Mamanya Ara sedang sibuk melakukan sesuatu di ruang tamu malam itu. Kedua tangannya yang memegang hakpen begitu lihai merajut sebuah syal warna merah maroon.
Ara yang kala itu baru keluar dari kamarnya sambil membawa gelas kosong, langsung dipanggil Mamanya.
"Kamu udah makan?" tanya mamanya pelan. Matanya tidak teralih dari rajutan ditangannya.
"Mama udah masak?" tanya Ara balik, langkahnya terhenti.
"Tadi mama barusan masak. Ada di tutupan. Kamu makan yaa," lanjut mamanya lagi.
Bukannya ke meja makan, Ara malah berjalan ke arah mamanya. Lalu duduk di sofa disamping mamanya. Matanya sibuk memerhatikan mamanya yang fokus dengan kegiatannya.
"Ma.. syal aku udah banyak. Kenapa mama bikin lagi? sekarang kan masih musim kemarau, musim ujan belum masuk Ma." Celetuk Ara heran. Memang sih, Mamanya ini hobi sekali merajut, mulai dari sweater, kupluk, sampai syal seperti yang ia buat sekarang ini.
"Loh. Mama ngga bikin ini buat kamu," balasnya. Mamanya mengerutkan kedua alisnya.
Ara juga ikutan mengernyit.
Bingung. "Terus mama bikin ini buat siapa kalo bukan buat aku?""Mama bikin ini buat Yuna, sayang," ucap Mamanya.
"Kak Yuna?" Ara mengulum bibirnya gugup. Ekspresinya berubah.
"Iya, kamu kan udah ada banyak. Mama ngga mau pilih kasih, jadi mama bikin buat dia juga." Mamanya tersenyum tulus. Yang entah kenapa bukan membuat Ara malah senang, tetapi malah merasa takut. Hatinya mencelos. Ia merasa hatinya agak sakit mendengar ucapan Mamanya barusan.
"Pasti Yuna bakalan senang kalau Mama kasih ini,"
"Maaah.." lirih Ara dengan kepala menunduk.
Suaranya hampir tidak terdengar seperti angin.
Mamanya mendongak. Lalu memiringkan kepalanya. "Kenapa sayang?" Ara cepat-cepat menggeleng.
Alih-alih menjawab, Ara memilih meletakkan gelasnya di meja dan berdiri dari sofa.
"Ma, Ara mau ke minimarket depan dulu beli sesuatu," ujarnya pelan.
"Kamu ngga makan dulu?" tanya Mamanya.
"Bentar aja kalo aku udah sampe rumah," jawabnya lalu memutar knop pintu. Entah kenapa mood-nya untuk makan mendadak hilang.
~~~~~
Ara menendang apa saja yang ada di jalan. Mulai dari kerikil sampai kaleng kosong yang jadi sasarannya. Pikirannya kalang kabut. Matanya tiba-tiba sedikit berair. Ia hampir menangis. Kalau saja tadi ia tidak buru-buru keluar, mungkin Mamanya akan panik melihat dia sekarang.
'Apa sih gue ngga boleh gini,'ucapnya dalam hati lalu mengusap matanya.
Tidak, ia tidak boleh menangis.
Tidak boleh.
Setelah beberapa meter berjalan dan keluar dari komplek perumahan, kakinya menapak di depan minimarket. Tangannya terarah untuk memegang gagang pintu dan mendorongnya.
Ia berjalan ke rak makanan siap saji. Ada onigiri dan berbagai macam makanan siap saji lainnya, juga ada banyak jenis mie yang tertata di rak itu.
Tanpa pikir panjang tangannya mengambil sekotak mie. Dan tanpa ia sadari ada seseorang yang berjalan di belakangnya sambil membawa keranjang belanja.

KAMU SEDANG MEMBACA
SHELTER «Lee Eunsang»
Fanfiction❝Kalo ada apa-apa tuh bilang.❞ - Lee Eunsang ❝Yaudah santai dong, ga usah ngegas.❞ - Shin Ara Everyone was pretend to hide their own pain. There is a story behind. Just ease. Slowly. warn⚠️ °contains harsh words, typo, baku - non baku, etc °latar...