Kupikir awalnya dengan menjadi cantik, hidupku akan berjalan lebih mudah. Namun aku lupa satu hal. Sekali pun terlahir sempurna, tetap saja nantinya ada yang tidak menyukaiku, bahkan membenciku.
Karena itulah definisi hidup yang sebenarnya.
Berjuang dari tekanan orang-orang yang meragukanmu, berusaha menyingkirkanmu dan ingin membuatmu terhempas dari segala impian.
Jadi pilihannya cuma dua ; menyerah berarti kalah, atau tetap berjuang dan menerjang.
***
Mata kuliah Kewarganegaraan yang hanya berlangsung 2 SKS, seperti menyita waktu berjam-jam bagi Gemaya. Telinganya benar-benar lelah mendengarkan teori yang disampaikan Bu Farida. Masuk telinga kanan, ke luar telinga kiri.
Di kursi belakang paling pojok, Jekson bahkan mati-matian menahan kantuk dengan melakukan olahraga kecil di bawah meja. Kedua tangannya diputar-putar, diluruskan, lalu ditarik lagi. Sampai tanpa sadar ia mengangkat sebelah tangannya untuk diregangkan ke atas.
"Iya, Jekson?" Bu Farida tersenyum begitu mendapati tangan Jekson yang terangkat. Merasa ada sosok mahasiswa yang tertarik dengan materinya hari ini.
Jekson gelagapan. Tatapannya dilempar ke arah Gemaya yang duduk di seberangnya sembari menatapnya dengan pipi menggembung menahan tawa.
"Kamu mau tanya apa?" Bu Farida tampak tak sabar menunggu Jekson berbicara.
"Emmm itu, Bu. Anuuu..." Jekson menggaruk-garuk tengkuknya. Ditatap satu per satu teman serombelnya. "Mana yang lebih dulu, telur atau ayam, Bu?"
Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Jekson, seisi kelas kompak menyorakinya.
"Sudah, sudah..." Bu Farida mengetuk-ngetuk mejanya. Meminta anak didiknya kembali fokus. "Kalau kalian ngantuk atau mulai nggak konsen di dalam kelas, boleh kok ijin ke luar dulu buat cuci muka," ucap dosen gaul itu dengan gaya santainya.
"Daripada jatuhnya kayak Jekson barusan, malah jadi malu-maluin, kan?" sindirnya sembari memberi kode pada Jekson untuk ke depan kelas.
"Saya, Bu?" Jekson bertanya ragu-ragu.
Bu Farida mengangguk dua kali. Ia memang sosok dosen yang dikenal tegas, namun tidak berarti galak. Berbeda dengan dosen-dosen lainnya yang terkadang tak peduli mendapati anak didiknya mulai bosan di dalam kelas, beliau memiliki cara tersendiri untuk membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.
"Kamu dari prodi Olahraga, kan?" tanya Bu Farida begitu Jekson sampai di depan kelas.
Cowok itu mengangguk pelan, menanti eksekusi hukuman apa yang diberikan Bu Farida kepadanya.
"Sekarang ajak temen-temenmu senam, pemanasan, atau apalah namanya itu. Tugasmu sekarang buat mereka semua, termasuk kamu juga, nggak ngantuk sampe akhir jam kuliah saya nanti."
Suara riuh di kelas kewarganegaraan yang berisi gabungan dari banyak prodi itu, seketika membahana. Rata-rata didominasi oleh teriakan para mahasiswi Fakultas MIPA serta Ekonomi. Pemandangan yang jarang sekali ditemui ketika mereka berada di gedungnya sendiri.
"Roti sobek dengan kearifan lokal!" celetuk Ambar, mahasiswi dari Ekonomi Pembangunan.
"Kalo gini caranya, gue ikhlas-ikhlas aja dah Matkul kewarganegaraan jadi 5 SKS!" Neli yang setiap harinha hanya berkutat di laboratorium Fisika, merasa jika hari itu adalah hari keberuntungannya.
Baru saja Jekson membusungkan dada untuk menarik napas panjang, sorakan heboh dari teman-temannya menggema di penjuru kelas.
"Mampus lo, Jek. Malu sampe ke urat-urat dah, lo." Gemaya terkikik sembari menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEMAYA (SUDAH TERBIT)
FantasiJADWAL UPDATE MINGGU Namanya Gemaya Gembulan, biasa dipanggil Gemaya. Punya tubuh semampai, dengan tinggi 170 cm dan berat badan 52 kilogram. Sebanyak apa pun ia makan, berat badannya tetap stabil. Terbukti dengan video-video mukbang yang sering d...
