No edit. Sorry for typo 🙏
Jongdae menatap sendu gadis yang kini duduk termenung di meja makan. Bubur yang dibuatkan khusus untuknya hanya menjadi hiasan di sana. Saluna tidak menyentuhnya sama sekali. Hal tersebut membuat Jongdae semakin khawatir. Sedari malam, gadis itu selalu menolak untuk makan.
"Kau harus makan. Atau inginku antar pulang?"
Saluna menoleh sebentar, menggeleng lemah lalu tersenyum kemudian. Yang bisa diartikan, tidak ingin makan juga tidak ingin pulang. Gadis itu tetap bungkam.
"Setidaknya makan satu suap saja. Dari semalam kau belum makan apa pun."
"Jongdae, bagaimana jika Jaehyun mencariku? Bagaimana kalau dia menculikku? Dia ... kenapa dia begitu?" suara Saluna yang semula terdengar ketakutan berubah menjadi tercekat. Matanya berkaca-kaca.
Kondisi gadis bernama Saluna itu tidak stabil, dalam tidur pun dia masih merasakan takut. Bahkan, acap kali dia mengigaukan ketakutannya.
Pria berkaos hitam itu mendekat pada Saluna, membawanya ke dalam pelukannya.
"Tidak Saluna. Kau aman bersamaku. Dia tidak akan berani datang kemari." Jongdae mensejajarkan dirinya dengan Saluna yang tengah duduk. "Makan, ya? Aku siapi."
Saluna mengangguk. Jongdae tersenyum, setidaknya dia mau makan.
Disuapan ke lima, Saluna menolak untuk membuka mulutnya lagi. "Sudah kenyang."
Jongdae mengangguk lalu menyodorkan segelas air pada Saluna. Sudah tiga hari Saluna berada di kediaman Jongdae.
Ibu dan Cakrawala sudah tahu hal itu. Setelah tahu apa yang menimpa pada sang kakak, Cakrawala menaruh kepercayaan lebih pada Jongdae. Bahkan, dia sendiri yang mengantarkan keperluan yang dibutuhkan Saluna ke rumah Jongdae.
"Ganti bajumu dengan yang lebih hangat. Berjalan-jalan di taman sebentar, tidak masalah bukan?" ucap Jongdae.
Saluna menggeleng cepat. Ketakutannya akan
"Kenapa? Kau pergi bersamaku. Kau aman. Oke?"
•••
"Tidak apa-apa. Hanya saja kau tahu? Kau yang menderita sekarang. Kenapa kau melakukan hal itu? Apa untungnya bagimu? Dia bukannya menjadi lebih dekat denganmu, dia malah semakin jauh. Menjadi budak cinta boleh saja, bodoh dan brengsek yang tidak boleh," jawab Dal Chae saat Jaehyun bertanya kenapa dia menatap Jaehyun sangat tajam.
Penyesalan terbesar dalam hidup Jaehyun kini adalah bertemu Saluna malam itu. Malam di mana dia dikuasai oleh alkohol. Pria berkulit putih itu pun membenci dirinya sendiri.
Andai saja, dia bisa mengendalikan amarahnya, andai saja dia mau mendengar penjelasan Saluna malam itu. Andai dan andai yang kini terus berputar di kepala Jaehyun.
"Lantas aku harus bagaimana? Dia tidak mau bertemu denganku. Lebih sialnya lagi, dia menjadi semakin dekat dengan Jongdae," ucap Jaehyun frustasi.
Dal chae menyeruput kopinya sejenak lalu menatap Jaehyun lembut. Sebrengsek apa pun pria di hadapannya ini, dia tetap sahabatnya sendiri. Sengaja Dal Chae memilih kafe yang sedikit pengunjung. Karena dia tahu, sahabatnya ini akan sangat kacau siang ini.
"Ada apa denganmu? Bukankah tujuan awalmu ingin merelakan dia bersama Jongdae lagi jika dia sudah kembali? Kenapa sekarang kau seolah tidak mau dia kembali pada kekasihnya?"
Jaehyun memijat pelipisnya yang berdenyut. Jika diperhatikan lagi, tubuhnya juga semakin kurus dengan pipi yang terlihat tirus.
"Ini tidak mudah, Dal Chae. Di satu sisi, aku takut jika Jongdae akan menyakitinya lagi. Kau tahu bukan aku sangat mencintai Saluna?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Way Back Home
FanfictionPada akhirnya semua akan kembali menemukan jalan pulang pada sebuah tempat yang disebut - rumah. 🌱 start: March 2019 ©2019, orenjichen
