Kekasihku Juru Bicara Hantu

155 15 0
                                    

Oneshot

Kekasihku Juru Bicara Hantu
Cast : Park Jimin x You
.
.
.

==========================

"Jangan duduk di sana sayang, kasian anak kecil itu, pasti kesakitan jika kau dudukki."

Aku hanya mampu bedecak kesal, tak mungkin aku terus-terusan mengomel karena hal ini.

Kekasihku; Park Jimin, memang istimewa. Tuhan memberinya kemampuan lebih, dia sangat peka dengan penghuni bumi lainnya, khususnya yang tak kasat mata.

Jika mendengar ceritaku, kalian jangan tertawa. Kekasihku; Park Jimin seseorang yang sudah cukup sukses dan mapan dalam kariernya, dia juga sangat manis, sexy, dan juga tampan. Tapi sayangnya ... dia selalu sial dalam hal percintaan.

Tak ada yang salah dengan Jimin, hanya saja ... ia terlihat sedikit aneh. Karena kadang  ber-propesi sebagai pengusir hantu,  atau bisa di bilang juga, sebagai juru bicara hantu. Bukankah di zaman modern seperti sekarang, itu terasa sedikit aneh.

Memang terdengar di luar nalar, tapi itulah yang terjadi padanya, selalu saja ada hantu-hantu yang datang untuk meminta pertolongan.

Menyampaikan pesan ke keluaraga, menunjukkan pelaku pembunuhan, merengek meminta tolong supaya pohonnya jangan di tebang, dan masih banyak lagi masalah-maslah hantu lainnya.

Kadang aku bergidik ngeri karena kemampuan yang Jimin miliki, jika aku sepertinya ...  kemungkinan besar, aku tak akan bisa hidup normal. Meskipun aku juga sama hal nya dengan Jmin, bisa meraskan akan keberadaan makhluk lain, tapi aku cuma merasa, bukan melihat atau pun mendengar mereka.

Tangan Jimin tiba-tiba begitu erat menggenggam tanganku, bersamaan dengan aura aneh yang aku rasakan.
Bulu kudukku mendadak berdiri, disertai  rasa berat yang perlahan menghampiri bagian belakang kepalaku.Tengkukku terasa berat dan juga dingin.

"Jangan menyentuhnya, dia kekasihku. Jauhkan tanganmu dari pundaknya!"

Aku melihat Jimin emosi, sorot matanya dengan tajam, menatap ruang hampa di sampingku.

"Ishhh dasar hantu genit, pacarku memang cantik, tapi dia tidak akan mau padamu. Hey bung sadarlah ... kau itu hantu!"

"Kenapa?" Aku kembali melirik ruang kosong di sampingku, sembari mempercepat langkahku.

"Tidak apa-apa sayang, hanya hantu usil yang mati karena patah hati, dan setelah menjadi hantu, dia selalu mengoda wanita-wanita cantik;  sepertimu," ujar Jimin menjelaskan.

Aku semakin merapatkan tubuhku, aku semakin takut, karena tiba-tiba tubuhku terasa dingin, aku yakin ada sosok lain lagi yang mengikuti di belakangku.

"Jimin Oppa, tengoklah ke belakang, dia siapa?"

"Tenang sayang, dia bukan makhluk jahat, dia hanya seorang ajhuma. Dia hanya ingin menyapaku, dan mengucapkan terima kasih, karena aku sudah mengingatkan keluarganya untuk memperingati hari kematiannya."

"Tapi dia tetap hantu, aku takut," rengekku.

sikapku embuat Jimin menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap wajahku.

"Sayangku, percayalah padaku. Hantu juga seperti manusia, ada hantu jahat, dan ada juga hantu baik. Kau harus tahu, aura yang aku miliki adalah, aura yang mampu menarik perhatian hantu-hantu baik. Hantu jahat malah sebaliknya, dia akan takut dengan aura yang aku miliki."

"Ne, kalau seperti itu aku tidak terlalu takut."

Aku juga meraskan tubuhku kembali ringan, aku yakin hantu-hantu yang tadi menghampiri kami sudah menjauh, dan tidak ada di sekitar kami.

"Aku bangga padamu, karena kekasih Park Jimin bukan seorang penakut. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."

Setelahnya, aku merasakan benda hangat nan kenyal mendarat di keningku. Aku seketika terpaku, merasakan keindahan yang hanya aku rasakan ketika aku bersama Jimin saja.

"Ya Tuhan, aku bahagia. Semoga cinta kami abadi selamanya. Aku ingin hanya aku saja satu-satunya wanita yang Jimin cintai di dalam hidupnya. Semoga kebahagiaan ini adalah awal dari kebahagian-kebahagiaan lainnya.
Ciuman sayangnya adalah yang terbaik bagiku, menentramkan pikiranku. Dan Jauh di lubuk hatiku ini adalah yang terindah."

-Jimin pov-

Ia terlihat membeku, pipinya seketika memerah. Ia mendadak seperti patung, benar-benar lucu. Matanya masih terpejam, menikmati rasa hangat akibat sentuhan bibirku di keningnya. Aku hanya mampu tertawa, karena sejak beberapa detik tadi bibirku tak lagi menempel di sana.

"Jangan terlalu menikmati, kajja kita pulang!" Aku berbisik di telinganya, membuat kedua mata gadisku itu terbelalak sempurna.

"Apa kau bilang, menikmati?" Dia terlihat kesal.

"Ne, kau sangat menikmatinya. Ciuman dariku bukankah yang terbaik?"

Aku menggodanya, membuat pipinya semakin memerah, dan aku sangat menyukainya.

"Kau menyebalkan!" Kekasihku terlihat mengumpat, sembari mencubit perutku.

"Appo." Aku sengaja berlari untuk menggodanya, lalu dia mengejar di belakangku. Melihatnya seperti ini aku benar-benar bahagia.

"Jimin Oppa, tunggu aku!" Ia terus mengejarku dengan langkah pendeknya, membuat aku memelankan gerak kakiku.
Suaranya semakin mendekat, dan..., "kena kau!" Ia terkikik kecil di belakangku, dia begitu senang sudah bisa mengejarku.

Kekasihku memeluk pinggangku dengan erat, membuat aku bisa mendengarkan sapuan hangat napasnya yang tak beraturan.

"Kau lelah?" Aku bertanya, sembari menengok ke belakang untuk melihat wajahnya. Sekilas aku bisa melihat keringatnya yang menetes di kening dan pipinya.

"Kau benar-benar lelah?" Aku kembali bertanya.

"Aniya, aku tidak lelah," jawabnya. Tanpa melepaskan tangannya dari pinggangku.

Lantas, aku tepiskan tangannya dari pinggangku dan aku merubah posisi tubuhku untuk berjongkok di depannya.

"Naiklah!"

"Kau akan menggendongku?" 

"Tentu saja, aku akan menggendongmu sampai rumah. Aku kan kekasih terhebat."

"Isshh dasar narsis."

Ia pun akhirnya  naik ke punggungku. Meskipun sedikit berat, aku tetap bahagia. Aku bisa merasakan hangat hembusan napasnya.

"Saranghae Jiminie, terima kasih sudah menjadi kekasihku, " ucapnya pelan. Namun ucapannya membuat hatiku bergejolak. Aku bahagia, bahwa saat ini ada seseorang yang mampu menerimaku, meskipun aku tahu, dia kadang terganggu.

Aku bersyukur setelah pencarianku selama ini, aku bertemu dengannya. Ia tetap bersikeras berada di sampingku, meskipun dia tahu siapa teman bermainku.

'Akulah Park Jimin; si juru bicara hantu."

Sebuah sebutan yang sangat lucu.

.
.
.

Cinta memang istimewa, sebuah rasa yang mampu menyatukan hal yang berbeda menjadi sesuatu yang istimewa. Membuat kekurangan menjadi kelebihan dan membuat kelebihan menjadi kekaguman.

Cinta mampu menerima, meskipun kadang banyak hal yang berada di luar nalar.

Cinta mampu menyatukan, meskipun banyak jurang untuk memisahkan.

Semestinya cinta ... saling memberi tanpa pamrih, dan mampu menerima dengan lapang dada.

Tak ada cinta yang tak indah, meskipun tak selamanya berakhir bahagia ataupun tetap bersama.

Hargai cinta, karena tidak semua orang mampu menjadi pelabuhan cinta.

Selalu hargai cinta, karena sangat jarang menemukan cinta.

Dan jangan salahkan cinta, jika takdir masih enggan menyatukan cinta.

Berterima kasihlah pada cinta. Karena hanya cinta yang mampu menepiskan ego manusia.

#Tamat

JIMIN || Oneshoot & SongficTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang