❝Kalo ada apa-apa tuh bilang.❞ - Lee Eunsang
❝Yaudah santai dong, ga usah ngegas.❞ - Shin Ara
Everyone was pretend to hide their own pain.
There is a story behind.
Just ease.
Slowly.
warn⚠️
°contains harsh words, typo, baku - non baku, etc
°latar...
Kelas yang tadinya gaduh mendadak hening ketika Pak Seonho -wali kelas XI-IPA 2 –masuk. Ia membenarkan kerah kemejanya. Matanya mengitari satu persatu seluruh siswa yang ada di ruangan. Sampai akhirnya ia berdeham pelan.
“Jadi, langsung saja ya. Bapak ngga suka basa-basi. Siapa yang berniat mengajukan diri jadi ketua kelas?”
Ruangan itu masih hening. Belum ada yang mengangkat tangan.
Yohan yang duduk di belakang pura-pura melihat ke langit-langit kelas. Juga Junho yang menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Yena sama Ara mah, ikut-ikutan aja.
Yang lain malah mendadak pura-pura budek. Ada yang melengos. Ada yang pura-pura nyatet di buku. Bahkan ada juga yang lagi pura-pura gosip di kursinya. Terlihat tidak ada sama sekali yang tertarik.
Minhee menepuk pundak Junho dari belakang sambil tertawa kecil. “Udah Jun gasin aja.”
“Ogah ah kapok gue. Cukup pas kelas X aja gue jadi ketua kelas. Kenapa bukan lo aja?” balas Junho. Minhee menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya, setelah itu masang gaya kayak ‘dih ogah, amit-amit’. Eunsang tertawa kecil melihat kelakuan Minhee
“Ini kalian semua ngga ada yang berminat? Kok pada diam saya tanyain,” ujar Pak Seonho lagi.
Terdengar suara ketawa. Banyak diantara mereka yang menggeleng. Bukannya ngga niat, tapi mereka semua tahu betul seluk-beluk peran ketua kelas itu bagaimana. Singkatnya, banyak kerjaannya. Udah cukup tugas sekolah aja yang numpuk.
“Kalo ngga ada yang mau, saya tunjuk sendiri aja ya.”
Semua siswa kembali menegang.
‘’Mampus Yen, gimana kalo gue yang ditunjuk?” kata Yohan pede dengan kaki yang sudah gemetaran kayak ubur-ubur. Yena menaikkan sebelah bibirnya. “Apasi sinting, pede banget lo mau ditunjuk dih.”
“Saya aja Pak!” Cowok di samping Junho mengangkat tangannya. Yohan mengelus dada dan bernapas lega. Yena yang duduk diseberang kursi Yohan cuma bisa geleng-geleng heran.
“Oh Lee Eunsang?” Pak Seonho mencoba memastikan.
“Iya Pak,” jawab cowok itu, Eunsang. Lee Eunsang. Siswa yang termasuk pintar dari kelas X-IPA 4 itu menampakkan senyum tipisnya. Pak Seonho kemudian menulis nama Eunsang di note kecil yang ia bawa.
“Yang lain setuju?” Semua siswa hanya mengangguk mengiyakan.
“Trus siapa yang mau jadi wakilnya?” Pak Seonho bertanya lagi.
Yohan lagi-lagi memalingkan wajah ke arah Yena. Ia menggigit bibir bawahnya cemas. Tatapannya kayak tegang gitu, Yena langsung terkode.
Pasti geer lagi.
“Diem, anying. Diem. Sekali lagi lo ngomong, gue tabok lo Han,” Yohan Belum sempat bicara Yena udah ngomong duluan.
“Junho mau tuh Pak,” Minhee menunjuk Junho yang duduk di depannya. Junho berbalik badan. Ia memicingkan matanya ke Minhee. Minhee mah tahan tawa aja di kursinya. Junho memutar bola matanya malas.
Kalau sudah begini, Junho ngga bisa nolak. Jadi, dia terima aja. Lagian, posisinya cuma wakil ketua kelas kan? Bukan ketua. Tugasnya hanya menggantikan sementara jika ketua kelas tidak ada. Pak Seonho mengangguk.
“Kalo Bendahara?”
“Ya jelas bendaharanya ya pasti Yena lah Pak. Yena kan barbar, macan aja takut sama dia,” desis Yohan rada ngegas. Yena melotot ke arah Yohan dengan mata seperti sudah siap menerkam. Yohan hanya cekikikan. Begitu pun Ara yang duduk di sebelah Yena.
'Rasain Yen. Mampus lo.' batin Yohan. Ia menjulurkan lidahnya.
Yena cuma bisa misuh-misuh dalam hati. 'Mati lo Yohan bangsat. Tunggu aja.'
“Oke.” Pak Seonho mengangguk lagi dan mencatat di note-nya.
“Oh tunggu. Bapak hampir lupa. Yang mau jadi sekretaris kelas siapa?” tanya Pak Seonho.
Yena melengos ke samping kirinya. Ara. Yena menyatukan kedua tangannya seperti memohon. Ara masang ekspresi ngga ngerti.
“Disini ada yang tulisannya bagus dan rapi? Karena sekretaris nanti banyak nulisnya,” sambung Pak Seonho kemudian. Tekad Yena semakin yakin.
“Ara aja Pak. Ara, tulisannya bagus, rapi juga,” Yena mengancungkan tangannya. Ara masih mencerna. Sebelum kemudian berkata, “Gila lo Yen. Kok gue? daritadi gue diem ngga ngapa-ngapain juga.”
“Udah ngga papa Ra, masa gue jadi perangkat kelas, lo ngga?” Mulusbener
“Bukan gitu Yen, gue ngga mau. Lo kan tau gue ngga pernah ikut ginian. Lagian mulus bener mulut lo nyebut-nyebut gue,” ujar Ara merengek.
“Udah ah, biarin. Biar lo ngga kosong-kosong amat.”
'Selamat jalan kehidupan ku yang damai.' batin Ara kesal.
“Oke, pemilihan perangkat kelas inti selesai ya. Kalo perlu bagian seksi, kalian aja nanti yang atur sendiri. Untuk Eunsang bisa ikut ke ruangan saya sebentar ?” tanya Pak Seonho pada Eunsang.
Pak Seonho kemudian keluar dari kelas. Eunsang buru-buru berdiri lalu mengekor di belakang wali kelasnya itu.
Ara menelungkupkan wajahnya di meja. Asli. Mood Ara langsung hilang.
~~~~~
“Ada ID Line atau nomor WA ngga?” Ara mendongak ketika ia sedang menggambar tidak jelas di belakang buku tulisnya.
“Hah?” Ara cengo sebentar.
“Budeg ya? Gue tanya ada ID Line atau nomor WA gitu, ada ngga?” ulang Eunsang.
“Buat apa?”
“Buat nyantet.”
Savage.
Padahal Ara nanyanya serius.
“Pake nanya. Ada ngga? Buru, gue mau masukin lo ke grup perangkat kelas. Biar bisa diskusi disitu aja.” sambung Eunsang lagi.
“Oh, oke. Bentar-bentar” Ara mengeluarkan ponselnya dari saku. Eunsang dengan sigap meng-scan QR code dari ponsel Ara.
“Udah ya. Bentar ada yang mau gue omongin disitu.” Eunsang mengembalikan ponsel Ara lalu tersenyum. Setelah itu ia pergi dari hadapan Ara yang masih pasang muka cengo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Eunsang cekikikan pas kembali ke tempat duduknya. “Pura-pura bego apa emang bego beneran?”
'Heran. Tuh anak demen banget senyum gitu. Ga sadar apa, gimana kalo anak orang kenapa-napa?' Ara membatin.