˻ 08 ˺ » Lupa

65 9 0
                                    

Guru matematika- Bu Sunmi -yang masuk pada jam pertama pagi itu, sudah siap dengan penggaris kayu di tangannya. Tatapan tajam dibalik kacamata bulat coklatnya menyapu seluruh penghuni kelas.

Siswa sudah duduk secara acak. Meja yang mulanya berdempetan, mulai terpisah masing-masing. Hanya kertas kosong dan pulpen saja yang ada di atas meja. Sisanya harus dimasukkan ke dalam tas.

Seperti yang di infokan ketua kelas di grup kelas tadi malam, hari ini adalah kuis matematika untuk kelas Ara.

Kelas Ara lagi beruntung saja. Karena guru yang terkenal cantik tapi galak seperti singa itu, mungkin mood-nya lagi bagus jadi dia memberi info terlebih dulu ke grup kelasnya, padahal biasanya juga ngasih kuis dadakan yang hampir membuat siapa saja kelabakan karena tidak belajar.

Kertas soal sudah dibagikan dan siswa sudah diberi aba-aba untuk mengerjakan.

Atmosfer kelas mendadak berubah tegang. Bukan lagi karena soalnya, tapi karena Bu Sunmi yang tidak berhenti mondar-mandir seperti setrika. Lengkap dengan tatapannya yang seperti akan menerkam orang.

Sialnya, Ara duduk di depan.

Setelah lama adu bacot sama temannya, dia mengalah dan akhirnya duduk di kursi paling depan. Seperti tempat duduk keramat, karena paling di hindari sama teman-temannya kalau lagi ujian.

Beda dengan Eunsang, dia sih terima nasib saja kalau temannya dorong-dorong dia duduk ke depan.

Belakang sama depan itu ngga ada bedanya. Begitu pikirnya.

Ara menggigit-gigit bibirnya sendiri sembari mengetukkan jari-jarinya di meja. Napasnya tidak teratur. Perasaannya mulai gelisah. Perutnya tiba-tiba melilit. Tanpa sadar keringat mulai mengucur dari pelipisnya.

‘Mau jawab apa gue ini njirrrr, gilaa!’ batinnya. Matanya tidak lepas dari huruf dan angka yang tertulis di soal.

Nomor pertama, kedua, dan ketiga ia tahu cara kerjanya tetapi seterusnya pikirannya tiba-tiba nge-blank. Kepalanya pusing. Ia merasa tulisan yang ada di soal seperti melayang dari kertas.

Padahal Ara sudah belajar tadi malam. Dia sampai ngebela-belain ke rumah Yohan buat ambil buku catatannya.

Sekarang Ara merasa belajarnya tadi malam tidak berguna. Hanya 4 dari 10 soal yang mampu ia jawab. Itupun Ara tidak tahu, soal yang ia kerja benar atau salah.

Tidak terasa sudah 35 menit waktu berlalu, kuis matematika hari itu diakhiri Bu Sunmi sambil mengambil paksa kertas soal dan jawaban siswa.

“Bu, sisa dua nomor yang belum saya kerjain Bu.”

“Bu, waktunya kecepetan."

“Ibu kan cantik, jadi waktunya tambahin 5 menit lagi ya?”

Begitu kira-kira keluhan yang keluar dari mulut siswa. Bu Sunmi hanya tersenyum datar mendengar keluhan itu. Mau kalian menggombal pun tidak akan mempan.

Prinsipnya, selesai tidak selesai tetap harus dikumpulkan.

“Hari ini, saya ada urusan. Jadi kalian catat saja dulu materi yang ada di halaman 14. Minggu depan saya jelaskan. Sekian,” ucapnya datar sembari merapikan bukunya dan menyampirkan tas bahunya.

Setelah ia keluar, suasana kelas berubah kembali. Semua siswa bersorak senang. Keadaan kelas dirubah seperti semula.

Alih-alih melakukan hal yang disuruh Bu Sunmi tadi, kebanyakan siswa malah melakukan hal lain.

SHELTER «Lee Eunsang»Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang