Kini Katrin berada pada posisi berboncengan di motor Edgar. Sedikit lega karena untungnya Edgar mau memberikannya tebengan pulang. Walaupun diselimuti hujan dan sesekali suara gonggongan anjing Edgar, Katrin tetap merasa terlindungi saat bersamanya.
"Gausah pegang bahu gue woi, gue bukan abang gojek", ucap Edgar ditengah angin malam yang kencang menyelimuti perjalanan mereka.
"Haahhh aaapaaa, gue gakk denger", sahut Katrin.
"Gak usah pegang bahu gue bego", ucap Edgar kembali dengan suara lebih keras.
"Haahhh", sahut Katrin kembali.
"Jangan pegang bahu guee, ngerti!?".
"Haaa iyaaa", ucap Katrin yang sebenarnya tak jelas mendengar perkataan Edgar tapi di iyakan saja supaya cepat. Tentu dia masih memegang bahu Edgar.
Edgar tiba-tiba memberhentikan motornya dengan nge-rem mendadak, yang sontak membuat Katrin terkejut dan refleks membuatnya mengalihkan tangan dari bahu Edgar menjadi peluk. Memeluk Edgar dari belakang.
Deg.
Apa ini.
"Kat. Lo bodoh banget", batinnya yang langsung melepas pelukannya dari Edgar.
"Bisa bawa motor gak sih lo!?", Ucap Katrin sambil menoyor kepala Edgar yang menggunakan helm dari belakang.
"Anjir, itu liat depan ada siput noh!", Sahut Edgar.
"Ya kalau ada siput terus hubungannya apa!?".
"Kasihan lah dilindes".
Edgar. Ternyata dia orang yang peduli dengan hewan? Termasuk hewan sekecil siput?
"Alah bilang aja lo modus, biar gue bisa peluk lo kan!?".
"Eh tutup mulut lo yang gas itu. Jadi cewek jangan GR! Siapa yang mau dipeluk sama lo! Lo nya aja modus sama gue!".
"Alasan aja lo! Dasar modus!".
"Gue turunin juga ya lo disini! Gak tau terimakasih banget jadi orang!".
"Ehh jangan dong, nolong orang gak boleh setengah-setengah kali".
"Makanya mulut gas lo itu diem aja goblok".
"Iyeee bacot".
Perjalanan selalu diwarnai dengan perdebatan. Setelah mengambil sisi jalan yang lain, agar tidak melindasi siput, mereka melanjutkan perjalanannya kembali.
"Ini belok mana", ucap Edgar yang kini didepannya terdapat dua arah belokan.
"Kiri, nanti pagar putih yang deket mobil pick up itu berhenti", jawab Katrin.
Edgar melanjutkan motornya untuk mengarah ke Kiri. Sesuai dengan perintah Katrin, ia memberhentikan motornya di depan pagar putih.
Katrin turun dari motor Edgar dan melepaskan mantel lalu memberikannya kepada Edgar.
"Oii ni jas hujan lo", ucap Katrin sambil menyodorkan jas hujannya.
"Nama gue bukan oii! Tapi Edgar Prasetya. Lo panggil Aja Edgar. Kalau mau panggil Edgar ganteng juga boleh", ucap Edgar dengan senyum miring.
Shit. Katrin membeku. Dia benar-benar salting dengan ucapan Edgar tadi. Tapi dia berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
"Gue gak nanya nama lo! Sok kegantengan lo!",Timpal Katrin.
"Gini cara lo berterimakasih sama orang wahai Catterina Clarissa Putri?!", Balas Edgar.
Shit.
Kenapa dia tau nama Katrin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teater in Love
Teen FictionSebelum mengakhiri masa SMA gue, gue pengen banget punya cowok. Plis, gue terakhir putus itu sama tali pusar gue. Ya bisa dibilang gue jomblo sejak embrio. Alias gak pernah pacaran. Tapi gue maunya sama ANAK TEATER. Terwujud gak ya?
