Jisoo membuka mata dan heran saat melihat dirinya berada di tengah danau. Ia menemukan dirinya menaiki sebuah sampan. Ia melihat sekeliling, hanya ada dia seorang. Kabut tebal menghalangi pandangannya. Ia bahkan tidak tau harus kemana untuk mencapai tepian. Kemudian, matanya membelalak ketika merasakan sampan yang dinaikinya bergoyang-goyang. Danau yang awalnya tampak tenang kini berombak. Semula kecil, lama kelamaan menjadi besar dan Jisoo berpegangan kuat pada sisi-sisi sampan. Berdoa supaya sampan tidak terbalik dan ia jatuh ke dalam danau. Anehnya, dia sama sekali tidak bisa berteriak. Lalu samar-samar ia mendengar namanya dipanggil.
"Jisoo... Jisoo..."
"Jisoo!"
Jisoo terbangun. Ternyata itu cuma mimpi. Nayeon mengguncang-guncangkan tubuhnya sehingga ia merasa seperti digoyang oleh ombak.
"Jisoo, bangun, Jis!" seru Nayeon.
Jisoo pun bangkit ke posisi duduk dan terheran-heran saat melihat Sehun, Jinyoung, dan Taeyong masing-masing memegang sesuatu di tangan mereka. Benda-benda yang cukup kuat untuk dipakai memukul.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
Taeyong menjawab tanpa melihat ke belakang. "Pintu kamar sebelah kebuka, dan Seulgi nggak ada di dalam."
Jisoo terkejut. "Kok bisa kebuka?"
"Gue juga nggak tau. Padahal kuncinya ada sama gue. Dan sekarang kita nggak tau Seulgi ada di mana. Makanya semua pada siaga. Bisa aja Seulgi mau balas dendam karena kita kurung dan nggak dikasih makan berhari-hari," jelas Taeyong.
Jisoo berdiri di samping Nayeon dan ikut panik.
Seperti biasa, setelah bangun mereka akan keluar untuk menyiapkan makanan. Jinyoung yang pertama kali keluar pagi itu dan menyadari bahwa kamar tempat mengurung Seulgi sudah tidak terkunci lagi. Ia kembali masuk ke kamar dan menguncinya. Dan di sinilah mereka sekarang. Panik tanpa tau apa yang direncanakan oleh Seulgi.
Mereka berdiri berdekatan selama beberapa saat. Jisoo kemudian tanpa sengaja melihat keluar jendela. Ia kira dirinya salah lihat. Tapi seperti ada sesuatu di dekat danau. Jisoo kemudian berbalik dan menajamkan pandangannya.
"Seul... Seulgi," gumamnya tak yakin. Namun akhirnya ia menyadari bahwa sesuatu yang tampak terdampar di tepi danau itu memanglah tubuh Seulgi.
"SEULGI!!!"
Semua orang berbalik karena teriakan Jisoo. Nayeon yang bediri di sebelahnya mengikuti arah pandangan Jisoo dan terkejut setengah mati.
Tanpa babibu Sehun langsung keluar dari kamar dan berlari secepat yang ia bisa ke arah danau. Jinyoung dan Taeyong juga mengikutinya. Mereka kemudian mendekati tubuh Seulgi yang sudah pucat seperti kapas. Bibirnya membiru. Sepertinya sudah semalaman tubuhnya berada di sini.
"Astaga, Seulgi," ratap Taeyong yang kemudian jatuh berlutut di sebelah tubuh Seulgi. Ia merasa sangat sangat menyesal sudah tak percaya dan menyiksa Seulgi selama beberapa hari. Dan tak menyangka bahwa Seulgi akan berakhir seperti ini.
"Kalo Seulgi juga mati, trus siapa yang bunuh Hwasa?" tanya Jinyoung frustasi. Ia menjambak pelan rambutnya.
"Yang pasti, orang yang ngebukain pintu kamar itu. Orang atau sesuatu," simpul Sehun yang membuat Jinyoung dan Taeyong ngeri.
"Udah cukup! Gue nggak tahan lagi. Kita harus balik ke Seoul hari ini juga!" Taeyong memberi ultimatum.
Seulgi kemudian dimakamkan seperti Eunwoo dan Hwasa. Jisoo dan Nayeon benar-benar syok. Mungkin saja Eunwoo memang mengalami kecelakaan. Tapi yang terjadi pada Hwasa dan Seulgi tampaknya seperti direncanakan. Kalau pun tidak direncanakan, berarti ada sesuatu yang mengintai dan meneror mereka semua.
Mereka setuju untuk pulang karena tidak ada yang bisa menjamin tidak akan ada lagi yang mati di antara mereka.
Setelah pemakaman Seulgi, semuanya bersiap dan berkemas. Mereka akan membawa barang secukupnya bersama mereka dan akan menghubungi mobil pengangkut barang untuk menjemput sisa barang yang lain setelah mereka mendapatkan sinyal.
Taeyong duduk di depan bersama Jinyoung. Sedangkan Sehun, Jisoo, dan Nayeon mengisi kursi tengah. Kursi belakang mereka pergunakan untuk barang-barang.
Jinyoung yang duduk di depan cukup khawatir karena Taeyong menyetir seperti orang kesetanan.
"Pelan-pelan aja, Tae. Bahaya entar kalo ngebut kayak gini," kata Jinyoung.
"Gue mau cepat-cepat keluar dari tempat terkutuk ini, Nyoung," balas Taeyong yang fokus pada setirnya.
Jinyoung pun diam dan mengeratkan seat belt-nya. Namun belum sempat mereka jalan terlalu jauh, seluruh ban mendadak bocor dan mobil yang melaju kencang menjadi oleng. Jisoo dan Nayeon berteriak dan Taeyong berusaha mengendalikan laju mobil yang tak terarah.
Tubuh mereka bertubrukan baik dengan sesama mereka dan juga dengan bagian di dalam mobil. Taeyong panik saat mobil menabrak batu lalu kemudian terguling. Kaca mobil berpecahan dan asap mulai keluar dari kap mesin. Mereka semua berada dalam posisi tergantung.
Perlahan Taeyong membuka seat belt-nya lalu terjatuh. Ia terbatuk-batuk dan memegangi lengannya yang terasa sakit. Ia kemudian keluar perlahan dari jendela mobil dan teriris pecahan kaca yang berserakan akibat tubrukan dengan aspal.
Jinyoung dan Sehun juga melakukan hal yang sama. Mereka berusaha keluar meski merasakan sakit yang luar biasa di beberapa bagian tubuh mereka. Jisoo dan Nayeon pingsan, mungkin karena syok.
Sehun membantu mengeluarkan Jisoo dan Jinyoung mengeluarkan Nayeon.
"Jisoo..." panggil Sehun seraya mengguncang pelan tubuhnya. Ia menyeka darah dari dahi Jisoo yang hampir mengenai matanya.
Nayeon yang lebih dahulu sadar. Karena ia duduk di antara Sehun dan Jisoo, maka tubuhnya tidak terbentur dengan kaca atau bagian dalam mobil. Sehingga ia tidak banyak mengalami luka ataupun memar.
"Ada apa?" tanya Nayeon pada Jinyoung dengan lemas.
"Sial! Siapa yang ngeletakin paku di sini?!" umpat Taeyong seraya melemparkan paku yang ia jumpai di tempat ban mobil mereka mendadak bocor. Ternyata bukan hanya satu, tapi ada banyak sekali paku yang ditaburkan di atas jalan tersebut.
"Perasaan waktu kita datang paku-paku itu nggak ada deh," kata Jinyoung.
"Emang nggak ada. Kan gue yang nyetir. Pasti udah kena dari awal kita datang," sambung Sehun.
Jisoo kemudian sadar dan Sehun membantunya untuk duduk. Ia terkejut mendapati darah di beberapa bagian tubuhnya.
"Berarti memang ada yang neror kita dari awal kita datang ke sini," simpul Taeyong.
"Kayaknya memang gitu," sahut Jisoo. "Gue ngerasa ada yang aneh pas sampe sini. Mungkin wisata danau ditutup bukan karena danaunya tercemar, tapi karena pernah ada kejadian di sini."
"Tapi sepupu gue nggak bilang apa-apa soal itu," kata Nayeon. Dia kemudian terisak. "Maaf, ya, semuanya. Gara-gara gue kita semua terjebak di sini."
Semuanya diam. Apa yang sudah terjadi tak guna disesali lagi. Sekarang yang harus mereka pikirkan adalah cara keluar dari sini.
"Kita nggak tau siapa yang bakalan mati berikutnya. Tapi kita masih bisa berjuang selama nyawa masih di badan."
Mereka mengiyakan perkataan Sehun.
Mereka tidak boleh menyerah. Mereka harus tetap berusaha untuk lepas dari teror mematikan ini.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Who's Next?
Misterio / SuspensoSatu grup karyawan mengambil cuti dan berlibur ke sebuah villa yang jauh dari pemukiman. Tidak ada tetangga, tidak ada sinyal, hanya ada mereka berdelapan. Liburan yang menyenangkan berubah menjadi horor saat satu persatu dari mereka mati secara mis...
