.
.
Chenle, Lucas dan sebagian anak cowok berkumpul di ujung kelas berembuk mengenai futsal nanti sore, sesekali terdengar tawa menyebalkan milik Chenle, sementara Jaemin hanya mengetuk ngetukan kepala ke jendela, ia tidak bisa ikut karna hari ini jadwalnya magang di salah satu panti jompo tak jauh dari sekolah.
Kesal sekali rasanya, padahal pas masih kelas 10 dia sudah kena skors hampir 10 hari, tapi kenapa masih mendapat hukuman magang segala, benar kata Lucas, Jaemin yakin dia akan menua lebih cepat.
Malasnya lagi dia harus bertemu Jeno, salah satu orang yang paling tidak Jaemin sukai, yeah semoga saja tidak terjadi baku hantam. Tapi ada satu hal yang membuat Jaemin enggan pergi hari ini.
Setiap hari rabu dan kamis Renjun selalu memberi makan ikan di taman XY
Jaemin ingin menemuinya.
Setelah bel pulang berkumandang, anak-anak futsal mulai meninggalkan kelas, ledekan dan segala macamnya tak Jaemin gubris meskipun ada rasa kesal, bisa bisanya mereka bermain tanpa Jaemin, padahal mereka bisa mengambil hari lain kan?
Teman macam apa mereka.
Lebih dari 10 menit melamun, Jaemin memutuskan pergi ke taman sebelum ke panti, dia juga malas bertemu Jeno lebih cepat, emosinya akan naik, mengingat wajahnya saja sudah cukup membuat Jaemin naik pitam.
Seperti biasa, lengan tasnya ia cangklong di bahu kanan, melewati koridor yang masih berpenghuni, namun si penghuni mulai masuk kelas saat Jaemin semakin mendekat, takut aja buat masalah sama Jaemin, padahal Jaemin tidak akan susah-susah memberi mereka masalah.
Terlalu di rencana kalau dia datang membawa roti atau makanan ikan, dia akan membuat pertemuan pertama ini seolah sebuah ketidak sengajaan, benar-seperti tidak sengaja.
Walaupun begitu, perasaan ragu, takut dan semacamnya muncul di benaknya, pokoknya harus senatural mungkin.
Tapi perasaan itu semakin besar ketika kakinya memasuki wilayah taman, Jaemin takut Renjun tidak ada disana dan itu akan membuatnya kecewa.
Jaemin berhenti lalu menoleh, senyumnya mengembang bersama rasa lega di hatinya " kau disini"
Yang ditanya tidak menjawab, ia malah semakin intens menatap kolam dari batas. Tubuhnya menggeser saat Jaemin berdiri disebelahnya.
" kamu memberi mereka makan?" seharusnya Jaemin tak perlu bertanya seperti ini.
Renjun mengangguk " kau tidak pergi ke panti?"
Gentian Jaemin yang menoleh " dari mana kau tau"
" setiap hari Jeno merajuk karna hal ini"
Jaemin terpaksa menahan emosinya, lebih baik ia membahas hal lain, dia juga malas akan sesuatu yang berhubungan dengan Jeno " waktu itu kamu tidak menjawab pertanyaan ku, kamu baik-baik saja"
Terlihat sudut bibirnya mengembang sedikit " awalnya aku merasa akan baik-baik saja, ditambah ada Jeno, tapi setelah aku bertemu kamu, aku mulai ragu"
" aku tidak akan melukaimu" katanya tegas.
Renjun mulai menjauh dari pembatas " pergilah, kamu bisa kena hukum" ucapnya lalu berbalik dan mulai berjalan pergi
" tapi Renjun" panggil Jaemin sekali.
Renjun tidak menoleh.
" beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan ku padamu, kumohon" teriaknya, tapi yang diteriaki terus berjalan, meninggalkan Jaemin membeku ditempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Because [JaemRen]✅
FanfictionComplete // bxb Yang Jaemin lakukan di masa lalu itu sangat menyakitkan, menciptakan trauma tersendiri untuk Renjun. Membuat anak laki-laki itu tidak bisa memaafkan Jaemin begitu saja. Ini tentang Usaha Jaemin untuk mendapatkan maaf dari Renjun #15...
![Just Because [JaemRen]✅](https://img.wattpad.com/cover/196540818-64-k132548.jpg)