇʀᴇᴅ | ᴇυɴᴘʏᴏTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang