˻ 15 ˺ » Traktiran

54 9 0
                                    

Hari ini ada pelajaran matematika. Dan seperti yang Bu Sunmi katakan minggu lalu, hari ini adalah jadwal remed untuk yang nilainya di bawah standar.

Remed dilakukan pada jam pertama. Siswa yang sudah memenuhi nilai standar, dipisah ke sebelah kiri. Mereka yang tidak remed, hanya disuruh mengerjakan soal latihan di buku paket untuk mengisi waktu luang.

Ara sudah mempersiapkan otaknya. Hari minggu lalu ia sudah belajar dengan Eunsang. Kalau sampai nilainya masih tetep gitu-gitu aja, asli Ara beneran gobloknya udah ngga ketulungan.

Pulang dari cafe pun, Eunsang masih mengirim beberapa catatan rumus ke Ara. Bahkan Eunsang sampai menjelaskan lewat telepon. Ara berusaha mengingat dan mengerti konsepnya, bukan menghafal.

Semoga.

Semoga saja, belajarnya kali ini tidak sia-sia.

Eunsang menoleh ke belakang melihat ke Ara yang sudah siap dengan kertas kosongnya. Tangannya bergerak naik ke atas dan mengepal. Seperti menyemangati. Ara gugup dan hanya melempar senyum kikuk.

Setelah jam pelajaran kedua berbunyi, siswa mengumpulkan kertasnya di Bu Sunmi. Ara bernapas lega dan pelajaran pun dilanjutkan oleh guru matematika itu lagi.

Sebelum jam pelajaran matematika selesai, Bu Sunmi langsung membagikan hasilnya.

"Masih ada yang nilainya belum cukup. Ibu ngga mau kasi remed lagi. Nilai kalian rendah, tetep itu yang ibu kasi masuk ke daftar nilai. Pelajaran hari ini Ibu akhiri, sampai jumpa minggu depan," jelasnya lalu bergegas keluar kelas.

Ara masih melipat kertas yang dibagikan Bu Sunmi barusan. Belum berani melihat.

Mungkinkah Ara salah satu dari yang disebut gurunya tadi ?

Yena yang duduk di samping malah semakin penasaran, padahal yang remed bukan dia.

"Kalo lo ga sanggup, sini biar gue aja," ucap Yena dan langsung merampas kertas itu dari tangan Ara. Matanya berbinar begitu kertas itu Yena buka.

"Raa, nilai lu sampe jirr!" Mendengar itu mulut Ara menganga. Ia mengambil kertasnya dan menatap Yena lagi tak percaya.

"Tumben belajar lu bener. Biasanya juga ngaco," Ara mendelik dan langsung menabok Yena saat itu juga. Senyum Ara mengembang.

Cewek berkuncir kuda itu baru saja mau berjalan ke meja Eunsang, namun tidak jadi karena guru bahasa inggris sudah mulai masuk ke dalam kelas.

~~~~~


"Eunsang!" panggil Ara ketika Eunsang dan Junho yang baru saja akan berbelok ke kantin. Mereka menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Ara yang berlari kecil ke arah mereka berdua.

"Kenapa lo?" malah Junho yang bertanya, bukan Eunsang. Ara memutar bola matanya malas.

"Ih sekarang lo udah ngakuin gue nih? Ciyeee gada yang manggil lo ya setaan,"

"Eh gue traktir ya?" Ia balik berbicara kepada Eunsang. Eunsang dengan wajah bingungnya baru saja mau buka mulut tapi cepat-cepat dipotong Junho.

"Aduhh makasi banget, tau aja gue lagi hemat nabung Raa," Junho tersenyum senang.

"Geer lu, dikit lagi gue tampol ya mulutnya."

"Ih aku ga pernah ya ngajar kamu kasar gini," Ara buru-buru menutup kuping dengan jari telunjuknya.

Sumpah.

Junho alay. Najis.

Ketika sampai di kantin, Ara duduk berhadapan dengan Eunsang dan Junho.

"Ya gusti... aing seperti baygon," sindir Junho tiba-tiba, ia mengelus dada. Junho menyinggung karena ia merasa seperti obat nyamuk diantara mereka berdua. Ara dan Eunsang menoleh bersamaan dengan tatapan tidak mengerti. Junho lalu pura-pura melirik ke arah lain.

"Eh baru sadar, Minhee kemana ? Daritadi ga keliatan batang idungnya," tanya Ara. Memang sih Minhee tidak kelihatan daritadi. Biasanya mereka bertiga selalu nempel kemana-mana kayak perangko, plus Yohan juga sih. Apalagi kalo urusan game.

"Sibuk latihan, dua minggu ke depan dia ada turnamen basket," jawab Eunsang. Mulut Ara hanya berbentuk huruf O setelah mendengar ucapan Eunsang.

"Lo mau makan apa? Pesen aja. Gue yang bayar," Ara nyengir dan hanya dibalas tatapan heran oleh Eunsang dengan dahi yang mengerut.

Ara mengeluarkan kertas yang terlipat dari dalam saku baju seragamnya. Ia kemudian membuka dan memperlihatkannya ke Eunsang. Di ujung kiri kertas itu ada tulisan angka 83 dengan tinta merah yang dilingkari.

"Nilai gue bagus. Meski ga setinggi lo sih. Gue gatau mau terima kasih kaya gimana, jadi gue traktir aja gapapa ya? Hehe," Ara tersenyum menampakkan giginya. Eunsang, balas tersenyum.

"Bagus deh. Ga sia-sia. Lo ga goblok-goblok amat ternyata." Tadinya, Ara mau protes tapi tidak jadi karena suasana hatinya lagi senang.

"Nanti bantu gue belajar lagi ya?" Eunsang tampak berpikir. Tanpa disadari mereka berdua, ada Junho yang tidak mengerti sama sekali dengan topik yang sedang dibahas.

"Lo ngajarin nih anak Sang?" akhirnya pertanyaan Junho keluar. Eunsang mengulum bibirnya dan mengangguk.

"Anjiiing kok gue gatau sih?"

"Lo kan ga pernah nanya," ujar Eunsang mengikuti kata-kata Junho sama persis tadi malam ketika di chat.

Skakmat.

Junho akhirnya misuh-misuh.

"Hari ini keknya gue makannya ga sedikit deh, soalnya lupa sarapan tadi pagi. Masih sanggup bayar ga lo?" Ara cuma mengangguk-ngangguk.

"Yaudah kalo gitu. Nasi goreng sama bakso masing-masing seporsi, es teh manis 2, sama pangsit goreng 4 biji," ujarnya. Ara terperanjat sebentar, tetapi kemudian berdiri dari duduknya.

Banyak juga pesanan Eunsang, beneran dia mau makan semua apa sengaja mau bikin Ara tekor ?

"Kalo gue, gue sih mau nasi campur 1 sama es-"

"Ehhhh buat lo, kaga. Bayar ndiri," Tatapan Ara sinis ke Junho.

"Lah gimanasi. Masa yang dibayarin Eunsang doang?" balas Junho manyun.

"Rasain! Siapa suruh kemaren ngatain gue babu rumah lo."

"Ah lo mah. Teer skali-skali kek. Gue lagi nabung buat beli nintendo nih, biar ga minjem-minjem lagi di Eunsang," Junho memajukan bibirnya lagi.

"Big no. Lo ga berkontribusi apa-apa ya setan."

"Gausa bujuk-bujuk. Ga mempan di gue bangsaat." Padahal Junho baru mau melanjutkan kata-katanya tapi cepat-cepat di dahului sama Ara.

Menit berikutnya Ara pergi ke Ibu kantin dan memesan makanan.

"Rasain tuh Jun, ampe kambing bertelur pun lo ga bakal di notis," Eunsang menertawai Junho di tempatnya duduk.



Ternyata Ara...










Lucu juga.










Begitu pikir Eunsang.






to be continued☀️

🍒💚🍃

SHELTER «Lee Eunsang»Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang