Aku melihat pantulan diriku di cermin. Gaun hitam yang membalut tubuhku. Mata sembab yang disebabkan air mata yang tidak dapat kuhentikan.
Anne telah pergi selamanya.
Hari ini adalah hari pemakamannya. Paman Aaron, adik ibuku, dan istrinya, Bibi Joan yang tinggal di New York akan datang ke pemakaman Anne.
Setelah bercermin, merapikan penampilanku, aku dan Ibu akhirnya pergi ke tempat pemakaman. Kulihat beberapa teman Ibuku hadir. Pemakaman Anne pun dimulai. Tak lama, peti Anne sudah terkubur di dalam tanah. Tamu-tamu pun bersalaman denganku sambil mengucapkan belasungkawa. Beberapa dari mereka berbincang-bincang dengan Ibuku.
Kulihat Ibu berusaha untuk tegar, padahal semalam aku mendengar tangisan ibu yang begitu menyakitkan. Bagaimana tidak, Anne dulu berada di tubuh yang sama dengan Ibu, namun sekarang Anne sudah berada di dunia yang berbeda dengan kita.
Lalu mataku tak sengaja menangkap bayangan Matthew di balik pohon. Aku pun segera menghampirinya.
"Kenapa kau disini?" tanyaku dengan nada ketus.
"Apa aku tidak boleh melihat pemakaman temanku sendiri?" balas Matthew.
"Dia bukan temanmu," ucapku. "Dia tidak pernah bilang ingin berteman denganmu. Kau hanya menganggunya saja setiap malam."
Matthew menunduk. "S-Soal itu...a-aku minta maaf."
"Kau seharusnya minta maaf kepada Anne. Tapi mungkin sudah terlambat."
Matthew kembali membuka mulutnya. "A-Ada hal pent─"
"Vanessa?"
Suara seorang gadis memotong ucapan Matthew. Aku menoleh ke arah suara. Aku melihat Clary sedang berdiri dengan balutan gaun hitam.
"Hai, Clary," sapaku.
"Kenapa kau sendirian di sini?" tanya Clary.
"Aku sedang...," aku sempat menoleh ke belakang namun Matthew sudah hilang. Cepat sekali hilangnya anak itu.
"Sedang apa?"
"Aku sedang ingin menangis saja. Kau tahu, aku sangat sedih ditinggal Anne." Aku berbohong.
Clary mengangguk. "Ya, aku tau rasanya."
"Sepertinya aku harus menghampiri Ibuku." Aku hendak pergi meninggalkan Clary.
Namun Clary berkata, "Ibumu tadi pergi bersama teman-temannya. Mungkin dia ingin menghibur dirinya. Bagaimana jika kau bermain di rumahku?"
Aku memikirkan tawaran itu untuk beberapa saat. Aku pun mengangguk. "Boleh." Lalu aku dan Clary pun berjalan menuju rumahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Curse
Ficção AdolescenteCerita tentang seorang Vanessa yang harus hidup di rumah barunya yang ternyata mempunyai sebuah kutukan.
