Sejak pengakuan bersejarah Abhi waktu itu, hubungannya dengan Nara menjadi jauh lebih dekat. Keduanya sering saling mengirimi kabar masing-masing dan tak jarang juga Abhi menelepon nya di malam hari hanya untuk bercerita mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting namun tetap ingin ia bagikan ke Nara. Kegiatan barunya itu telah menjadi candu yang tak beralasan. Sikap hangat Nara mampu mencairkan dinginnya hati Abhi sedikit demi sedikit. Hal lain yang selalu diingat Abhi saat mendengar nama 'Nara' adalah senyumannya. Begitu meneduhkan, nyaman sekali. Begitupun halnya dengan Nara, kehadiran Abhi saat ini cukup membuatnya bersyukur. Banyak sekali dampak positif yang ia dapatkan dari cowo berzodiak Taurus itu. Ternyata Abhi tidak 'sesupel' yang terlihat dari tampilan luarnya. Kalo di selami lebih dalam, Abhi justru jauh lebih bijaksana dan dewasa dari umurnya. Pemikirannya sangat terbuka namun ada batas teritori yang tidak boleh dilewati. Dia juga tipe cowo pendengar yang baik, menerima tanpa menghakimi, mengoreksi tanpa menggurui. Walau kadang, saat Nara bercerita tentang suatu hal, ia hanya diam mendengarkan tanpa respon apa-apa. Nara tetap suka. pikirnya, masa iya orang lagi cerita trus lawan bicaranya juga ikutan ngomong? ya kaan ??! hehe.
Sebenarnya, bukankah kadang hidup selucu itu? kita akan di pertemukan seseorang dengan cara dan di waktu yang sangat tidak diduga. Siapa yang akan menyangka, hanya berawal dari melihat di Tv, tapi langsung turunnya ke hati ?
"Loh, kok cuma lo sendiri yang kesini? Kana nya mana ?" tanya Nara bingung saat melihat hanya Abhi yang menyusul kekantin selepas jam kuliah berakhir. Mendengarnya, Abhi berhenti ditempat dan menatapnya kecewa.
"Jadi gasuka nih kalo gw yang kesini? yaudah gw langsung balik kerumah aja kalo gitu." Belum sempat Abhi berbalik, Nara dengan sigap menarik lengannya.
"Iiih bukan gitu, kamu mah sekarang ambekan ih. kesel." ucap Nara protes malu-malu. (bayangin aja muka zara kalo lg diisengin angga ya guys wkwk).
"Ya abis aku belom duduk loh, Ra. Udah langsung ada penolakan halus gitu. Orang mah di sambutnya pake senyum trus bilang 'Abhi capek ya, gimana kelasnya tadi? dosennya gimana ? laper ga?" cerocosnya seraya duduk di sebelah Nara memasang muka sok marah. Spontan Nara memukul lengan Abhi yang sedikit berotot sambil tertawa gemes.
"iiih.... udah ah Bhi. jelek tau ih mukanya kaya gitu. yaudah aku minta maaf yaaa utututuw.." ledek Nara yang kemudian menepuk-nepuk pipi Abhi dibarengi dengan senyuman khas Abhi yang lebar.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Hari ini tugas Abhi hanya mengantar Nara pulang. Kana tengah disibukkan kegiatan BEM yang sedang ia handle akhir-akhir ini. Merekapun jadi lebih punya banyak waktu berdua kesana kemari. Tak jarang mereka menghabiskan waktu dengan menonton film atau sekedar ngopi diluar kampus. Baik Nara maupun Abhi pada akhirnya jadi semakin mengenal satu sama lain.
Ketika diperjalanan, ada panggilan masuk di HP nya Abhi. Terlihat nama seorang perempuan yang muncul di layarnya. Nara hanya melirik dan memberi kode untuk Abhi mengangkat telepon tersebut. Terlihat raut muka Abhi yang enggan untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Bentar ya Ra... -Iya hallo? ----- kenapa ? ----- lagi dijalan balik kampus.------ Ga bisa hari ini, capek mau istirahat.----- yaudah yah lagi nyetir bye." Setelah menutup telepon yang tidak diharapkan, Abhi kembali fokus menyetir. Disampingnya, terlihat Cewe yang mendadak gundah gulana. Terlihat dari tingkahnya menggaruk-garuk pelan sisi jok mobil Abhi. Suasanapun mendadak jadi hening dan hanya terdengar lantunan lagu Kucinta Kau Dan Dia dari radio yang seakan menggambarkan keadaan mereka berdua saat ini. Spontan Nara langsung mematikan lagu tersebut dan tetap memandang lurus kedepan jalan. Abhi menoleh kearahnya dan tersenyum melihat apa yang baru saja perempuan mungil disampingnya itu lakukan. Nara memang selalu terlihat menggemaskan dimata Abhi.
"kok dimatiin sih Ra, kan enak lagunya.. maafkanlah karna aku cinta kau dan diaaaaa.." Ucap Abhi sengaja ingin membuat Nara semakin kesal.
"aku ga suka lagunya. gausah nyanyi juga, suara kamu ga bagus." jawabnya ketus. namun Abhi masih terkekeh melihat muka kesal Nara.
"masaa??"
"Hemmm"
"Tapi mama aku bilang suara aku bagus kok."
"Ya aku kan bukan mama kamu."
"Trus siapa??"
Nara terdiam sesaat ragu untuk menjawab, namun ia mencari jawaban paling aman, "Teman".
"Kalo aku maunya lebih, gimana?" tanya Abhi dengan senyum paling manis mengalahkan semua martabak manis yang ada diseluruh jakarta dan sekitarnya. serius manis banget emang. Ada sedikit tarikan senyum yang ditahan oleh Nara. Abhi memang selalu punya cara untuk membuatnya meleleh. Padahal bisa aja kan yang dimaksud Abhi lebih dari temen itu sahabat, atau asisten pribadinya, atau mungkin embak bersih-bersih dirumahnya yang bisa 24 jam ketemu terus. Tapi Nara ga peduli tuh. Idungnya udah terlanjur kembang kempis menahan gejolak cinta yang dengan barbar nya memenuhi seisi dada dan perutnya.
Sesampai didepan rumah Nara, Abhi masih mencium hawa-hawa Nara bete perihal Panggilan masuk yang tadi.
"Tadi yang nelfon itu Tyas, minta temenin nyari buku buat tugas kampusnya dia. Satu kampus juga sama kita, cuma beda jurusan aja. dikenalin sama si Ajil waktu itu pas jaman kita masih Maba. Sempet ga berhubungan lama karena dia masih ada urusan sama mantannya. Aku juga dari awal cuma anggep temen aja ga lebih. Jadi..... jangan bete lagi dong, nanti cantiknya hilang loh." Jelas Abhi yang berusaha meluruskan kesalahpahaman yang sedang Nara Pikirkan.
"iiiih siapa juga yang bete gara-gara itu. Kepedan luuu..."
"Oh jadi bukan gara-gara Tyas? Ah tau gitu tadi aku iyain aja nemenin dia hari ini. bentar deh aku telfon dia lagi..." Baru aja Abhi merogoh kantong celana, Lengan nya sudah menjadi sasaran empuk pukulan Nara berkali kali.
"Abhiiiiiiii ih sumpah ya kamu ngeselin banget !!! kesel kesel aku kesel sama kamu tau ga !!"
"Aaaa Aaaw Ra sakit tauu ih aku dipukul mulu daritadi" teriak Abhi berusaha untuk menghentikan pukulan tangan Nara yang imut-imut tapi pedes kaya cabe rawit.
"Biarin aja biar tau rasa bikin orang kesel mulu."
"ciyeee jadi ngaku nih tadi beneran kesel si Tyas nelfon?"
"Iyaaa emang aku kesel !! kenapa?? gaboleh? kan hati juga hati aku, jadi ya terserah akulah" Omel Nara menatap Abhi sinis. Tak berapa lama, bukannya ikut kesel, Abhi malah tersenyum dan menjulurkan tangannya menggenggam tangan kanan Nara.
"Iya itu emang hati kamu Ra. Tapi.... izinin aku buat perlahan masuk ikut ngejaga, boleh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Abhi Nara
Romansa"Aku juga sayang kamu, Abhi. Bahkan jauh sebelum kamu kenal aku.." Happy reading guys ! 💕
