PART 10 : MEKAR

6.9K 1.4K 263
                                        

Ada saat di mana kamu merasa kecil, tidak percaya diri dan berpikiran akan kalah sebelum berperang. Satu hal yang perlu kamu ingat, terkadang kejaiban datang di saat-saat yang tidak terduga.

***

Gemaya mengentak tak sabar menuju kelasnya di jam pertama ini. Mata kuliah Desain, yang akan terasa begitu panjang karena dijadwalkan 4sks.

"Sssst, udah dateng tuh."

Saat Gemaya memasuki kelas, seluruh pasang mata yang ada di sana seolah menelanjanginya. Menatapnya dari ujung rambut sampai kaki.

Yayaya, gue tahu kalo gue ini cantik juga langsing. Yah, sebelas dua belas sama model lah. Tapi nggak perlu disambut gini juga, dong?

"Coba lo tanya deh, bener atau nggak." Mufi menyikut lengan Rara yang berdiri bersebelahan dengannya.

Bola mata Gemaya berputar. Mengamati satu per satu teman serombelnya yang pagi ini tampak berbeda.

Ada yang janggal, dan sepertinya keanehan itu ada sangkut pautnya dengan dirinya.

"Kalian kenapa, sih?" tanya Gemaya kebingungan. "Oh, gue tahu. Pasti gegara hari ini gue keliatan makin cantik, kan?"

Tak satu pun dari mereka yang berani bertanya secara terang-terangan. Namun tatapan penuh arti di sekeliling gadis itu, tentu saja mengusik perasannya.

"Gue mewakili anak-anak satu rombel, mau tanya, nih." Akhirnya Desi melangkah maju sampai hanya berjarak berapa meter saja dari Gemaya.

Gemaya meletakkan tasnya di salah satu meja lalu duduk di kursi kosong yang paling dekat dengan Desi. Bukan cuma Desi saja sebenarnya, tapi hampir separuh dari teman serombelnya turut berkumpul di sekeliling gadis itu.

"Ini Jekson, kan?" tanya Desi to the point begitu Gemaya siap untuk diinterogasi.

Gemaya meneliti foto di layar ponsel Desi yang diarahkan ke hadapannya.

Mampus, gue! Gara-gara kemarin ketemu Rose di pasar, gue jadi lupa bahas soal foto ini sama Jekson.

"Iya, itu Jekson." Gemaya menjawab dengan santai, walau jantungnya serasa ingin melompat.

Di foto itu, Jekson tampak berbincang dengan sosok gadis bertubuh subur yang hanya terlihat bagian pundak sampai pinggangnya saja.

"Ini fotonya diambil di kosan lo, kan?" tanya Mufi memberanikan diri.

Gemaya termenung, tangannya terkepal. Ingin marah karena privasinya diusik, tapi ia sadar jika kini ia bukan lagi orang biasa yang bisa melakukan sesuatu semaunya.

Netizen ada di mana-mana, mengintainya, dan terkadang ia harus siap dikomentari atau bahkan dihujat.

"Hmm, iya bener itu di kamar kosan gue." Gemaya berusaha menahan diri untuk tidak merespon ketus. "Ada masalah?"

Lia yang sedari tadi hanya diam saja, mulai ikut penasaran. "Kalo ceweknya? Lo kenal?"

Dada Gemaya kembang kempis. Otaknya buntu. Masa ngaku kalo itu gue?

"Harusnya sih itu lo, selaku pemilik kamar. Tapi kok tampak belakang kayaknya bukan lo? Beda jauh lah, ya." Rara makin nyinyir.

"Ya jelas bukan Gemaya lah, dia kan ramping," tukas Ezra, salah satu bucin Gemaya yang serombel.

"Halaah, palingan itu temennya Gemaya." Kamal cari muka.

"Oh, atau jangan-jangan itu Rose? Dia jadian sama Jekson?" Belum-belum Nando sudah mengambil kesimpulan.

GEMAYA (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang