"Tuh kan udah ketebak. Pasti juga gini-gini aja haah," ucap Ara sambil mengehela napas panjang. Ada selembar kertas yang ia pegang di tangan kirinya.
Hasil kuis matematika kemarin lusa baru saja dibagikan.
Tebakannya benar. Nilainya merah lagi. Selalu begitu, kalau ngga merah, paling mentok pas nilai KKM.
Miris.
Setinggi-tinggi usaha Ara untuk belajar tetap saja kalo pas kuis atau ujian, ada saja masalahnya.
Bukan hanya catatan yang beda sama soal ujian. Tapi juga dari mulai blank tiba-tiba, mules mendadak, dan masih banyak lagi.
"Yen, lo dapet nilai berapa?" Yena yang lagi liatin mas crush-nya di lapangan basket, langsung di toel sama Ara.
"Hah? Apa apa?"
"Kalo mantauin dia aja lu sampe bolot gini," Ara memanyunkan bibirnya.
"Yeeee ngga gitu jirrr, sia kunaon emang?" tanya Yena. Ia mengedip-ngedipkan matanya. Ara tidak menjawab tapi langsung mengambil kertas hasil kuis Yena di laci meja Yena.
"Dih gilaa nilai lo lebih dari KKM goblokk."
"Nambah angka 2 doang heboh amat lu. Lu ngomong ga nyadar yaa, nilai lu lebih bawah dari gue, elu yang lebih goblookk, ehehehe," Yena nyengir. Ara manyun lagi. Tapi ngga bisa marah, karena Yena bicara fakta.
"Gimana rangkuman bab yang disuruh guru Biologi kemaren, udah selese lo print out?" tanya Eunsang tiba-tiba nimbrung. Ara sama Yena tidak sadar tau-tau Eunsang sudah berdiri di samping mejanya.
"Hehe belom selese gue kerjain. Mungkin sisa 2-3 halaman." Ara nyengir. Ia menyembunyikan tangannya di bawah meja lalu buru-buru melipat kertas hasil kuisnya.
Malu.
Takut dilihat sama Eunsang.
Eunsang mengernyit lalu protes. "Kok belom? Berarti belom lo fotocopy juga dong?"
"Yaiyalaah markonahh, gue ngeprint aja belooom,"
"Besok udah harus selesai ya, gue ngga mau tau," sanggah Eunsang.
"Kok gitu anjiran? Elu tuh harusnya bantuin gue. Lo yang nyuruh, masa lo juga yang buru-buruin. Enak aja," Ara balik ngegas.
"Ha? Kan kalo ada lo, kenapa harus gue?" Eunsang tersenyum yang malah membuat Ara kesal.
"Mulus banget ya congornya," ujar Ara dengan suara dikecilkan. Eunsang masih bisa dengar, tetapi ia tidak membalas ucapan Ara lagi karena teriakan Junho memanggil namanya di ambang pintu kelas terdengar. Junho mengajak Eunsang ke kantin.
~~~~~
"Eh Sang," panggil Junho ketika ia sudah duduk di kursi kantin. Eunsang yang duduk tepat di depannya mendongak dengan kedua alis terangkat."Lo lagi PDKT ya?" Pertanyaan Junho barusan membuat Minhee tersedak yang kala itu sedang meneguk jus jeruknya. Yohan menjatuhkan pentolan baksonya. Sampai-sampai kuah baksonya nyiprat ke lengan bajunya Eunsang. Eunsang misuh-misuh di tempat.
Heran.
Padahal yang ditanya Eunsang, tapi kok malah Minhee dan Yohan yang kaget ?
"Maksud lo?" tanya Eunsang. Mata tiga orang temannya itu seperti menyelidik.
"Ya ngga sih. Nanya aja. Soalnya gue liat akhir-akhir ini lo sering deket sama Ara," Junho mengedikkan kedua bahunya. Minhee dan Yohan mendengus bersamaan.

KAMU SEDANG MEMBACA
SHELTER «Lee Eunsang»
Fanfiction❝Kalo ada apa-apa tuh bilang.❞ - Lee Eunsang ❝Yaudah santai dong, ga usah ngegas.❞ - Shin Ara Everyone was pretend to hide their own pain. There is a story behind. Just ease. Slowly. warn⚠️ °contains harsh words, typo, baku - non baku, etc °latar...