HUG

154 14 0
                                    


Tittle: HUG
Cast: Park Jimin x You
Genre: Romance
Author : YK

Happy reading... Semoga tak mengecewakan...
-------------------------------------------------------------------------------

Siapa yang bilang dinginnya udara ini tak lebih dingin dari hatimu? Kubilang itu bohong, karena dinginnya hatimu tak sebanding dengan dinginnya udara yang menusuk sampai ke tulangku saat ini. Ah, menyebalkan. Aku membenci diriku yang seperti ini saat dingin menyapaku. Rasanya seolah tertusuk beribu-ribu anak panah yang terbuat dari bongkahan es yang membeku. Seolah menusuk sampai ke dalam tulang-tulangku.

Jimin. Aku membutuhkannya sekarang. Entah kenapa bayangannya yang sekelebat muncul begitu saja dalam pikiranku. Jimin yang sebelumnya pernah memelukku, menenangkanku dalam rengkuhannya, tubuhnya yang hangat seolah menjadi penolong bagi diriku yang sedang sekarat karena hawa dingin yang menyergapku kala hujan turun.

Dan sekarang, aku benar-benar membutuhkannya. Kuambil ponselku, kutekan tombol panggilan pada nomornya.

"Jim, bisa-kah kau ke tem-patku seka-rang?" gumamku setelah dia menjawab panggilanku. Aku masih menggigil, mencoba menahan agar gigiku tak bergemeratuk, dan seolah tau apa yang terjadi padaku ia bilang akan segera ke sini.

Siapa lagi yang bisa menolongku selain dia, Park Jimin. Dia yang baru saja berubah status menjadi tunanganku itu yang akan selalu dengan sukarela menolongku walaupun aku tahu dia menolongku karena kasihan, mungkin. Orang tua kamilah yang membuat pertunangan ini. Kami memang sudah berteman sedari dulu, dan sepertinya hanya aku sendiri yang mencintainya. Dia bahkan semakin acuh setelah pertunangan ini.

.

Tak berselang lama, Jimin datang dan langsung menuju ke kamarku. Pandangannya masih sama, meneduhkan dan menenangkan. Netranya yang sedang menatapku lembut, sungguh indah, dan tenang. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang penuh itu selalu saja terlihat menggoda dan sexy. Ekspresinya tak terbaca. Bahkan dalam kegelapan kamarku yang sedikit pencahayaan ini, wajahnya sungguh terlihat tampan, teramat tampan malah. Ya Tuhan, sadarkan orang gila ini. Orang gila yang masih saja berpikiran mesum saat kesekaratan menghampirinya.

Jimin segera melepas jaketnya dan menuju ke atas kasurku, menyibak selimut tebalku, melepaskan jaket musim dinginku, dan segera merengkuhku dalam pelukannya, memelukku dengan sangat erat. Hangat tubuhnya seketika terasa, menghilangkan sedikit hawa dingin yang sedari tadi seakan mencoba membunuhku perlahan-lahan.

Aku mengucapkan terima kasih padanya. Dia tidak menjawabnya, namun hanya mengusap lembut puncak kepalaku, kueratkan pelukanku, tercium sekali aroma tubuhnya, aku menyukainya, aku menyukai semua yang ada pada dirinya, bahkan ketika dia seolah bersikap acuh padaku pun aku masih menyukainya, karena hanya dirinyalah yang bisa membuatku hangat di tengah dinginnya malam ini.

Kurasakan kantuk yang mulai menyergap, dan kesadaranku semakin beranjak pergi ke dunia mimpi. Sejenak terasa tangan jimin menarik kedua tanganku, ditelusupkan di balik kaosnya. Kulingkarkan kedua tanganku di balik punggungnya yang kekar, kurasakan kulit punggungnya yang terlampau hangat, malah seperti terasa panas sekarang. Dia semakin mengeratkan pelukannya, deru napasnya begitu terdengar nyata di telingaku dan seolah menggodaku.

"Kenapa suka sekali menggodaku, Jim?" Seolah kerasukan, aku melepas kaosnya, napasku memburu, kucengkeram punggungnya erat.

Kurasakan otot-otot dadanya yang atletis, aku mendongak, kudapati lehernya, terlihat begitu mempesona dan menggairahkan. Tunggu, apa yang kulakukan sekarang? Apa aku sudah hilang akal?

"Bukankah Noona memang sudah tak waras?" Jimin menimpali, tangannya memegang wajahku sekarang, mencoba menjauhkan tubuhnya.

Aku kembali memeluknya. "Tak bisakah seperti ini saja, Jim? Sampai pagi." Kubenamkan kepalaku di dadanya, aroma maskulin tubuhnya masih terasa memabukkan.

Jimin merengkuhku. "Segera pejamkan matamu dan tidurlah," lalu mendaratkan kecupan ringan di puncak kepalaku. "Selamat tidur."

Aku menurut, memejamkan mataku, merasakan hangat pelukannya. Tidur di dekapan Jimin dalam satu selimut adalah hal yang paling nyaman bagiku, dan doaku malam ini semoga esok tak cepat datang.
.
.
END
-------------------------------------------------------------------
Mohon reviewnya 😊 thaks a lot 💜

JIMIN || Oneshoot & SongficTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang