10 menit berlalu semua makan di dalam piring sudah ludes semua tanpa tersisa.
Shiren tersenyum senang dirinya dan dion baru selesai makan dan didalam perut penuh terisi. Tidak terkecuali bagi alex wajahnya menjadi kusam seakan kesal akan sesuatu.
Shiren melihat laki-laki di depan ya ini terheran. shiren menaikan salah salah satu alisnya. Ada apa dengan laki-laki ini. Kenapa alex berexpresi kesal. Apa dirinya berbuat salah.
"apa kak alex baik saja"
"Iya "
"Apa kakak yakin"
"Tentu saja"
Lagi-lagi alex menjawab dengan singkat. Membuat shiren sedikit kesal. Kalau alex baik-baik saja. Tidak mungkin expreasi kesal dan jawaban sesingkat itu.
"Aku tidak yakin kak alex baik-baik saja"ucap shiren.
Sedangkan alex terdiam tanpa membalas perkataan shiren.
"Sebelum tidur sebaiknya kamu minum susu milomu dulu sayang."ucap shiren kepada dion. Sambil menyerahkan 1 kotak susu milo. Tentu saja dion langsung menerima dan meminumnya.
Susu milo itu pesanan dari dion saat shiren keluar membeli makanan. Dion berkata pada shiren kalau Dion tidak bisa tidur kalau belum ada susu milo Akhirnya shiren membelinya. Untung saja rumah sakit ini dekat dengan mini market dan membelikannya 1 kota susu milo.
Tanpa menunggu waktu lama susu milo itu habis tandas tanpa tersisa.
"Makacih mommy"ucap dion sambil menyerahkan kembali 1 kota susu milo kosong kepada shiren dan shiren kembali menerima susu milo dan membuang ke tempat sampah.
Saat shiren ingin kembali ketempat dion. Shiren tidak sengaja melihat jam di dinding. Betapa terkejutnya shiren melihat jam berapa sekarang.
"Ohh astaga..aku harus pulang"ucap shiren panik saat melihat jam menunjukan pukul 21.30 waktu menunjukan hampir tinggi malam.
Shiren panik bukan tanpa alasan. Shiren panik karena dirinya harus mendapatkan bis terakhir. Karena melewati jam segitu tidak ada lagi bis yang beroperasi. Walaupun daerah sini ada taxi tapi shiren memikirkan biaya yang di keluarkan cukup mahal. Lebih baik dirinya naik angkutan umum biayanya lebih murah.
Shiren bergegas mengemasi barangnya dan tidak lupa mengenakan jaket tebal miliknya dengan terburu-buru.
Sedangakan ayah dan anak tiada lain alex dan dion terheran-heran mengapa shiren expersi panik begitu.
Setelah selesai berkemas. Shiren kembali menatap ke dua laki-laki berbeda umur ini. Shiren bersyukur akhirnya dion sudah bertemu keluarganya apalagi tidak takut meninggalkan dion karena dion sudah di jaga oleh daddynya.
"Kak alex aku rasa saatnya aku harus segera pulang"
Seketika alex menaikan salah satu alisnya.
"Pulang..tapi kenapa"
"Aku harus pulang dan mengejar bis terakhir kak..lagi pula besok aku harus sekolah kak"ucap shiren
Alex mengangguk mengerti dan langsung berdiri mengambil kunci mobil di mejas.
"Sebaiknya aku yang akan mengantarmu pulang..aku takut kamu kenapa-kenapa dijalan"
Shiren menaikkan salah satu alisnya terheran. Bukannya tadi alex sedang kesal. Kenapa seketika menghilang begitu saja. Kemana pergi expresi kesalnya alex itu berada.
"Ti-tidak usah kak.. aku bisa pulang sendiri..lagi pula aku tidak enak merepotkan kak alex.. apa lagi tidak ada yang jaga dion kalau kakak mengantarku pulang"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Duda Mafia
RomanceApakah ini di sebut keberuntungaan? aku menikah dengan duda beranak satu di umurku 17 tahun. Pria duda sangat posessive.
