Mengingat saat hati yang tersakiti tak bisa utuh kembali, maka di saat itu pula sebuah rasa percaya akan hilang dipertanyakan, juga rasa ingin menyerah datang menghampiri dengan begitu teganya.
Sudah berulang kali diberi kesempatan, namun disia-sia...
Reina kembali terdiam, melupakan sejenak tugas fisikanya yang harus terkumpulkan esok. Ia memikirkan perkataan Fadli beberapa jam yang lalu.
Lalu berputar mengingat rentetan kata yang sejujurnya terkesan bertolak belakang. Reina tentu ingat dengan jelas, lelaki satu itu menyukainya juga.
Dan apa tadi? Salah sangka? Hei, Reina memang sedang mencoba membuka hatinya kembali, walaupun masih disertai dengan pilar-pilar yang telah rapuh, tapi dirinya yakin bahwa Fadli bisa saja bersedia menjadi pilar baru untuknya.
Kini, ia memandang bunga edelweiss pemberian lelaki itu, mencoba memahami alasan diberikannya bunga yang tak mudah kering itu.
Apakah Fadli mengorbankan perasaannya? Tapi mengapa? Apakah lelaki itu tak merasakan sakit?
Nyatanya tak begitu, diwaktu yang bersamaan, Fadli juga merenungkan keadaan hatinya sendiri. Gila, mengapa pula ia bisa merelakan Reina begitu saja?
Lalu waktu-waktu penantian ini akan terbuang begitu saja? Menghilang terbawa angin? Atau mungkin pergi bersama buih-buih di lautan?
Membayangkan hari-hari bahagia bersama perempuan itu rasanya pun ia tak memiliki hak. Sekali lagi ia bertanya, memangnya dia ini siapa?
Enggan terlelap meski telah bergelung dan mencari posisi nyaman berkali-kali adalah suatu hal yang belakangan ini terjadi pada Fathur.
Dadanya masih terhimpit nyeri, jantungnya seolah melambat, dan sorot matanya terkesan kosong.
Mencoba merutuki kesalahannya, namun berujung pada pusaran yang kini memenuhi otaknya.
Sebenarnya apa akar dari permasalahan yang terjadi? Mengapa rasanya semua terjadi karenanya?
Apa saja kegilaan yang sudah ia lakukan? Dan mengapa itu bisa terjadi? Sepertinya dirinya layak untuk dicap sebagai lelaki bodoh, karena memang akar dari semuanya, adalah dirinya sendiri.
Menatap sayu beberapa sticky note yang tertempel rapih pada dinding ranjangnya. Lalu tertawa sarkas, persis seperti orang gila.
Rasa bersalah kembali menghantamnya telak, kepalanya serasa akan meledak, dan hatinya sekali lagi tergores oleh dirinya sendiri.
Bukan hanya Fathur, Reina juga ikut merasa bersalah, pada Fadli. Fadli berhak bahagia, dia berhak mendapatkan siapa pun yang diinginkan, tapi bukan dirinya, -mungkin.
Ia sudah memikirkan semuanya, Fadli menyukainya, menantinya sekian lama, tersiksa dengan memendam segalanya sendiri, lalu dengan mudahnya pergi dengan kalimat yang begitu ambigu dari sisinya.
Meski tak dapat dipungkiri, Reina juga berkali-kali masih berharap akan adanya sebuah keajaiban.
Jujur saja, dirinya masih sering kali merindukan sosok Fathur yang dulu mengisi hari-harinya, alasan di balik senyumnya, sekaligus alasan di balik tangisnya.
Kedua lelaki itu tak pantas disetarakan, mereka benar-benar berbeda. Fathur yang pernah singgah di hatinya, dan Fadli yang menyimpan hati terhadapnya.
Yang mana yang harus dirinya pilih? Semuanya terasa begitu rumit. Padahal dirinya cukup memilih salah satu diantara mereka, lalu perlahan pergi meninggalkan siapa yang tertolak.
Terkesan kejam, namun itu yang terbaik. Dari pada menganggantungkan harapan pada Fadli, dan tersiksa oleh hatinya sendiri yang masih memeluk erat bayang-bayang Fathur.
Sebenarnya siapa yang tersimpan di hatinya saat ini? Apakah Fadli? Atau justru Fathur?
Reina berguling ke arah samping, mencari ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu yang sama ke pada dua lelaki tadi.
'Aku mau kita bicara.'
Dan respon yang didapat adalah? Tepat sekali, keduanya hanya membaca pesannya itu. Mengapa kesannya dia seperti wanita murahan yang memiliki banyak sekali selingkuhan?
Reina terduduk diam, masih memikirkan siapa yang berhak untuk duduk di tahta hatinya, menerima perhatiannya, dan tentu sanggup memegang erat kepercayaannya.
Meski otak secara rasional berkali-kali meneriakan nama Fadli, namun nyatanya nama Fathurlah yang masih terus terngiang-ngiang.
Sudah sedalam apa dirinya jatuh? Apakah benar dirinya tak akan bisa keluar?
Lagi-lagi, Reina kembali menangisi dirinya sendiri, bahkan otak dan hatinyapun tak sejalan, dia tak mungkin jika harus menggenggam kedua lelaki itu.
Salah satu dari keduanya harus dia lepas, lalu satunya lagi harus dia jaga, setidaknya dengan sebuah pelukan nan nyaman.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.