.
.
Mama menatap putranya penuh tanda tanya, jelas saja ia bingung setengah mati, baru seminggu yang lalu Jaemin bilang Renjun tidak kunjung memaafkanya, tapi kini di depanya sosok itu muncul dengan tubuh basah, apa dia kehujanan?
" siapkan baju untuknya Jaemin"
Tentu saja Jaemin akan melakukan itu, di dalam kamar, Jaemin sedang memilih baju untuk Renjun, sementara Renjun sedang mandi, entah Renjun sukai warna dan model bagaimana tapi Jaemin memilih sweeter berwarna Pink untuknya.
Senyum puas itu tercetak tebal ketika Renjun memakainya, kini Jaemin sedang membantu Renjun mengeringkan rambut.
Pemuda berambut brown itu hanya diam saat jemari lentik Jaemin mengusap kepalanya pelan dan lembut.
" sudah kering, sekarang kita makan, ku yakin kamu belum makan" Jaemin menarik tangan Renjun begitu saja, jelas itu membuat Renjun kualahan menyamai langkahnya.
Keduanya duduk di depan meja makan, menunggu Irene menyiapkan makan malam.
Tentu saja Irene menyiapkan yang special, tidak biasanya Jaemin membawa teman, sekalinya bawa malah orang special, setidaknya hubungan mereka mulai membaik, Irene sedikit frustasi kalau lihat Jaemin terus murung.
" diminum dulu coklat hangatnya Renjun" kata Irene.
Renjun menggenggam mug yang berisi coklat hangat, begitu pula dengan Jaemin, anak ini mengikuti gerak gerik Renjun, bahkan tatapanya terus tertuju kepadanya.
Membuat Renjun rishi, untung ada Irene, jika tidak ada sudah jadi bubur kau Jaemin.
Makan malam penuh tawa itu berakhir bersama hujan yang mulai mereda, ada rasa kecewa ketika Renjun buka suara untuk pamit, kode yang Jaemin berikan kepada Irene tidak terbaca. Jaemin ingin Irene menahan Renjun supaya lebih lama dirumah, tapi wanita itu tak paham.
" biar ku antar" tawar Jaemin akhirnya.
" hati-hati dijalan" kata Irene.
Jaemin maupun Renjun mengangguk, keduanya berjalan beriringan dalam diam, tangan Jaemin memegang payung, dia tidak akan membiarkan rambut Renjun terkena rintik-rintik hujan.
Sementara tangan satunya menjuntai lemah, sesekali menyentuh tangan Renjun yang juga menjuntai lemah, ingin sekali menggenggamnya erat. Tapi ia urungkan ketika Renjun tiba-tiba berhenti, Jaemin mengikuti arah pandang Renjun.
Wanita itu terlihat kesal sekali, maju beberapa langkah kemudian menarik tangan Renjun kasar dan
Plakk
" jangan pernah bertemu denganya lagi" sentaknya
Setelah itu keduanya pergi, di tempatnya Jaemin memegangi pipinya yang terasa pedih, pedih mengetahui satu fakta lagi.
Mama Renjun tidak memaafkanya juga.
**
Seolah baru disadari anak-anak yang lain, Jaemin selalu nongkrong di jembatan penghubung antara kelas Mipa dan Ips, bersama siapa lagi kalau bukan Haechan, Jaemin memilih Haechan karna dia tau semuanya, sementara Chenle dan Lucas ia biarkan saja, masih ada keraguan untuk menceritakan kejahatanya.
Haechan mendesah sembari mengacak rambutnya kasar " mau sampai kapan kita disini" keluhnya.
" sampai Renjun memaafkan ku"
Kali ini Haechan menarik rambutnya sendiri " kapan Renjun akan memaafkanmu, bahkan mamanya saja menamparmu seperti itu"
Jaemin menatap Haechan penuh keyakinan " usaha tidak akan pernah membohongi hasil, tidak apa-apa suatu saat nanti Renjun akan memaafkan ku"
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Because [JaemRen]✅
FanfictionComplete // bxb Yang Jaemin lakukan di masa lalu itu sangat menyakitkan, menciptakan trauma tersendiri untuk Renjun. Membuat anak laki-laki itu tidak bisa memaafkan Jaemin begitu saja. Ini tentang Usaha Jaemin untuk mendapatkan maaf dari Renjun #15...
![Just Because [JaemRen]✅](https://img.wattpad.com/cover/196540818-64-k132548.jpg)