"Ntar gue jelasin. Sekarang lo dimana? Gue ada di depan kosan lo, tapi kata anak-anak kos, lo lagi ke luar."
"Di pasar Jati Raya," sepasang bola mata Gemaya mengedar ke sekelilingnya, "depan penjual buah-buahan. Deketnya delman-delman yang lagi mangkal."
Nyaris tidak percaya, Jekson merasa mungkin saja Gemaya salah bicara. "Lo seriusan di Pasar? Tumben-tumbenan, Gem? Itu udah deket dari kosan lo, kalo gitu balik sendiri aja, ya."
"Gue nggak bisa balik sekarang..." Suara Gemaya terdengar hopeless.
"Lagi jadi Gembulan?" Tebakan Jekson tidak meleset. "Sy yang gue kasih, lo pake nggak?"
"OGAH NTAR GUE MAKIN NGEMBANG GARA-GARA KEPANASAN," sembur Gemaya dengan napas terengah-engah.
"Yaudah tunggu bentar, gue gasss ke sana." Jekson cepat memutus sambungan teleponnya lalu bergerak menuju tempat di mana mobilnya terpakir.
***
Jekson bilang, tadi dia lagi di depan kos Gemaya. Tapi setelah ditunggu beberapa menit di parkiran Pasar Jati Baru, cowok itu belum juga muncul.
"Apa dia naik mobil, ya? Pasti agak susah waktu mau ke luar gang."
Gemaya menggumam sendiri.
Bangunan bertingkat tiga yang dihuni Gemaya untuk tempat kosan, memang letaknya sangat dekat dengan Universitas Garuda.
Gang paling ramai, paling padat dan paling strategis dibanding daerah lainnya. Seringkali mobil-mobil yang lewat harus mengalah ketika pengendara motor memaksa untuk diberi jalan lebih dulu.
"Jek, lo kapan sih sampenya? Nyaris meleleh nih, gue." Gemaya yang masih di dalam postur Gembulan, tampak benar-benar kelelahan.
"Gue dikit lagi ke luar gang, tapi ada mobil mogok deket belokan."
Jekson mengeluh, melayangkan pukulan kecil ke kemudinya. Ia ingin cepat sampai, ingin cepat-cepat menemui Gemaya pula.
"Yaudah gue cari tempat yang ademan dulu sekalian mau makan," baru sedetik menutup mulut, Gemaya tersadar, "oh, iya. Nggak boleh makan dulu sebelum bener-bener laper."
"Kalo emang lo udah pengen makan -"
Tut..Tut..Tut.. "Halo? Gem?" Jekson menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu diamati layarnya. "Lah, kok ditutup sih?"
Apes dua kali. Oh, ralat. Sepertinya memang Gembulan ditakdirkan untuk bernasib sial. Kali ini baterai ponselnya habis.
"Gemaya!"
Suara itu memanggil dari sisi kanannya. Berseberangan dengan meja-meja penjual sayur yang masih menumpuk hingga menyebabkan tatapan kedua gadis itu sedikit terhalang.
Tubuh Gemaya membeku di tempat. Ia ingin berlari, namun sepasang kakinya seperti terkena lem perekat super.
Rose? Itu Rose, kan? Ya Tuhan, gue lupa kalo dia sering belanja bulanan di pasar.
"Gem! Woy! Itu lo, kan?"
Bukan hanya seruan itu yang terus mengekorinya, tapi suara jejak kaki milik Rose yang beradu juga turut membayanginya.
Untuk membawa badannya saja, Gemaya sudah cukup ngos-ngosan. Sekarang ia harus berlari dengan dua kantong plastik belanjaan di kanan kirinya.
Pacuan langkahnya tiba-tiba terhenti. Tatapan Gemaya tertunduk. Mengamati jaket Dewangga yang jatuh di belakangnya.
Haisssssh...
Jaket milik Dewangga yang tadi ia sampirkan di atas kantong plastik, terjun bebas ke aspal.
Mau balik badan, sungguh sangat tidak mungkin. Jalan mundur pelan-pelan, pasti tetap ketahuan.
Kalau tidak diambil? Tidak.. Gemaya tidak akan rela meninggalkan jaket milik Dewangga begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEMAYA (SUDAH TERBIT)
FantasyJADWAL UPDATE MINGGU Namanya Gemaya Gembulan, biasa dipanggil Gemaya. Punya tubuh semampai, dengan tinggi 170 cm dan berat badan 52 kilogram. Sebanyak apa pun ia makan, berat badannya tetap stabil. Terbukti dengan video-video mukbang yang sering d...
