Hate_4

7.7K 978 54
                                        

Vote kuy

.

.

“Renjun“ gumam Jaemin sembari bangkit dari tempatnya duduk.

Melihat siapa yang ada di sana membuat remaja ber nama Renjun ini membuang muka, terlalu cepat untuk bertemu si brengsek 7 tahun lalu, tapi hujan seolah menahanya untuk tetap di situ.

Jaemin kembali keposisinya tadi, duduk dibangku reot sambil meremas tangan, tiba-tiba tangannya berubah sangat dingin.

“ lama tak jumpa” sapanya hambar, bahkan ia harus terkekeh pelan supaya sapaanya terdengar lebih hidup, tidak aapa-apa jika sapaanya tak dijawab.

Renjun memang tidak berniat menjawab sapaanya, hatinya masih beku, melihat Jaemin sama saja berkaca pada masa lalunya yang mengerikan itu, ternyata Renjun menyimpan trauma tersendiri.

“ kurasa kamu baik-baik saja” lanjut Jaemin walaupun pertanyaan yang pertama tak dijawab.

Remaja bersurai pinch ini tersenyum menertawakan diri sendiri, menertawakan kebodohanya di masa lalu sampai akhirnya membawa penyesalan yang semakin hari semakin besar, penyesalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika ia tidak berbuat ceroboh kala itu.

Jaemin kira setelah 7 tahun berpisah, Renjun akan memaafkan atas apa yang pernah terjadi kala itu, ternyata memaafkan itu sama sulitnya, melihat Renjun yang mendiamkanya seperti itu Jaemin yakin Renjun tidak akan mudah memaafkanya.

“ ku dengar kamu jadi anak baru di sekolahku, selamat datang” Jaemin kemudian berdiri ketika hujan sudah mulai mereda, ia menegakan sepedanya “ aku pergi”

Renjun terduduk setelah kepergian Jaemin, kakinya sudah lemas sejak tadi, terlalu kebetulan bisa bertemu di tempat seperti ini.

**

Lucas tertawa lebar setelah membaca pengumuman di koridor, di sampingnya ada Chenle yang juga tertawa nyaring, wah pengumuman itu akan jadi berita besar, tak masalah ini demi kebaikan Jaemin juga.

“ wah aku tidak percaya, berarti setiap hari Jaemin akan berkutat dengan nenek-nenek” kata Lucas.

Chenle tertawa kemudian mengangguk setuju “ kurasa dia akan menua lebih cepat”

“ aku membayangkan si Jaemin jadi kakek kakek, pasti itu sangat lucu” kata Lucas diakhiri tawa.

“ kayaknya kita harus memberi hadiah sebelum Jaemin mulai magang disana”

“ kau benar”

Pembicaraan itu terus mengalir sampai akhirnya sampai di pertigaan koridor, berhenti ketika orang yang sering Jaemin sebut tikus, berjalan tergesa sambil menyeru nama  lee Jeno.

“ jangan-jangan Jeno juga”

.

.

Sementara pemuda bernama Jaemin malah duduk santai di sebelah mesin minum, tangan kananya menggoyang goyang kaleng bertulis Sprite, namun pandanganya tertuju pada satu objek di ujung sana yang sedang bercerita dengan salah satu anak buah Jeno.

Jeno pasti sudah tau apa yang terjadi, antara Jaemin dan Renjun di masa lalu, setau Jaemin Renjun tipe orang yang senang mengekspresikan diri, walaupun ia tidak mengatakan secara langsung.

Sejauh ini masalahnya dengan Jeno belum mereda, ia tidak tau alasan apa yang membuat remaja bermarga Lee itu membencinya, ditambah kedatangan Renjun yang berada di kubunya.

Akan semakin sulit bagi Jaemin untuk menggapainya, dan yang menjadi pertanyaan sejak kapan Renjun mengenal Jeno dengan baik, keduanya seperti sudah lama bertemu. Namun, Jaemin tidak pernah dengar berita apapun tentang keberadaan Renjun.

Just Because [JaemRen]✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang